ADVERTISEMENT

Pakai Jasa Tesis dengan Biaya Orang Tua demi Gengsi Gelar S2, Ujungnya Karier Tetap Nggak ke Mana-mana

Pakai jasa joki tesis demi gengsi gelar S2, lulus kuliah ternyata karier tidak ke mana-mana MOJOK.CO

Setelah mengeluarkan uang untuk bayar joki tesis, gelar S2 yang dikejar ternyata belum begitu ampuh untuk mengerek karier. Tetap tidak ke mana-mana, gaji juga segitu-gitu saja. 

Rofi (27), bukan nama asli, selalu menggeliat malas tiap alarm hp-nya berbunyi di jam setengah 6 pagi. Tidak langsung mengambil handuk dan mandi, ia akan meraih sebungkus rokok, menyulut sebatang, lalu melamun di teras kosannya di wilayah Surabaya Selatan. 

Ritual itu selalu ia lakukan setiap pagi, sebelum memacu motor menuju tempat kerjanya pada jam 7. Sesekali sembari membaca berita-berita di media massa, yang kerap kali membuat pikirannya semakin sumpek. 

“Bagaimana nggak sumpek. Selain berita tentang pidato seorang presiden yang memuakkan, pagi-pagi aku ditampar fakta jutaan pengangguran terdidik, dari S1, S2, hingga S3,” ungkap Rofi memulai cerita, Jumat (4/9/2026). 

Rofi punya gelar S2. Ia memang bukan pengangguran. Namun, ia menyadari, in this economy, betapa gelar yang selama ini ia kejar dengan penuh gengsi tersebut—sampai harus pakai joki tesis—ternyata tidak begitu ampuh untuk membawa kariernya melaju lebih jauh. Malah terkesan stagnan. 

Gengsi gelar S2, iming-imingi orang tua dengan karier di atas angin

Saat banyak teman seangkatannya cukup dengan gelar Sarjana alias lulus S1 langsung bekerja, Rofi tidak demikian. Kepada orang tuanya ia penuh percaya diri meminta sokongan dana (sekali lagi). 

“Aku nggak mau ribet dengan administrasi beasiswa. Jadi ambil reguler saja. Biayanya ya minta orang tua,” ungkap Rofi. 

“Aku bilang ke orang tuaku kalau sekarang ijazah S1 sudah nggak ada harganya. Minimal S2 kalau mau dapat pekerjaan dan gaji layak. Minimal dosen atau ASN lah kalau nggak ke birokrat pemerintah,” sambungnya. 

Orang tua Rofi tidak banyak bertanya. Karena sejak S1 mereka memang cenderung mendukung urusan pendidikan sang anak. Maka, setelah lulus S1 dari sebuah PTN di Surabaya, Rofi pun melanjutkan S2 di PTN yang sama. 

Di angkatan Rofi, tidak banyak yang melanjutkan S2. Hanya satu-dua saja. Hal itu membuat Rofi merasa di atas angin. 

Apalagi, setiap sesekali nongkrong dengan teman-teman seangkatan S1 yang saat ini struggle dengan pekerjaan masing-masing, di lubuk hati terdalam ia merasa bersyukur telah memutuskan melanjutkan kuliah S2. 

Pakai joki tesis karena ingin segera dapat kerja enak

Apakah Rofi menikmati masa-masa S2-nya? Ternyata tidak. Sebab, mayoritas teman kelasnya kuliah sambil kerja. Sehingga setelah mata kuliah, mereka pasti akan langsung kembali ke kesibukan masing-masing. 

“Di satu sisi itu membuatku agak malu karena aku belum kerja. Bahkan banyak mahasiswa perempuan yang juga sambil ngajar. Sementara aku ya, kuliah pulang-kuliah pulang,” kata Rofi. Ia merasa tidak punya teman nongkrong dan berdiskusi sebagaimana masa-masa S1 dulu. 

