Musisi Aldi Murod resmi memperkenalkan proyek solo terbarunya yang diberi nama GVD. Menandai debutnya di kancah musik independen, GVD baru saja merilis single perdana bertajuk “VII” pada Minggu (23/8/2026).
Lagu ini menjadi langkah awal yang berani, menyajikan eksplorasi musik post-black yang dibalut dengan identitas visual kontras nan unik.
Nama GVD sendiri sejatinya bukan hal baru dalam perjalanan musikal Aldi. Proyek ini merupakan wujud nyata dari alter ego “Gerald von Disaster“, sebuah nama yang telah ia pupuk sejak era kejayaan platform MySpace.
Kini, nama tersebut dikerucutkan menjadi tiga huruf agar lebih ikonik dan mudah diingat.
Single “VII” didapuk menjadi karya pembuka dari rangkaian rilisannya. Ke depannya, GVD berencana melepas tiga single lanjutan yang secara berurutan diberi judul “I”, “III”, dan “IV”, sebelum akhirnya dirangkum secara utuh ke dalam format Extended Play (EP).
Mengadu ke Tuhan
Bagi Aldi, pemilihan angka tujuh sebagai judul bukanlah sekadar gimmick misterius layaknya band-band cult black metal lawas. Ada lapisan makna filosofis yang sengaja ia mainkan.
Angka tersebut melambangkan siklus dan hierarki; seperti tujuh hari dalam seminggu, tujuh lapis langit, hierarki tujuh tingkat neraka, hingga tujuh dosa besar.
Lebih dari sekadar simbol angka, dari segi lirik “VII” membedah narasi tentang keputusasaan dan rasa lelah yang teramat sangat.
Lagu ini bercerita tentang titik terendah seseorang yang sudah terlampau capek menghadapi kerasnya hidup dan hanya ingin “mengadu” kepada Tuhan.
“Lagu 7 tuh sebenernya tentang orang itu udah lelah sekali sampai cuma bisa ngadunya ke Yang Maha Kuasa. Dia gak minta solusi, dia gak minta apa-apa. Dia cuman mau ngadu aja. Ya Tuhan gitu loh, gue udah capek sama hidup ini,” ungkap Aldi Murod dalam keterangan tertulis yang diterima Mojok.

Karya GVD yang didedikasikan untuk melawan masalah mental
Lebih jauh, Aldi mendedikasikan lagu ini sebagai tribut bagi teman-teman dan keluarganya yang tengah berjuang melawan masalah kondisi mental dan beban hidup.
Proses penggarapan “VII” membuktikan dedikasi tinggi Aldi. Nyaris seluruh instrumen, mulai dari isian gitar, bas, synthesizer, hingga vokal bersih (clean vocal) yang untuk pertama kalinya ia coba, dieksekusi sendiri.
Untuk urusan ketukan drum, ia memercayakannya kepada Nicko Rahmat Prabowo (Divide, Rahasia Intelijen), yang secara bersamaan juga menangani proses mixing dan mastering.
Lagu yang direkam di Venom Studio ini menawarkan nuansa post-black dengan sentuhan shoegaze, sedikit bergeser dari akar musik cybergrind yang selama ini menemani perjalanan Aldi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.
Meski lirik dan musiknya sarat akan kekelaman, GVD tampil mencolok di skena post-black lokal lewat identitas visualnya. Alih-alih menggunakan palet warna gelap dan murung, Aldi mengusung estetika visual kei Jepang dengan riasan ala badut dan warna-warna cerah.
View this post on Instagram
Iklan
GVD membawa filosofi “depresif yang cerah”, menyiratkan pesan tajam bahwa seseorang yang terlihat tersenyum bahagia di luar, belum tentu memiliki hati yang terang di dalam.
Dirilis secara independen tanpa naungan label, GVD memegang teguh prinsip bahwa “keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan bahasa”. Kini, luapan emosi dan kepenatan hidup dalam “VII” sudah dapat didengarkan secara luas melalui berbagai platform streaming digital seperti Spotify dan YouTube Music.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Captain Jack: Antara Debu, Air Mata, dan Anthem Masa Muda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













