Tri Satya Nugraha tak menampik bahwa produksi jadi bagian penting dalam pertambangan. Namun, bagi alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Jurusan Teknik Pertambangan tersebut, ukuran keberhasilan paling utama adalah memastikan rekan-rekannya pulang dengan aman.
***
Sebelum terjun ke dunia kerja, Tri berusaha mempelajari risiko dunia tambang agar keputusan yang dia ambil nantinya tak merugikan orang lain. Ilmu itulah yang dia dapatkan saat kuliah Jurusan Teknik Pertambangan di UMI pada 2015 lalu.
Dua tahun setelahnya, Tri mencoba karier profesional sebagai insinyur tambang atau mine engineer. Salah satu jabatan krusial yang bertanggung jawab merencanakan dan mengawasi proses pengambilan mineral atau batu bara agar bisa berjalan efisien, aman, ekonomis, serta ramah lingkungan.
Seirinya berjalannya waktu, pengalaman Tri terus bertambah hingga meraih posisi sebagai Kepala Teknik Tambang (KTT). Tri yang merasa haus ilmu, kemudian melanjutkan Program Profesi Insinyur Teknik Pertambangan di UMI pada 2022.
Seluruh pengalamannya tersebut memberikan pelajaran berharga bagi Tri bahwa keberhasilan tambang bukan sekadar apa yang berhasil dikeluarkan dari bumi, tapi juga bagaimana manusia yang bekerja di atasnya bisa pulang dengan selamat.
Perjalanan karier usai lulus dari Teknik Pertambangan
Setelah mendapat gelar S1 Teknik Pertambangan di UMI, Tri tak terlalu pusing mencari kerja sebab ia sudah diterima sebagai Supervisor Health Safety Environment (HSE) di PT Surveyor Indonesia dari 2019-2020. Sesuai dengan namanya, Tri bertugas mengoordinasikan tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di lapangan.
“Pengalaman HSE menambah perspektif saya bagaimana pekerjaan itu harus dilakukan dengan aman,” kata Tri dikutip dari laman resmi UMI, Jumat (2/10/2026).
Tak lama setelah itu, Tri pun diangkat sebagai Kepala Teknik Tambang (KTT) di PT Citra Arya Sentosa Hutama, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pada 2021 hingga 2022. Sebagai KTT, Tri sadar bahwa keselamatan dan teknis operasi tidak dapat dipisahkan.
“Sebagai KTT, saya tidak lagi bertanya berapa banyak tambang yang dihasilkan? Tapi, apakah kegiatan ini dapat dilakukan dengan benar, aman, patuh, dan bertanggung jawab?” ujarnya.
Di sela-sela kesibukannya bekerja, Tri masih menjalani Program Profesi Insinyur Teknik Pertambangan UMI dan lulus pada tahun 2022 untuk memperkuat profesi insinyurnya.
Produksi tambang tak terlepas dari keselamatan kerja
Setelah menyelesaikan program profesi di UMI dan menyelesaikan tugasnya sebagai KTT di Sulawesi Tenggara, Tri pindah ke PT Ciracap Sumber Prima di Tabalong, Kalimantan Selatan dengan jabatan yang sama.
Di sana, Tri mendapatkan pengalaman baru. Tak hanya belajar soal pertambangan mineral tapi juga operasi batu bara. Sampai akhirnya, Tri dipercaya menjadi Pengawas Operasional Utama (POU) pada tahun 2026.
Dari jabatan yang sekarang, Tri mengaku lebih berhati-hati dalam membuat keputusan. Menurutnya, keputusan yang aman dapat dilihat dari data yang benar, pengukuran yang tepat, serta temuan yang tidak boleh diabaikan.
“Dan yang lebih penting, keberanian menghentikan sesuatu ketika kondisi tidak aman,” tegas alumnus Teknik Pertambangan UMI tersebut.
Menjalani tanggung jawab sebagai alumnus Teknik Pertambangan
Tri berujar industri pertambangan memiliki target volume produksi, waktu, biaya, dan produktivitas alat. Namun, seluruh target itu kehilangan makna apabila dicapai dengan mengabaikan keselamatan dan tanggung jawab lingkungan.
Sebagai POU, Tri melihat dampak profesional pertambangan tidak selalu terbaca dari berapa ton material yang berhasil dipindahkan. Kadang, dampaknya justru terlihat dari orang-orang yang menyelesaikan pekerjaannya dengan rasa aman.
“Tidak ada kecelakaan. Tidak ada alat yang beroperasi dalam kondisi berbahaya. Tidak ada keputusan yang memaksakan pekerjaan ketika risiko tidak dapat diterima. