Tindak pencopetan di tengah keramaian konser musik bukan sekadar masalah kriminalitas individu. Ia adalah imbas dari persoalan ketimpangan yang jauh lebih mendalam. Sutradara Operasi Pesta Copet (2026), Edy Khemod, menyebut bahwa para pelaku kejahatan kecil di jalanan sejatinya adalah produk dari kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat miskin.
Menurutnya, ketidakmampuan negara dalam menyediakan lapangan kerja yang layak, ditambah janji-janji kesejahteraan yang terus menguap menjadi omong kosong, membuat kelompok marjinal kehilangan pilihan untuk bertahan hidup. Mereka terus tersingkirkan oleh sistem yang bias hingga akhirnya mengambil jalan pintas.
“Perilaku mencopet secara hukum dan moral jelas salah, itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya kepada Mojok, saat menghadiri acara “Media Gathering: Operasi Pesta Copet – Yogyakarta”, Selasa (25/8/2026).
“Namun, dalam konteks sosial yang lebih luas, mereka yang turun ke jalan menjadi copet sejatinya adalah korban dari sistem yang rusak. Selama negara tidak bisa menyelesaikan masalah dasar kesejahteraan, orang-orang seperti ini akan terus ada,” imbuhnya.
Copet budaya Indonesia?
Khemod melontarkan kritik yang lebih tajam dengan menyebut bahwa perilaku mencopet telah bertransformasi menjadi semacam cermin realitas politik di Indonesia.
Menurutnya, ada rasa frustrasi dan muak yang mendalam dari masyarakat kelas bawah ketika menyaksikan para pemangku kebijakan menilap uang rakyat tanpa konsekuensi hukum yang setimpal.
“Ketika orang kecil muak melihat penguasa menilap uang rakyat, timbul pemikiran bahwa jika pejabat saja bisa mengambil yang bukan haknya, mengapa rakyat kecil tidak bisa melakukan hal serupa?” tegas penggebuk drum Seringai ini.
Baginya, ini bentuk sindiran pahit atas realitas kita saat ini. Kalimat “nyopet itu budaya Indonesia”, pada akhirnya, muncul karena hal buruk ini dicontohkan langsung dari atas oleh para pejabat.

Kegelisahan atas kemiskinan struktural itulah yang kemudian divisualisasikan melalui film pertamanya. Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop nasional mulai 27 Agustus 2026.
Alih-alih sekadar menyajikan komedi aksi belaka, sinema karya Imajinari ini dirancang sedari awal sebagai medium kritik sosial yang membenturkan realitas kelas bawah dengan gemerlapnya hiburan kaum urban.
Diproduseri oleh Ernest Prakasa, Dipa Andika, Iqbaal Ramadhan, serta James Erlangga, film ini mengambil latar di tengah keriuhan festival musik tahunan terbesar di Indonesia, Pestapora.
Alur cerita berpusat pada tokoh Ijal (diperankan oleh Iqbaal Ramadhan) dan kelompok kawan-kawannya. Terdesak oleh impitan ekonomi yang kian menyudutkan, mereka secara nekat merancang skema pencopetan massal dan terorganisir.
Pengambilan gambar yang dilakukan secara live di tengah ribuan pengunjung acara aslinya memberikan atmosfer riil atas dinamika sosial dan ironi yang terjadi di lapangan.
Tak semua copet aslinya penjahat
Perspektif Khemod tentang kemiskinan struktural diamini secara penuh oleh Iqbaal Ramadhan. Untuk menyelami karakter Ijal secara mendalam, Iqbaal mempelajari psikologi dan latar belakang sosial para pelaku kejahatan jalanan.
Menurut Iqbaal, menjadi copet tidak langsung bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan trik kecepatan tangan. Keahlian teknis mencopet tidak akan berjalan tanpa adanya dorongan mental yang tebangun secara kuat, dan mental tersebut lahir dari kerasnya desakan ekonomi.
“Nyopet itu nggak cukup punya skill, tapi juga mental. Mental ini yang lahir biasanya karena keadaan, himpitan ekonomi salah satunya,” ujar Iqbaal di kesempatan yang sama.
Iqbaal menekankan bahwa karakter-karakter pencopet yang ditampilkan dalam film ini pada dasarnya bukanlah sosok penjahat. Mereka memiliki dunia sendiri, impian, dan kehidupan sosial sebagaimana manusia pada umumnya.
Namun, ketiadaan akses ekonomi membuat mereka terdesak ke sudut yang sangat sempit, di mana mencopet menjadi satu-satunya insting bertahan hidup yang mereka ketahui.
“Film ini sama sekali nggak dibikin buat memanusiakan kejahatan, atau mendiskreditkan kerugian yang dialami para korban pencopetan. Operasi Pesta Copet pengen ngajak penonton melihat masalah ini secara lebih jujur. Tentang konsekuensi sosial dari masalah lama yang sering diabaikan, yaitu masalah kesejahteraan,” kata Iqbaal menegaskan.
Ia juga menampik kekhawatiran dari sejumlah pihak bahwa film ini akan menjadi panduan atau menginspirasi penonton untuk meniru aksi kejahatan. Sebaliknya, narasi yang dibangun justru memberikan edukasi secara tidak langsung kepada masyarakat mengenai bagaimana modus operandi pencopetan di keramaian itu bekerja.
Menurut Iqbaal, dengan membedah cara kerja mereka, pengunjung konser diharapkan dapat lebih waspada, mengetahui celah-celah rawan, dan mampu menjaga barang bawaannya dengan lebih baik.
Kritik sosial dalam kemasan komedi
Meski mengusung isu sosial yang sangat berat dan cenderung sensitif, Operasi Pesta Copet tetap dikemas secara cerdik dalam genre komedi aksi. Tujuannya jelas, agar pesan-pesan tajam tersebut tetap membumi dan mudah dicerna oleh khalayak luas tanpa terasa seperti menceramahi penontonnya.
Produser Ernest Prakasa menilai bahwa pendekatan komedi merupakan salah satu wahana paling efektif dalam menyampaikan kritik sosial kepada masyarakat luas. Sebagai kreator yang lahir dan tumbuh subur dari industri komedi, Ernest memahami betul bahwa pesan yang bernada menggurui sering kali berisiko dijauhi oleh penonton.
Oleh karena itu, isu kemiskinan struktural dan kritik terhadap penyelenggaraan negara ini disusupkan secara apik ke dalam adegan-adegan humor serta berbagai situasi absurd yang dialami oleh para tokohnya di tengah padatnya festival musik.
“Melalui komedi, isu yang berat seperti kemiskinan struktural bisa disampaikan tanpa membuat penonton merasa didikte. Makanya, daripada bikin film berat yang justru bikin penonton susah menangkap maksudnya, film komedi malah menjadi solusi,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan