Tepis mitos kuliah daring minim pergaulan, mahasiswa UT ternyata memiliki banyak kesempatan nyata untuk membangun relasi hingga luar negeri.
***
Setelah lulus dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jogja dua tahun lalu, Dian (26) sebenarnya sudah berada di posisi yang cukup aman dengan pekerjaan tetapnya. Namun, ia merasa ijazah sarjana dari kampus lamanya belum cukup ampuh untuk mendongkrak jenjang karier.
Berhenti bekerja tentu bukan pilihan. Ketika keinginan untuk melanjutkan pendidikan muncul, Dian mulai mencari kampus yang bisa mengakomodasi keduanya. Pilihannya mengarah ke Universitas Terbuka (UT), tempat ia berencana mengambil gelar sarjana kedua
“Karena aku merasa ijazahku yang lama kurang disukai pasar. Kayak nggak fleksibel buat masuk industri lain,” keluh perempuan yang kini bekerja sebagai customer service di salah satu startup tersebut, Selasa (18/8/2026).
Niat untuk upgrade diri itu sudah bulat, tetapi tertahan oleh satu keraguan. Dian dihantui ketakutan akan berakhir menjadi mahasiswa “kupu-kupu” alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Atau, dalam konteks UT: login-tugas-logout, tanpa membangun relasi apa pun.
Reputasi UT yang selama ini lekat dengan sistem perkuliahan daring membuat Dian khawatir ia hanya akan berhadapan dengan layar laptop selama beberapa tahun ke depan. Di matanya, kuliah daring identik dengan kehilangan kesempatan berjejaring, absen dari dinamika organisasi, dan terisolasi dari pergaulan kampus pada umumnya.
“Takut dapat ijazah doang, tapi nggak ada relasi,” ucapnya getir.
UT itu Setara UI dan UGM, kok
Kekhawatiran yang dialami Dian jelas bukan kasus tunggal. Banyak calon mahasiswa baru UT yang dipayungi persepsi serupa. Mereka memandang ketiadaan gedung kelas dan minimnya tatap muka sebagai tembok penghalang untuk membangun relasi, baik secara profesional maupun akademik.
Padahal, stigma bahwa mahasiswa UT terasing dari gemerlap dinamika kampus reguler adalah sebuah narasi usang. Kenyataannya, UT kini memiliki infrastruktur jejaring, kucuran pendanaan, hingga program pengembangan diri yang beroperasi sama masifnya dengan kampus-kampus konvensional.

Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT, Dr. Heriani, secara tegas membantah kekhawatiran soal hilangnya kesempatan networking bagi mahasiswa baru.
Secara status kelembagaan, UT saat ini berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Ini adalah kasta tertinggi perguruan tinggi negeri yang posisinya sepenuhnya setara dengan kampus-kampus top Tanah Air, seperti Universitas Indonesia (UI) maupun Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kesetaraan status tersebut berbanding lurus dengan kelengkapan fasilitas kemahasiswaannya.
“Jangan khawatir,” tegas Dr. Heriani saat dihubungi Mojok, Rabu (19/8/2026) malam. “Kita itu punya banyak sekali program untuk mahasiswa baru, dan tentunya tidak jauh berbeda dari PTN-PTN reguler pada umumnya,” imbuhnya, menepis mitos lama yang menganggap UT hanya berfokus pada kuliah fully online.
Dari mentoring bisnis hingga konversi SKS
Di tingkat nasional, LPPM UT secara aktif mengeksekusi sistem open call proposal penelitian dan pengabdian yang terbuka bagi seluruh mahasiswa. Salah satu program strategis yang menjadi primadona adalah Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kewirausahaan.
Menurut Dr. Heriani, tahun ini saja tercatat ada 124 mahasiswa yang berhasil lolos seleksi. Mereka tidak sekadar disuntik dana segar untuk mengembangkan bisnis di sektor makanan-minuman, fesyen, kriya, hingga jasa.
Lebih dari itu, para mahasiswa tersebut juga mendapatkan pendampingan intensif dari pakar di bidangnya dan diproyeksikan untuk tampil di berbagai ajang pameran tingkat kementerian.
Menariknya, capaian kewirausahaan ini diintegrasikan langsung dengan program Pembelajaran Luar Prodi (Peluru), sebuah sistem canggih yang mengadopsi konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Melalui program ini, keringat mahasiswa merintis bisnis dapat dikonversi menjadi pembebasan beban Satuan Kredit Semester (SKS) akademis.
