Jika ditanya dosa apa yang pernah dilakukan dan kemudian selalu terngiang, dengan lesu dan lirih Deni (23) menjawab: Momen saat menyalahgunakan beasiswa KIP Kuliah yang ia terima ketika masa menjadi mahasiswa.
Sejak masa kuliah hingga sekarang, penyalahgunaan beasiswa KIP Kuliah selalu menjadi isu yang tidak henti-henti diresahkan.
Setidaknya ada dua sisi penyalahgunaan yang dimaksud. Satu, beasiswa KIP Kuliah yang tidak tepat sasaran: Justru diterima oleh orang yang sebenarnya mampu secara ekonomi. Alhasil, beasiswa tersebut tidak digunakan secara semestinya—untuk menunjang kebutuhan perkuliahan—tapi digunakan untuk perilaku hedon.
Sisi nomor dua, sebenarnya beasiswa KIP Kuliah sudah diterima oleh orang yang secara ekonomi memang layak menerima. Akan tetapi, si mahasiswa penerima justru menggunakannya untuk memenuhi gaya hidup elite dengan beragam alasan. Umumnya, sebagai bentuk balas dendam karena selama ini tidak bisa mengakses banyak hal karena masalah keuangan.
Nah, Deni mengaku melakukan sesuatu yang lebih parah dari sekadar menggunakan uang beasiswa KIP Kuliah untuk gaya hidup elite. Ia mengaku, selama kuliah, ia telah menipu orang tuanya.
Daftar beasiswa KIP Kuliah karena FOMO
Sepintas terdengar aneh. Tapi memang Deni mengaku mendaftar sebagai calon mahasiswa baru penerima beasiswa KIP Kuliah tahun 2021. Saat itu, beberapa teman SMA-nya di Jawa Timur direkomendasikan untuk mendaftar beasiswa tersebut karena memang berangkat dari keluarga tidak mampu.
“Kalau aku berkecukupan lah. Orang tuaku pedagang. Aku nggak tahu pasti penghasilan pasti mereka berapa, cuma memang kalau di sekolah dulu, kalau nulis “penghasilan orang tua” di form, selalu kutulis Rp1 jutaan,” beber Deni, Minggu (17/5/2026)
Beasiswa KIP Kuliah tersebut jelas menarik bagi Deni karena membuka kesempatan kuliah secara gratis. Akhirnya ia menyiapkan sejumlah berkas yang diperlukan, meskipun ada beberapa berkas yang tidak sesuai realitas.
“Misalnya, rumahku kan nggak ada tempelan “Keluarga Kurang Mampu”. Aku akhirnya minta ibuku buat ngurusin di kelurahan. Ibuku awalnya gimana gitu kan, tapi ya kuminta aja bilang ke petugas kelurahan kalau niatnya buat kuliah. Ternyata dapat beneran,” jelas Deni.
Sejumlah data juga tidak dimasukkan Deni. Misalnya, di rumah ada dua motor, tapi ia hanya tulis satu. Dan seterusnya.
Tahu bulanan KIP Kuliah Rp750 ribu bakal tak cukup buat gaya hidup
“Kabar baik” bagi Deni, upaya FOMO tersebut ternyata membuatnya benar-benar punya kesempatan kuliah gratis di sebuah kampus negeri pilihannya di Jawa Timur. Ia diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah.
Tapi saat itu, ada “bisikan-bisikan” dalam diri Deni yang menahannya untuk tidak memberi tahu orang tuanya terlebih dulu. Ia ingin memastikan beberapa hal kepada gurunya.
Di antara hal yang pertama-tama ia tanyakan pada gurunya dan kakak kelas yang sudah lebih dulu kuliah waktu itu adalah: Model pencairan dan besaran uang bulanan yang bakal diterima mahasiswa KIP Kuliah.
“Kemungkinan paling rendah kan menerima uang saku Rp750 ribu perbulan, di samping UKT yang sudah otomatis terbayar. Aku tanya lah ke kakak kelas, hidup Rp750 ribu di sebuah kota metropolitan di Jawa Timur cukup nggak?,” kata Deni.
Jawaban kakak kelasnya: Bisa cukup, bisa tidak. Bisa cukup kalau memang hidup berhemat—orientasi hanya pada kebutuhan primer. Bisa tidak cukup kalau memang ada pengeluaran untuk hal-hal sekunder bahkan tersier.
Akhirnya Deni memilih mengaku kepada orang tuanya: Diterima kuliah di sebuah kampus negeri di Jawa Timur, tapi tidak untuk KIP Kuliah-nya.
“Ya sudah nggak apa-apa. Selama bapak-ibu masih punya rezeki, insyaallah bisa (membiayai UKT dan uang bulanan),” begitu kata sang ibu waktu itu.
