ADVERTISEMENT

Restorasi Album Bersejarah SID: 30 Tahun Nyaris Hilang, Selamat Berkat Kaset 15 Ribu di Pasar Loak

Restorasi Album Bersejarah SID: 30 Tahun Nyaris Hilang, Selamat Berkat Kaset 15 Ribu di Pasar Loak.MOJOK.CO

Setelah 30 tahun nyaris lenyap, album debut Superman Is Dead (SID) bertajuk Case 15 (1996) akhirnya dirilis ulang dalam format kaset dan piringan hitam. Proyek restorasi ini berhasil diwujudkan berkat penemuan kaset orisinal secara tidak sengaja di pasar loak seharga Rp15 ribu. 

***

Tiga dekade berlalu sejak direkam pada 1996, album debut grup musik punk rock asal Bali, SID, yang bertajuk Case 15 resmi dirilis ulang. 

Rilisan fisik berupa kaset pita dan piringan hitam (vinyl) ini akan diluncurkan ke publik pada Rabu (30/9/2026) besok.

Perilisan ulang ini merupakan hasil kolaborasi antara label Bojakrama Press, Dua Malam Records, dan ruang kreatif Buku Akik. Proyek restorasi ini tidak hanya memproduksi ulang fisik album, tetapi juga meluncurkan film dokumenter pendek berjudul Awakening The Past: 30 Years of Case 15.

Album SID yang lahir dari keterbatasan biaya

Jauh sebelum SID menjadi nama besar di industri musik Indonesia, Case 15 lahir dari semangat serba mandiri yang nekat dan penuh keterbatasan. Album perdana yang memuat 14 lagu tersebut digarap menggunakan dana dari hasil keuntungan manggung di Gedung Mario, Tabanan, Bali.

Dari konser lokal itu, tiga personel SID–Bobby Kool (vokal/gitar), Jerinx (drum), dan Eka Rock (bass)–mendapatkan sisa uang sebesar Rp1,7 juta. Dana yang pas-pasan itulah yang mereka pakai untuk menyewa studio rekaman selama dua hari atau setara dua shift.

Saat dijumpai di Buku Akik, Sleman, pada Sabtu (26/9/2026), Jerinx mengenang bahwa saat itu mereka harus berpacu dengan waktu untuk merekam lagu secara langsung.

“Rekamannya live. Itu adalah kali pertama kami merekam lagu di studio ‘beneran’. Sebelumnya cuman di kamar saya aja, dengan drum ditutup selimut dan langsung direkam direct di tape compo jadul. But that’s punk rock!” kata Jerinx.

Kasar dan mentah

Selain waktu yang sangat sempit, pemahaman teknis audio personel SID juga masih minim. Bobby Kool mengaku, saat masuk ke studio ia belum paham berbagai jenis pedal efek untuk gitar. 

Pengelola studio saat itu, mendiang Jimmy Silaa, juga baru pertama kali menangani rekaman band bergenre punk rock.

Tanpa referensi yang matang, mereka akhirnya memencet tombol efek apa saja yang ada di depan mata. Alhasil, suara gitar yang terekam sangat mentah dan cepat.

“Saya belum tahu mana distorsi, mana flanger, dan efek-efek lainnya. Baru belakangan saya sadar, bahwa saya memakai pedal flanger alih-alih distorsi saat rekaman itu. Jadi ya begitulah hasilnya, sebuah tinggalan sejarah untuk masa muda,” ungkap Bobby.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bojakrama Press (@bojakramapress)

Karena dicetak terbatas, album perdana SID cuma beredar di Bali

Keterbatasan nyatanya tidak berhenti di ruang rekaman. Saat dirilis pertama kali, Case 15 hanya dicetak terbatas sebanyak 400 keping kaset pita. Pemasarannya dilakukan dari tangan ke tangan. 

Salah satu titik distribusinya adalah toko kaset kecil milik Jerinx, Twice Tape Shop, yang berada di seberang Tugu Bom Bali.

Untuk mewujudkan 400 keping tersebut, Bobby bahkan harus terbang ke Jawa Timur membawa pita rekaman.

“Saya waktu itu yang bertugas buat duplikasi album ini. Saat itu cuman kami cetak sekitar 400 keping saja. Saya berangkat dari Bali ke Malang, dibantu personil band No Man’s Land & The Babies, buat duplikasi,” kenang Bobby.

“Makanya, kenapa album ini sulit didapat, karena peredarannya hanya di Bali saja.” 

Upaya menyelamatkan album bersejarah

Karena jumlahnya sangat sedikit dan beredar secara lokal, keberadaan fisik Case 15 perlahan lenyap ditelan waktu. Upaya penyelamatan arsip oleh Bojakrama Press ternyata harus memakan proses perburuan yang panjang.

Perwakilan Bojakrama Press, Reno Surya, menceritakan bahwa timnya awalnya mendapat arsip utama berformat DAT dari Kori, penyelenggara konser SID di Tabanan. 

Namun, pita master dari tahun 1996 itu ternyata sudah lapuk dan rontok saat akan dipindai. Penyelamatan sejarah ini akhirnya justru datang dari barang loak.

Kaset Case 15 original secara tidak sengaja ditemukan di pasar loak Jembatan Hitam, Jakarta, seharga Rp15.000 oleh jurnalis musik bernama Rio Tantomo.

“Hingga kemudian kami mendapatkan kaset original dari Rio Tantomo. Beliau meminjamkan koleksinya kepada kami untuk kemudian kami pindai, balancing, mixing ulang, dan mastering ulang agar audionya prima—setelah melalui beberapa kali percobaan,” jelas Reno.

Kini, album bersejarah yang nyaris dilupakan itu berhasil diselamatkan dari pasar loak dan kembali disapa oleh pendengar lintas generasi. Bagi para personel SID, kembalinya Case 15 adalah ruang refleksi bahwa selama 30 tahun berkarier, ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang mereka pelihara dengan bangga.

“Yang gak berubah dari SID: masih belum pernah konser perfect banget. Pasti ada aja yang salah, entah drumnya, lirik, atau gitarnya. Tapi sepertinya kami emang gak akan bisa sempurna, karena dari nama band pun filosofinya sudah seperti itu,” tutur Jerinx.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.