Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

UGM.MOJOK.CO

Ilustrasi - Universitas Gadjah Mada (UGM (Mojok.co/Ega Fansuri)

Nurma berhasil kuliah gratis di UGM berkat kegigihannya. Tiap hari, ia mulai belajar sejak pukul 3 pagi, dan “nongkrong” di perpustakaan sejak pulang sekolah hingga pukul 11 malam. Ia diterima di salah satu jurusan termahal UGM via jalur SNBP.

Bangun jam 3 pagi buat belajar

Saat jarum jam baru menunjuk pukul tiga pagi, dan sebagian besar orang masih lelap tertidur, Anisa Nurmalitasari sudah duduk menghadap buku pelajaran. 

Uniknya, rutinitas ini bukan cuma terjadi sesekali jelang ujian, seperti yang sering dilakukan siswa lainnya. Anisa melakukannya setiap hari.

Sementara pada sore hari, begitu bel sekolah berbunyi, gadis 18 tahun ini tidak lantas pulang ke rumah. Ia akan pergi ke perpustakaan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan “nongkrong” di sana sampai jam sebelas malam. 

Tujuannya, untuk mengulang materi pelajaran yang ia dapat di sekolah dengan tenang.

Bagi Nurma, panggilan akrabnya, nongkrong di perpustakaan adalah sebuah keharusan, bukan gaya-gayaan.

Melansir laman resmi UGM, Nurma bercerita bahwa rumah keluarganya yang terletak di kawasan padat penduduk Notoyudan, Kota Jogja, punya suasana yang kurang pas untuk dipakai berkonsentrasi penuh. 

Alhasil, jam tiga pagi di rumah jadi waktu terbaiknya untuk membaca. Sementara perpustakaan kampus, pada sore harinya, akhirnya jadi tempat nongkrongnya.

Untungnya, ayahnya paham betul perjuangan ini. Hampir setiap malam, sang ayah memacu sepeda motornya ke Bulaksumur hanya untuk menjemput anak gadisnya yang baru selesai bergelut dengan buku.

Kunci sukses bisa kuliah gratis di UGM

Jam belajar yang “gila” itu lahir dari sebuah kesadaran diri. Nurma duduk di bangku SMAN 1 Yogyakarta, salah satu sekolah paling kompetitif di Kota Gudeg. 

Di sekolah tersebut, ia dikelilingi teman-teman yang rata-rata mengikuti bimbingan belajar berbayar yang harganya tidak murah. 

Sadar keluarganya tidak punya uang sisa untuk mendaftarkannya ke tempat les, Nurma mengambil jalan pintas paling murah: melipatgandakan jam kerja. Jika temannya belajar dua jam sehari, maka ia harus belajar empat hingga enam jam sehari.

Hebatnya, di tengah jadwal belajarnya yang padat, Nurma tidak tumbuh menjadi “kutu buku” yang kaku dan anti-sosial. Ia justru mengambil peran sebagai pemimpin. 

Di sekolahnya, ia diamanahi menjadi Ketua Seksi Literasi, Wakil Ketua Departemen Rohis Masjid Al-Uswah, hingga aktif di organisasi All Nation Teenagers. Berada di lingkungan yang serba cepat dan produktif justru memaksanya untuk terus berlari agar tidak tertinggal.

Seluruh “utang tidur” itu akhirnya dibayar lunas pada hari pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). 

Sore itu, suasana rumahnya mendadak tegang. Nurma mengaku tubuhnya sampai gemetar dan tidak berani menatap layar laptop. Kedua orang tua dan kakaknya yang mengambil alih meja. 

Begitu kata “Lolos” muncul di layar, rumah kecil itu langsung meledak oleh tangis haru. Nurma resmi diterima di Program Studi Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. 

Bonus paling besarnya: ia mendapat beasiswa UKT nol Rupiah alias kuliah gratis seratus persen.

Support-system di keluarga

Di sudut ruangan, ada tangis seorang ayah yang bebannya mendadak menguap. Sang ayah, Agus Nurhadi, adalah seorang wiraswasta skala rumah tangga. 

Setiap pagi dan sore, ia berkeliling menitipkan sebungkus demi sebungkus camilan kacang goreng produksinya ke puluhan angkringan di Jogja. 

Jauh di lubuk hatinya, Agus sempat dilanda cemas luar biasa. Membayangkan biaya kuliah di fakultas rumpun kedokteran UGM bagi seorang penjual kacang angkringan adalah sebuah ujian mental yang berat.

“Saya ini kan wiraswasta kecil, penghasilannya kadang ada, kadang tidak ada. Begitu tahu dia diterima dan gratis, rasanya sangat bersyukur. Ini apresiasi luar biasa dari UGM untuk anak saya,” tutur Agus.

Sang ibu, Sri Damaryati, juga memegang peran vital di balik layar. Dialah garda terdepan yang selalu menepuk pundak Nurma saat putrinya mulai kehabisan bensin di jam tiga pagi. 

Sri selalu menanamkan satu prinsip sederhana: tugas manusia hanya berusaha sekeras mungkin, sisanya biarkan takdir yang bekerja. 

Peran sang kakak juga tidak kalah besar. Saat Nurma membentur jalan buntu ketika memecahkan soal-soal sulit, kakaknya yang akan duduk di sebelahnya, mengurai materi itu sampai adiknya paham. 

Di rumah kecil tersebut, mimpi Nurma pada dasarnya dipikul bersama-sama.

Pilih jurusan Ilmu Gizi UGM karena alasan mulia

Soal jurusan yang ia pilih, Nurma mengaku tak muluk-muluk. Ia hanya bertanya pada dirinya sendiri: apa hal paling mendasar yang membuat manusia tetap hidup? Jawabannya adalah makanan. 

Ia lalu mengawinkan konsep makanan itu dengan ilmu kesehatan, dan ketemulah jurusan Gizi. Begitu mantapnya dengan logika tersebut, Nurma hanya memasukkan satu pilihan jurusan saat mendaftar SNBP. 

Ia tidak membuat rencana cadangan sama sekali.

Kini, sambil menghitung hari menuju ospek perkuliahan, Nurma tidak lantas ongkang-ongkang kaki. Ia mengisi waktunya dengan bekerja lepas (freelance) untuk menabung uang saku, mengasah bahasa Inggris, serta ikut berbagai lokakarya. 

Kepada anak-anak muda lain yang sedang merasa kalah oleh keadaan, Nurma menitipkan pesan singkat: “Kalau niat kita sudah di situ, porsi kerja kerasnya yang harus dilebihkan.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Sumber: ugm.ac.id

BACA JUGA: Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus Usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version