Bohongi orang tua demi uang saku dobel karena gaya mahasiswa kota
Apa yang dipikirkan Deni?
Jika ia memilih berbohong soal beasiswa KIP Kuliah, maka ia berpotensi tetap mendapat uang saku dari orang tuanya. Dengan begitu, ia punya uang saku dobel: dari orang tua sekaligus dari beasiswa KIP Kuliah.
“Sejak semester 1 sampai lulus, begitu itu hidupku. Jadi kiriman bulanan orang tua kan kadang Rp1 juta, kadang Rp800 ribu, kadang juga Rp1,2 juta. Itu dengan catatan sebenarnya, kalau habis sebelum sebulan, bilang aja ke orang tua. Tapi ya aku batasi nggak minta lagi karena masih ada KIP. Uang dari orang tua buat urusan kayak kos dan makan sehari-hari,” ujar Deni. “Jatah UKT juga masih minta, walaupun masuknya ke kantong pribadi karena kan UKT-nya sudah terbayar dari KIP.”
“Buat jaga-jaga juga kalau pencairan beasiswa KIP Kuliah telat. Karena akhirnya aku tahu ternyata pencairannya ada telat-telatnya juga. Kalau di kampusku begitu. Telat seminggu atau lebih sedikit biasa,” kata Deni.
Saat teman-temannya sesama mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah bingung menunggu pencairan yang telat, Deni merasa tidak relate karena kantongnya aman dari kiriman orang tua.
Adapun uang dari beasiswa KIP Kuliah ia gunakan untuk memenuhi gaya hidup. Ia mengaku bisa gonta-ganti HP selama kuliah tidak lain ya karena dari beasiswa KIP Kuliah. Sepatu punya lebih dari dua jenis, tas dari brand outdoor seharga mahal, kebiasaan ngopa-ngopi di coffee shop yang tidak terkontrol, dan segala bentuk hedonisme lainnya.
“Jelas ada yang curiga lah. Sering, dengan bercanda, ada teman berseloroh: ‘Kamu aslinya orang kaya ya. Masa mahasiswa KIP Kuliah uangnya nggak habis-habis’,” beber Deni.
Jawaban Deni: Ya jelas tidak habis-habis, wong sumber dananya dua.
Jawaban Deni itu sebenarnya membuat sejumlah teman bereaksi geram. Mengingatkan bahwa apa yang Deni lakukan itu keliru karena membohongi orang tua.
“Tapi waktu itu aku nggak merasa berdosa karena, ya kan memang tanggung jawab orang tua buat ngasih uang saku. Aku belum mikir sejauh: kondisi mereka sebenarnya seperti apa. Setahuku, tiap aku pulang, mereka ya biasa saja. Kalau aku pulang, misalnya aku minta uang jajan atau bensin, ya tetap dikasih,” kata Deni.
Disadarkan kenyataan cari uang tidak gampang
Deni lulus kuliah pada pertengahan 2025. Tidak lama setelah lulus, pesan ibu Deni waktu itu adalah: Kalau bisa langsung cari kerja karena kasihan sama bapak kalau menanggung ekonomi keluarga sendiri.
“Ternyata cari kerja susah sekali. Aku baru bener-bener dapat kerja kan awal tahun ini,” kata Deni. “Terus kelihat bapak-ibu di pasar juga kerja keras, dari pagi. Sementara mereka semakin tua.”
Deni akhirnya bisa merasakan, betapa mencari uang sebenarnya tidak gampang. Itu membuatnya (baru) merasa berdosa. Doa yang terus terngiang-ngiang.
Apalagi setelah dihadapkan dengan kenyataan kalau adik laki-lakinya memutuskan untuk tidak lanjut kuliah: lulus SMA langsung ikut pelatihan kerja dan akhirnya langsung kerja.
Dalam benak Deni: jika seandainya ia dulu tidak bohong alias kuliah benar-benar mengandalkan beasiswa yang ia terima, mestinya ia tidak menjadi tambahan beban bagi orang tua. Jangan-jangan juga, orang tua Deni punya tabungan banyak, entah untuk diri sendiri atau mengalokasikan uang untuk kuliah sang adik.
“Karena kalau kutanya adikku, ‘Kenapa nggak kuliah?’. Jawaban dia: Nggak usah lah, kakak sudah kuliah, kalau aku kuliah juga, nggak tega aku lihat bapak-ibu,” beber Deni. Jawaban yang membuat Deni semakin merasa berdosa.
Sayangnya, ucapan “maaf” hanya terucap di batin Deni. Ia belum sampai hati untuk minta maaf sekaligus bicara yang sebenarnya. Sementara semakin dipendam, justru semakin menumpuk rasa berdosanya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
