Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

Mahasiswa KKN di desa

Ilustrasi - Mahasiswa KKN di desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Beberapa malam lalu, seorang kawan kos misuh-misuh menceritakan pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang baru ia lewati. Sasaran kekesalannya adalah ketua kelompoknya sendiri. Menurutnya, si ketua ini sangat pendiam dan kelewat pasif.

Kalau soal urusan program kerja, semua memang berjalan beres. Namun, di luar itu, si ketua bagai robot. Tidak ada obrolan hangat, apalagi bonding antaranggota. 

Ia hanya mau bicara intens kalau besok paginya ada pelaksanaan proker. Sisanya? Saling diam dan sibuk sendiri-sendiri di posko. 

Di mata kawan saya, sikap pasif ini merusak suasana. Ketua kelompok itu dianggap tidak berguna dalam menghidupkan dinamika tim, apalagi untuk membaur dengan warga desa.

Menjadi mahasiswa KKN yang pasif, terkadang adalah keputusan tepat buat membentengi diri

Keresahan macam ini sebenarnya jamak terjadi. Di media sosial Threads, saya menemukan curhatan serupa dari seorang mahasiswa KKN yang memilih irit bicara.

Ia mengaku susah berinteraksi, sehingga memilih bicara seperlunya saja jika ada sangkut pautnya dengan proker–persis kelakuan ketua kelompok kawan saya.

Alasannya cukup masuk akal. Di desa tempatnya mengabdi, pergaulan pemuda setempat menormalisasi begadang sampai pagi sambil mabuk-mabukan. Obrolan di pos ronda pun tidak produktif dan kerap menjurus mesum.

Merasa tidak sepaham, mahasiswa ini memilih mengurung diri di posko. Ia sadar betul risikonya: dicap sombong, tidak srawung, dan tidak peduli lingkungan sekitar. Namun, baginya, memilih pergaulan adalah hak mutlak.

Di kolom komentar, banyak netizen yang sepakat. Membentengi diri dengan menjadi pendiam kadang menjadi satu-satunya cara menjaga kewarasan. Lagipula, tidak semua orang punya energi yang besar untuk terus-terusan basa-basi di tongkrongan, apalagi yang toksik.

Tapi kalau nggak srawung, ya sama aja bohong

Namun, narasi “pendiam demi batasan diri” ini tidak sepenuhnya diterima. Banyak pihak yang langsung melempar argumen kontra. 

Namanya juga KKN, “Kuliah Kerja Nyata”. Mahasiswa diturunkan dari kampus untuk membaur dan bersinggungan langsung dengan masyarakat, bukan berdiam diri di kamar.

Menurut kubu ini, di kolom komentar yang sama, mengurung diri di posko adalah bentuk kegagalan bersosialisasi.

“Kalau memang ada perilaku pemuda desa yang keliru, seperti mabuk-mabukan, tugas mahasiswalah untuk masuk dan pelan-pelan membawa pengaruh baik,” begitu kira-kira narasinya.

Membiarkan kebiasaan buruk warga dengan alasan “menjaga batasan diri”, menurut kubu ini, sama saja membuat program KKN kehilangan esensinya.

Bagi mereka, menjadi mahasiswa pasif dan pendiam di desa orang sama halnya sekadar numpang makan dan tidur gratis.

Niat aktif dan kritis, malah dibilang “anak kota sok pintar”

Lantas, apakah menjadi proaktif, banyak bicara, dan menggebu-gebu membawa perubahan adalah jalan keluar yang tepat? Ternyata tidak juga.

Tanya saja pada Arif (24), mahasiswa salah satu PTN di Jogja yang baru merampungkan KKN-nya awal 2024 lalu. Arif datang ke desa dengan kepala penuh teori.

“Namanya juga mahasiswa,” katanya, saat bercerita kepada saya, Senin (20/7/2026) malam. Bersama kelompoknya, ia melihat masalah administrasi desa dan tata kelola UMKM yang berantakan, lalu membuat proker megah untuk merombak itu semua.

Namun, saat Arif mencoba bersuara dan memberi masukan panjang lebar di rapat balai desa, respons yang didapat jauh dari bayangan heroiknya. Warga hanya membalas dengan senyum sinis. Arif langsung dicap sebagai “anak kota sok pintar” yang mau mengajari orang tua. 

Niat hati ingin menerapkan ilmu kampus, ia malah dianggap tidak punya unggah-ungguh dan buta kearifan lokal. Warga terlihat memujinya di depan, tapi di belakang, mereka menganggap Arif anak kemarin sore yang sok tahu.

Terkadang, berusaha terlalu aktif saat KKN bisa jadi keputusan buruk

Hal itu terbukti saat kelompok Arif menggelar acara penyuluhan. Namanya penyuluhan, Arif dan kawan-kawannya mendominasi pembicaraan di depan warga. 

Acara memang berjalan lancar. Tapi setelah ditutup, banyak warga yang acuh dan terang-terangan menyepelekan acara tersebut. Bagi warga, kumpul-kumpul mendengarkan mahasiswa bicara teoretis itu cuma membuang waktu istirahat mereka sepulang dari sawah.

“Teman kelompok yang mendengar itu jelas sangat sakit hati lah,” katanya.

Pukulan paling telak menimpa Arif saat kelompoknya menggelar acara nonton bareng (nobar) bersama warga. Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, telinganya gatal mendengar warga desa membicarakan “legenda seribu candi Roro Jonggrang”, seolah itu fakta sejarah mutlak.

Arif pun gatal bicara. Ia mencoba “merasionalkan” narasi-narasi sejarah yang beredar di masyarakat dengan versi aslinya secara akademis. Ia menjelaskan bahwa cerita Roro Jonggrang itu cuma karangan fiksi, bukan sejarah.

Bukannya dicap cerdas, Arif malah langsung ditegur oleh lurah setempat tepat di depan mukanya. Ia dibilang sok tahu karena berani “mengusik” cerita turun-temurun yang sudah dipegang warga. 

Saat itu, Arif mengaku cuma terdiam, dengan hati yang begitu sakit.

Dari rentetan kejadian itu, Arif memetik satu kesimpulan pahit dari desa: berusaha terlalu aktif dan bersuara lantang saat KKN ternyata bisa jadi keputusan yang sangat buruk.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version