Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Ilustrasi nganggur setelah lulus kuliah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Zaman sekarang, punya ijazah S1 itu rasanya mirip-mirip seperti baru lulus SMA. Gelar sarjana, yang dulu sering dipamerkan, banyak yang merasa sudah terlalu “pasaran”. Gara-gara ini, banyak sarjana yang mendadak insecure dan minder. Ujung-ujungnya, mereka nekat daftar S2. Namun, bukan karena haus ilmu, tapi semua cuma didasari karena FOMO dan gengsi semata.

Lanjut S2 karena minder dengan tongkrongan

Penyakit ini, salah satunya, sedang diidap oleh Arya (24). Secara status, Arya sebenarnya tak nganggur-nganggur amat. Dia sudah kerja di sebuah perusahaan swasta di Jogja, meski posisinya masih staf biasa. 

Masalahnya, pekerjaan yang monoton dan gaji yang pas-pasan bikin dia merasa jalan di tempat. Bahkan, perasaannya makin hancur tiap kali membuka Instagram, yang isinya teman-teman seangkatan sedang sibuk pamer foto kuliah S2.

Merasa tertinggal dan butuh pengakuan, Arya pun nekat mendaftar S2 pada 2025 lalu.

“Jujur aja, aku nggak malu mengakui kalau niat awalku ya cuma pelarian,” ujarnya, Senin (24/8/2026) lalu. “Keren aja kalau ada yang nanya lagi sibuk apa bisa jawab ‘S2 sambil kerja’,” imbuhnya blak-blakan.

Buat Arya, S2 adalah cara paling pas buat menutupi rasa mindernya. 

Tapi memang biayanya mahal banget

Namun, kuliah S2 ternyata biayanya sangat mahal. Sebagai anak dari keluarga kelas menengah, biaya S2 yang tembus belasan juta rupiah per semester jelas bikin dompetnya megap-megap. 

Gaji staf bulanannya sudah pasti tidak cukup buat bayar biaya kuliah. Mentok sana-sini, Arya akhirnya tetap minta disubsidi orang tuanya. 

Kelakuan Arya ini sebenarnya potret nyata dari fenomena yang makin menjamur belakangan ini. Gelar akademik sekarang pelan-pelan cuma jadi ajang flexing.

Di lingkungan saya, ada banyak anak muda yang memaksakan diri kuliah S2 cuma biar kelihatan keren, tanpa tahu setelah lulus mau kerja apa. Kampus S2 beralih fungsi, dari yang tadinya tempat orang upgrade ilmu, sekarang menjadi tempat pelarian buat orang-orang yang FOMO.

Kuliah S2 modal FOMO itu enaknya cuma di awal saja

Masalahnya, rasa puas bisa pamer kuliah S2 itu cuma di awal-awal saja. Ngenesnya baru terasa saat kuliah sudah jalan, dan pukulan paling telaknya datang saat mereka sudah wisuda.

Nasib apes inilah yang sekarang diratapi oleh Nisa (27). Tiga tahun lalu, Nisa punya kelakuan yang sama persis seperti Arya. Dia nekat daftar S2 setelah lulus S1 hanya gara-gara ikut-ikutan teman dan gengsi kalau dicap pengangguran. 

Sekarang, setelah gelar magister nempel di belakang namanya, Nisa baru sadar kalau kuliah S2 cuma modal nekat itu sangat bahaya.

“Apa pun yang coba-coba dan modal nekat itu bahaya, apalagi nekat kuliah S2 karena gengsi saja,” ujarnya.

Siksaan pertama yang bikin Nisa kaget adalah kewajiban publish jurnal. Awalnya, Nisa mengira S2 itu sama enaknya dengan kuliah S1, yang isinya hanya duduk manis di kelas, mendengar dosen ceramah, terus bikin tugas akhir yang mirip-mirip skripsi.

“Bikin tesis yang lebih mumet dari skripsi itu belum apa-apa. Lebih pusing pas disuruh nembus jurnal Scopus buat syarat lulus. Udah nulisnya susah, bayar biaya submit jutaan pakai uang sendiri. Jujur rasanya pengen nangis,” keluh Nisa.

Setelah lulus tetap pusing mencari kerja

Apesnya lagi, penderitaan di kampus itu belum ada apa-apanya dibanding susahnya cari kerja saat sudah lulus. Nisa dulu mengira, dengan ijazah S2, ia bakal mudah mendapat pekerjaan. Nyatanya malah kebalik.

Di dunia kerja, perusahaan itu mencari orang yang bisa langsung kerja, bukan orang yang cuma jago teori. Nisa sangat sering gagal pas wawancara karena dianggap overqualified, gelarnya terlalu tinggi tapi nol pengalaman lapangan. 

Menurutnya, HRD takut ekspektasi gajinya ketinggian, padahal skill praktisnya belum terbukti.

“Tekanannya gila banget. Pas akhirnya aku keterima kerja jadi staf biasa dengan gaji standar, rasanya kayak sama saja dengan kuliah S1,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version