“Keuntungannya kan menjadi double. Selain dapat pendanaan dan dapat mentoring, mahasiswa juga dapat pembebasan mata kuliah,” jelas Dr. Heriani.
Meski begitu, ia memberi catatan bahwa konversi SKS ini tidak diberikan secara cuma-cuma. Ia tetap mengacu pada kriteria kelayakan khusus dan seleksi akademik yang ketat.
Jejaring internasional yang terbuka luas
Jangkauan jejaring mahasiswa UT ternyata tidak berhenti di skala lokal. Tahun ini, LPPM UT menorehkan sejarah baru dengan memenangkan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan, khusus untuk program student exchange atau pertukaran pelajar.
Menurut Dr. Heriani, lewat program perdana ini, sebanyak 25 mahasiswa diberangkatkan ke luar negeri selama satu bulan penuh. Rinciannya, 21 mahasiswa mendarat di Universitas Selangor, Malaysia, sementara 4 mahasiswa lainnya dikirim ke Pangasinan State University, Filipina.
Agenda internasionalisasi dengan jangkauan wilayah ASEAN hingga Eropa ini sejatinya secara rutin diadakan hampir setiap semester oleh International Office UT.
Tidak hanya mengirim delegasi ke luar negeri, UT juga mengambil peran sebagai tuan rumah International Summer Camp. Program bergengsi ini mempertemukan 20 mahasiswa asing dengan 10 mahasiswa UT Yogyakarta yang berhasil lolos seleksi ketat.
Mereka tinggal bersama di asrama, mempelajari kearifan budaya lokal seperti bermain angklung, unjuk gigi dalam perayaan Dies Natalis UT, dan melanjutkan rangkaian eksplorasi kegiatan di Yogyakarta pada keesokan harinya.
Semua fasilitas eksklusif ini terbuka lebar bagi siapa saja melalui tahapan seleksi transparan, yang mencakup penilaian Curriculum Vitae (CV), penulisan esai, hingga sesi wawancara.
Syarat khusus bagi mahasiswa UT yang pekerja
Dr. Heriani juga menepis anggapan miring bahwa mahasiswa yang sudah memiliki pekerjaan (seperti Dian) akan dianaktirikan atau memiliki keterbatasan akses dibandingkan mahasiswa reguler.
“Kita kan enggak ada namanya ‘kelas karyawan’ di UT. Jadi, perlakuannya sama semua. Mau yang fresh graduate belum bekerja, ataupun yang sudah bekerja, semuanya sama,” tuturnya.
Namun, memang ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh pendaftar dari kalangan pekerja. Mereka wajib menyertakan surat izin resmi dari tempat kerja atau instansi saat mendaftar program internasional.
Aturan tersebut ditegakkan semata-mata demi memastikan komitmen mahasiswa agar jadwal kelulusan seleksi tidak berbenturan dengan kewajiban di kantor.
“Takutnya, teman-teman ini sudah diloloskan ternyata malah tidak jadi berangkat (karena urusan pekerjaan). Kasihan, kan, teman-teman lain yang tidak lolos dan kehilangan kesempatan itu,” tegas Dr. Heriani.
Namun, Dr. Heriani menegaskan, di balik deretan fasilitas menggiurkan tersebut, satu roh utama dari sistem pendidikan di Universitas Terbuka yang tak boleh dilupakan adalah soal “kemandirian penuh”.
Peluang beasiswa, pertukaran pelajar, hingga pendanaan bisnis memang tersedia sangat luas. Namun, semua privilese itu tidak akan pernah datang menghampiri mahasiswa yang pasif.
Setiap individu dituntut untuk bergerak proaktif memantau pergerakan informasi, mulai dari website resmi, Instagram UT Pusat dan Daerah, hingga aktif berjejaring di grup WhatsApp koordinasi kemahasiswaan.
“Kekhawatiran-kekhawatiran teman-teman (calon mahasiswa) itu Insyaallah bisa teratasi. Jadi asalkan teman-teman pegang kunci utamanya: kuliah di UT itu belajar mandiri. Yang terpenting adalah aktif mencari informasi,” pungkas Dr. Heriani.
Jadi, kalau ketakutan Dian adalah kuliah di UT bakal membuat hidupnya cuma berputar antara login, tugas, dan logout, jawabannya: bisa saja, kalau ia memilih pasif. Namun, kalau mau sedikit rajin mencari informasi, peluang membangun bisnis, ikut kegiatan mahasiswa, sampai networking ke luar negeri ternyata tersedia.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan