ADVERTISEMENT

MagangHub di Tengah Pusaran Fresh Graduate yang Menganggur: Sistem Ruwet dan Bikin Makin Putus Asa

maganghub

Bagi fresh graduate, wisuda mestinya menjadi garis start. Setelah bertahun-tahun kuliah, ijazah sudah di tangan, CV sudah dibuat, tinggal mencari pekerjaan dan mulai mencicil kehidupan. Namun MagangHub tidak semudah itu diajak berkompromi.

***

Setidaknya bagi Della (23), mencari pekerjaan dibayangkan akan mudah karena dirinya sudah memiliki ijazah S1. Namun dunia kerja ternyata tidak sesederhana membuka portal lowongan, mengunggah CV, lalu menunggu panggilan.

Belakangan, ia mencoba mendaftar program MagangHub milik Kementerian Ketenagakerjaan. Bukannya mendapat jalan masuk ke dunia kerja, Della justru berhadapan dengan persoalan lain: sistem yang bermasalah.

“Cari kerja ternyata sesulit itu. Sudah punya ijazah S1 saja belum bisa nyicil ayem,” katanya.

Masalahnya, bukan cuma soal tidak diterima perusahaan. Bahkan sebelum sampai tahap itu, pelamar sudah harus berhadapan dengan portal pendaftaran yang bikin ruwet.

MagangHub dan drama website yang tidak mau diajak kerjasama

MagangHub merupakan platform yang digunakan pemerintah untuk menjalankan Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi. Pada 2026, pemerintah menargetkan 150.000 peserta dengan kuota 50.000 orang pada masing-masing gelombang.

Program ini memang dibuat untuk membantu fresh graduate memperoleh pengalaman kerja sebelum benar-benar masuk ke pasar kerja. Batch 2 tahun ini bahkan sedang membuka pendaftaran hingga 8 September 2026. Masalahnya, sejumlah pelamar justru menemukan pengalaman yang berbeda. 

Keluhan mengenai MagangHub muncul dalam berbagai unggahan media sosial. Ada yang mengaku laman sulit dibuka, halaman berhenti memuat, hingga muncul pesan error. Gangguan akses juga diberitakan terjadi ketika jumlah pengguna meningkat pada awal pendaftaran. Della mengalami persoalan serupa.

“Kadang bisa masuk, kadang nggak. Mau daftar malah muter-muter. Sudah dicoba lagi, error lagi, gitu terus sampai beberapa kali” ujarnya.

Bagi orang yang sedang mengejar lowongan dengan batas waktu pendaftaran, gangguan seperti ini bukan sekadar persoalan teknis. Satu kali gagal masuk bisa berarti kehilangan kesempatan melihat lowongan atau menyelesaikan pendaftaran.

Kemnaker sendiri dalam pusat bantuannya mencantumkan persoalan teknis MagangHub, termasuk pengguna yang terpental saat login dan kategori kendala sistem sibuk, error, atau overload.

MagangHub juga punya masalah bernama “tidak eligible”

Drama berikutnya muncul setelah berhasil masuk. Sebagian pelamar mendapati akun mereka berstatus tidak eligible meskipun merasa telah memenuhi persyaratan. Keluhan semacam ini bukan cerita yang hanya beredar di satu akun media sosial. Pada pendaftaran 2026, sejumlah calon peserta memang melaporkan status tidak eligible meskipun data kelulusan mereka sudah tercatat di PDDikti.

Masalahnya, sistem MagangHub tidak hanya membaca status kelulusan. Data peserta dipadankan dengan PDDikti, Dukcapil, BKN, dan SIAPKerja. Perbedaan NIK, nama, tanggal lahir, tanggal kelulusan, atau data pendidikan dapat membuat seseorang belum dinyatakan memenuhi syarat.

Artinya, sudah lulus kuliah belum tentu otomatis dianggap lulus oleh sistem. Della juga merasakan keruwetan yang sama ketika harus berhadapan dengan SIAPKerja.

“Rasanya sudah memenuhi syarat, tapi sistem juga yang menentukan kita memenuhi syarat atau tidak, jadi meskipun sudah lulus belum tentu sistem menyatakan sudah lulus,” katanya.

Di titik ini, persoalannya menjadi agak ironis. Fresh graduate diminta siap masuk dunia kerja, tetapi untuk masuk ke pintunya saja masih harus bernegosiasi dengan sistem.

Ketika perusahaan sudah memilih, pelamar masih harus menunggu dari Kemnaker

Persoalan lain muncul pada tahap seleksi. Ada pelamar yang melihat dirinya sudah diterima oleh perusahaan, tetapi status akhirnya belum tentu langsung menjadi peserta resmi MagangHub. Ini bukan sekadar rumor. Dalam mekanisme resmi MagangHub, perusahaan memang melakukan seleksi dan mengusulkan peserta. Setelah itu, Kemnaker melakukan penetapan. Peserta baru dianggap resmi mengikuti program ketika proses tersebut selesai.

Dengan kata lain, “diterima perusahaan” dan “resmi diterima program” bukan dua istilah yang selalu berarti sama. Situasi ini membuat pelamar berada dalam posisi serba menggantung. Mereka sudah berharap karena perusahaan memilihnya, tetapi masih harus menunggu validasi berikutnya.

Pada Batch 1, persoalan teknis bahkan sempat muncul dalam bentuk status lamaran yang tiba-tiba berubah menjadi “terbatalkan”. Sejumlah pelamar melaporkan lamaran yang sebelumnya berhasil dikirim berubah status pada waktu tertentu. Media juga mencatat adanya keluhan mengenai gangguan sistem selama periode pendaftaran.

Belum lagi pernah muncul laporan dashboard pengguna yang justru menampilkan profil orang lain. Persoalan ini tentu jauh lebih serius karena menyangkut kepercayaan terhadap sistem dan keamanan data pengguna.

MagangHub di tengah pusaran sarjana menganggur di Jogja

Masalah sistem menjadi terasa lebih serius karena penggunanya memang sedang membutuhkan pekerjaan. Data BPS DIY menunjukkan pada Februari 2025 terdapat 71,19 ribu orang menganggur dengan Tingkat Pengangguran Terbuka 3,18 persen. Dari angka tersebut, kelompok berpendidikan Diploma IV, S1, S2, dan S3 menyumbang 13,89 persen dari total pengangguran. Jika dikonversikan, jumlahnya sekitar 9,9 ribu orang.

Angka itu memang bukan berarti seluruhnya fresh graduate. Ini penting dicatat. Namun data tersebut menunjukkan bahwa ijazah perguruan tinggi tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari pengangguran. Della pun mulai memahami persoalan itu setelah benar-benar mencari kerja.

“Dulu mikirnya setelah lulus ya tinggal cari kerja. Ternyata nggak begitu,” katanya.

Ia tidak sedang meminta pekerjaan diberikan cuma-cuma. Ia hanya berharap proses mencari pekerjaan tidak ditambah dengan persoalan teknis yang seharusnya bisa diminimalkan. Sebab bagi seorang fresh graduate, ditolak perusahaan saja sudah cukup bikin kepala penuh. Jangan sampai sebelum ditolak manusia, mereka lebih dulu kalah oleh website.

Dan di situlah ironi MagangHub terasa: sebuah program yang dibuat untuk membantu fresh graduate masuk ke dunia kerja justru harus terlebih dahulu memastikan pintunya bisa dibuka dengan baik.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Rexa

BACA JUGA: Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version