Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan beberapa kawan mahasiswa yang sedang antusias menunggu jadwal keberangkatan KKN ke salah satu desa. Mereka ini terlihat bersemangat.
Kepada saya, mereka bercerita sudah tidak sabar ingin membaur dengan warga desa, menginap di posko bersama teman-teman, dan menjalankan program kerja. Antusiasme itu, konon, dipengaruhi oleh deretan konten FYP TikTok.
Di layar ponsel mereka, KKN selalu terlihat “estetik”. Drama keseruan bareng kawan KKN, tertawa lepas bareng anak-anak, hingga momen perpisahan yang penuh tangis haru bersama warga desa.
Mendengar ekspektasi yang tinggi itu, saya hanya bisa memberikan peringatan kecil. “Hati-hati, KKN itu selalu ada dramanya. Tidak semua seindah konten TikTok,” kata saya.
Boleh-boleh saja membayangkan hal yang seru-seru, tetapi dari cerita banyak teman yang sudah melewati masa itu, KKN nyatanya sering kali justru membuat pesertanya stres.
Kekompakan semua mahasiswa KKN yang cuma ada di depan kamera
Peringatan saya itu rupanya sangat dirasakan oleh Pras (22). Baru saja menyelesaikan KKN tahun lalu, saat tren adu konten sedang ramai-ramainya, Pras menjadi saksi hidup betapa berbedanya kehidupan nyata dengan apa yang tampil di layar ponsel.
Jika orang luar melihat akun media sosial kelompoknya, mereka pasti mengira kelompok itu sangat solid. Semua konten yang diunggah terlihat rukun.
Ada video mereka memasak bersama dengan penuh canda, rapat program kerja yang terlihat serius, sampai video jalan-jalan menyusuri desa.
Kenyataannya, kekompakan itu hanya adegan yang diatur demi media sosial. Pras bercerita, untuk merekam satu video singkat saja, teman-temannya harus mengatur posisi. Ada yang disuruh berpura-pura mencatat, pura-pura mengaduk masakan, dan berakting seolah sedang berdiskusi.
‘Tapi pas kamera mati, nggak ada akrab-akrabnya. Paling satu dua orang aja yang ngobrol. Yang lain udah sibuk sendiri-sendiri,” kisahnya, Selasa (4/8/2026).
Teman KKN minim inisiatif, bikin makin capek
Sikap mementingkan diri sendiri yang ditutupi oleh konten bagus itu perlahan menjadi masalah nyata di posko. Pras mengaku lelah bukan karena dituntut menjalankan program kerja. Ia lelah karena kebersamaan palsu itu berdampak langsung pada keseharian mereka.
Lantaran aslinya tidak kompak, sama sekali tidak ada kerja sama untuk urusan sehari-hari.
Dari hal paling sederhana saja, urusan menjaga kebersihan posko. Menurut Pras, tidak ada yang bergerak menyapu lantai posko yang mulai kotor, atau membuang sampah yang menumpuk.
“Harus ada yang nyuruh dulu baru gerak. Itu pun kayak ogah-ogahan,” ujarnya.
Bahkan, untuk urusan mencuci piring bekas makan sendiri pun, mereka harus ditegur berulang kali. Banyak anggota yang asyik bersantai menunggu satu atau dua orang yang terpaksa membereskan posko.
“Saya sampai berpikir, mereka ini kan rata-rata anak rantau yang tinggal di tempat kos. Di sana apa iya gaya hidupnya sejorok dan semalas ini? Kok bisa mereka santai saja melihat tempat tinggalnya berantakan?” keluh Pras.
Bagi Pras, tinggal di posko ini sangat menguras emosi. Setelah lelah seharian mengurus program kerja di desa, ia harus pulang ke posko hanya untuk menghadapi teman-temannya yang malas saling membantu.
Gesekan dengan warga desa
Jika Pras stres karena urusan teman sekelompok, masalah yang jauh lebih berat diceritakan oleh Dayat (28). Mengingat kembali masa KKN-nya pada tahun 2018, Dayat menceritakan bahwa masalah KKN yang sesungguhnya justru terjadi di luar posko.
Gesekan dengan warga desa adalah sumber stres utamanya.
Media sosial sering menampilkan bahwa warga desa selalu lugu, ramah, dan akan menyambut mahasiswa dengan tangan terbuka. Padahal kenyataannya, sering terjadi “benturan” dengan mahasiswa.
Kata Dayat, mahasiswa dari kota kerap datang membawa ide-ide bagus, tapi dengan pendekatan yang keliru. Merasa berpendidikan tinggi, mahasiswa sering kali tanpa sadar bersikap sok tahu saat mencoba mengatur kegiatan warga.
“Pernah kejadian di kelompok tetangga beda desa. Mereka menyinggung pemuda Karang Taruna dan tetua desa karena sembarangan membuat aturan serta acara,” ungkapnya.
Menurut Dayat, ada kecenderungan bahwa “mentang-mentang dari kota, berpendidikan, apalagi dari kampus top, mahasiswa beranggapan warga akan otomatis patuh”.
Ketidakmampuan mahasiswa meredam gengsi dan membaca tata krama lokal ini akhirnya menjadi bumerang. Mereka lupa bahwa masyarakat desa memiliki kebiasaan dan harga diri yang tidak bisa diremehkan oleh anak-anak muda pendatang.
Berakhir jadi “bulan-bulanan” warga
Menurut Dayat, ketika warga desa sudah merasa tersinggung oleh tingkah laku mahasiswa, hukuman yang diberikan bukanlah amarah yang meledak-ledak. Hukuman yang dijatuhkan lebih halus, tapi menyiksa secara mental.
Warga yang pada minggu pertama tampak sangat ramah, mendadak berubah menjadi sangat pasif dan dingin. Alhasil, puncak masalahnya terjadi saat program kerja mulai dijalankan. Ketika mahasiswa KKN mengadakan acara, warga sangat sedikit yang datang.
Anak-anak KKN itu dibiarkan kebingungan dan terasing. Mereka beraktivitas layaknya orang asing di desa. Tidak ada komunikasi, apalagi bantuan tenaga dari warga desa.
Situasi tidak nyaman ini terus berlangsung hingga hari kepulangan mahasiswa tiba.
“Boro-boro ada tangis haru perpisahan seperti di video TikTok. Saat mereka pulang, warga kayaknya malah bersyukur deh karena rombongan mahasiswa sok tahu itu akhirnya pergi dari desa mereka,” tutup Dayat.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