Tapi memang, lanjut Rofi, kebanyakan mahasiswa sekelasnya itu mengejar gelar S2 untuk menopang karier. Bedanya, mereka sudah mulai berkarier, sementara Rofi belum ngapa-ngapain. Sebab, ia percaya, setelah resmi menyandang S2 nanti, pasti akan lebih mudah mencari pekerjaan yang langsung di posisi strategis. 

Karena tujuan kuliah S2 bukan murni untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, mengerjakan tesis pun menjadi bagian yang Rofi hadapi dengan ogah-ogahan. Ia mengakui ingin serba instan. 

Maka dari itu, ia memutuskan untuk menggunakan jasa joki tesis meskipun harus membayar mahal. Toh ternyata beberapa teman sekelasnya juga menggunakan cara itu. 

“Kalau mereka alasannya lebih karena nggak ada waktu buat mengerjakan sendiri. Kalau aku, murni pengin cepat lulus terus dapat kerjaan, jadi pakai jasa joki tesis,” kata Rofi. 

“Berapa ya, Rp5 jutaan lah kayaknya. Aku pakai jasa joki tesis dari kenalan teman sekelas, katanya itu sudah paling murah,” sambungnya. 

Karier tidak ke mana-mana, tidak bikin orang tua bangga

Menggunakan jasa joki tidak serta merta membuat proses tesis berjalan lancar. Tetap melewati revisi beberapa kali. Sampai akhirnya lulus juga menyandang gelar S2 pada 2024 lalu. 

“Waktu unggah foto wisuda, ya semakin merasa di atas angin karena teman-teman S1 dulu yang komentar itu kayak memandang pencapaianku prestisius,” ujar Rofi. 

Hanya saja, meski sudah effort pakai jasa joki tesis, gelar S2 yang Rofi sandang ternyata tidak ampuh-ampuh amat untuk mendapat pekerjaan enak yang ia impikan. Daftar ASN ia gagal. Daftar pekerjaan dengan kualifikasi S1 ia tidak lolos. 

Dengan gelar S2 tersebut, Rofi justru “hanya” mampu tembus sebagai tenaga pendidik honorer di sebuah kampus swasta tidak begitu terkenal di Surabaya. Itulah rutinitas yang kini harus Rofi hadapi setiap hari dengan ogah-ogahan. 

“Sejak 2024 sampai sekarang, karierku nggak ke mana-mana, sambil terus coba applay di banyak perusahaan,” terang Rofi. “Kalau soal gaji, ya nggak sumbut lah dengan biaya yang sudah dikeluarkan orang tuaku.” 

Orang tua Rofi memang tidak secara terang-terangan mengatakan “kecewa” atas karier dan gaji yang Rofi jalani. Hanya saja, dari raut wajah mereka, Rofi menduga kalau orang tuanya tidak memiliki kebanggaan. Terlihat misalnya ketika kumpul keluarga dan ditanya soal dunia perdosenan, bapak Rofi pasti menjawab: Halah, ya masih dosen biasa, ya udah lah buat batu loncatan aja. 

“Jadi ya aku cuma menang berlabel “dosen”, tapi kalau tahu gajinya ya kayak memprihatinkan,” ucap Rofi. 

Banyak lulusan S2 yang kariernya memang nggak ke mana-mana

Kadang Rofi berpikir apa yang ia alami adalah karma: lulus tidak berkah karena pakai jasa joki tesis. Akan tetapi, selain laporan data “pengangguran terdidik”, ia sendiri mendapati beberapa teman S2-nya yang memang kariernya tidak ke mana-mana. 

Kalau dulu jadi guru SMP/SMA, sampai sekarang pun masih di situ-situ saja, tidak beranjak ke karier yang lebih oke. Masih sebatas pengajar mata pelajaran. 

“Beberapa ada yang memutuskan buat bangun bisnis kecil-kecilan. Kalau toh ada yang kerja kantoran, ya gajinya nggak jauh berbeda dengan Sarjana, toh posisinya memang sama,” beber Rofi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 5 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version