Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

S2 Teknik Fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM), Djoko di usia 68 tahun. (Sumber: UGM)

Namanya Djoko Slamet Pudjorahardjo (68), seorang Magister Teknik Fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Minatnya yang begitu besar terhadap teknologi akselerator atau pemercepat partikel mendorong dirinya untuk melanjutkan pendidikan sampai S2 di usianya yang tak lagi muda, sebab baginya, belajar adalah proses sepanjang hayat.

Berusaha ikuti perkembangan teknologi dengan cepat

“Karena bidang pekerjaan saya berkaitan dengan teknik fisika, maka saya memilih melanjutkan studi Magister Teknik Fisika,” tutur mahasiswa S2 UGM itu, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (22/5/2026).

Selama menjalani perkuliahan di UGM, Djoko, sapaan akrabnya mengaku sempat mengalami tantangan karena perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, terutama dalam sistem pembelajaran digital yang digunakan di lingkungan kampus.  

Tantangan selama studi di UGM adalah mahasiswa harus familiar dengan teknologi informasi yang digunakan di UGM, sehingga kadang saya merasa gagap teknologi alias gaptek bila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang rata-rata usianya lebih muda dari saya,” ujar Djoko. 

Menurutnya, beberapa mata kuliah bahkan mengharuskan mahasiswa menggunakan bahasa pemrograman dan berbagai aplikasi untuk menyelesaikan tugas akademik. Meski demikian, Djoko tetap berusaha beradaptasi dengan teman dan dosennya untuk mengikuti perkembangan teknologi demi menyelesaikan studinya dengan baik. 

“Mereka sangat menghormati mahasiswa senior. Kalau saya mengalami kesulitan, biasanya mereka dengan senang hati membantu,” ucapnya.

Lulus S2 UGM tepat waktu dengan IPK bagus

Meski mengalami tantangan dalam mempelajari teknologi, Djoko berhasil menyelesaikan studi S2 Teknik Fisika tepat waktu, yakni 1 tahun 11 bulan 29 hari. Lewat program Magister by Research (MBR) dari UGM, Djoko berhasil menyusun tesisnya berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30 MeV.

Bahkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang ia dapatkan nyaris sempurna, yakni 3,98. Ia pun akhirnya diwisuda pada 22-23 April 2026 di Grha Sabha Pramana. Lebih dari itu, gelar S2 sebenarnya adalah bonus bagi Djoko, sebab yang terpenting adalah ilmu yang didapatkan dari belajar di UGM.

Djoko wisuda. MOJOK.CO
Djoko berhasil wisuda dengan gelar S2 dan IPK 3,98. (Sumber: UGM)

Sebagai periset yang tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Akselerator Linier, Djoko ingin menerapkan ilmunya di bidang karier yang ia geluti, apalagi institusi tempat kerjanya juga mendukung langkah tersebut. 

“Saya termotivasi melanjutkan studi mengambil gelar magister di UGM karena saya berdomisili dan bekerja di Yogyakarta, kemudian ada kesempatan peningkatan kompetensi SDM dari tempat saya bekerja melalui program Degree by Research,” ujar Peneliti di Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), BRIN.

Gelar S2 UGM jadi hadiah istimewa jelang pensiun

Selain menjadi pencapaian akademik pribadi, kelulusan Djoko juga menjadi hadiah istimewa menjelang masa pensiunnya. 

“Kelulusan ini merupakan hadiah besar menjelang purna tugas saya. Ini juga menjadi bukti bahwa saya telah berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan institusi untuk kuliah lagi,” katanya.

Lewat semangatnya tersebut, Djoko berhasil membuktikan bahwa belajar seharusnya memang tidak dibatasi umur. Usia, kata dia, bukanlah penghalang untuk terus menuntut ilmu selama masih ada kemauan dan kemampuan untuk belajar. 

“Menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia, selama kita masih mampu melaksanakannya,” ujarnya.

“Di usia saya yang sudah tidak muda dan hampir purna tugas, saya terdorong untuk bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang ditentukan dan membuktikan bahwa saya masih bisa meningkatkan kompetensi melalui studi lanjutan,” lanjutnya.

Djoko pun berpesan kepada generasi muda dan para mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan, tak hanya UGM, agar selalu menjaga semangat belajar dan percaya pada kemampuan diri sendiri. 

“Studi harus dijalani dengan penuh semangat, bersungguh-sungguh, dan percaya diri bahwa kita bisa menyelesaikan program studi tepat waktu,” pesannya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kebahagiaan Semu Lulus UGM Setelah “Disiksa” 14 Semester, Cemas Jadi Pengangguran karena Usia Terlalu Tua di Lowongan Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version