Setelah mendapat gelar sarjana di UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Muhammad Hakim masih ingin melanjutkan profesi badut sekaligus mengejar mimpinya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar hidup stabil tanpa meninggalkan passion.
***
Kepergian sang ayah pada tahun 2021 membuat Hakim harus memutar otak untuk membayar UKT di UIN SGD Bandung. Pemuda asal Cirebon ini mengaku sudah mencari berbagai cara tapi gagal.
Ia sempat membuka angkringan, tapi berjalan tidak lancar sehingga usahanya gulung tikar. Opsi lain pun ia coba, yakni menjadi driver ojek online. Namun, Hakim merasa penghasilannya masih tak sepadan dengan kerja keras yang harus ia keluarkan.
Selain mencoba cara lain dengan bekerja, Hakim juga mendaftar program beasiswa tapi gagal. Ia tak paham mengapa beasiswa tersebut ditolak tapi daripada berdiam diri, Hakim memilih mencari jalan alternatif dengan mengikuti komunitas badut atau Persatuan Badut Jawa Barat (PBJB).
Dari sanalah Hakim dapat mencukupi kebutuhan hidup termasuk membayar UKT hingga lulus sarjana di UIN SGD Bandung. Tak hanya itu, Hakim berujar ia mendapat keluarga baru yang selalu mendukung di setiap momen penting dalam hidupnya.
Gusar ingin lulus sarjana di UIN sampai kerja jadi badut
Keputusan Hakim untuk daftar sebagai anggota PBJB sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Dari dulu, Hakim merasa punya kemampuan menghibur orang. Bahkan sejak SD, dia sudah gabung dengan Bobodoran Sunda yakni grup lawak tradisional yang bertujuan mengundang gelak tawa penonton sekaligus kritik sosial.
Seiring berjalannya waktu, Hakim juga pernah mencoba open mic sebagai komika, tapi hobinya itu belum berbuah hasil. Sedangkan, kondisinya sudah mendesak untuk membayar UKT agar mendapat gelar Sarjana di UIN SGD Bandung. Dari sanalah Hakim terbersit ide sebagai badut yang sama-sama punya tujuan menghibur.
“Hakim awalnya cuma mau sewa kostum karakter lewat online. Ternyata si penyewa ini ketua dari PBJB. Nah dari situ, Hakim diajak buat gabung. Katanya biar kenal satu sama yang lain, bisa sharing-sharing juga,” kata Hakim kepada Mojok, Selasa (29/9/2026).
Tanpa ragu sedikit pun, Hakim akhirnya ikut komunitas PBJB. Siapa sangka, kehadirannya di grup WhatsApp mendapat respons baik dari para anggota, sehingga membuatnya mudah dalam beradaptasi.
“Banyak yang mengucapkan selamat datang, semoga betah, salam kenal, begitu-begitu,” kata Hakim.
Jujur saja, kalimat sederhana itu mampu membuat Hakim terharu meskipun banyak orang yang menganggapnya formalitas. Namun bagi Hakim, kata-kata positif dari anggota PBJB mampu memupuk semangatnya kembali setelah nyaris putus asa mencari biaya UKT agar lulus di UIN SGD Bandung.
Tetap kerja jadi badut sembari daftar CPNS
Pekerjaan sebagai badut pun Hakim jalani secara konsisten dari semester 3 hingga lulus pada Sabtu (12/9/2026) lalu. Meski sudah mendapat gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di UIN SGD Bandung, Hakim berkomitmen untuk tetap menjadi badut sembari mempersiapkan diri sebagai PNS.
Alasannya sederhana, ia ingin mencari pekerjaan yang lebih stabil tanpa harus meninggalkan profesi badut pesta yang telah membesarkan namanya hingga saat ini. Setidaknya dengan bekerja sebagai PNS, menurut dia, Hakim masih bisa mengatur waktunya.
“Waktu paling padat itu ada di Juni ketika acara pentas seni anak TK. Karena kan banyak yang memakai jasa badut di acara tersebut. Jadi Hakim manggung hampir 2 minggu mulai dari Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, sampai suaraku habis,” jelasnya.
Jika nantinya lolos seleksi CPNS, Hakim berencana mengambil pekerjaan badut hanya saat akhir pekan. Dengan begitu, ia memiliki pekerjaan utama yang pasti, sementara profesi badut menjadi penghasilan tambahan di masa depan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah sambil Kerja Jadi Badut usai Ayah Tiada dan Ditolak Beasiswa, Hakim Akhirnya Raih Sarjana di UIN Bandung atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.
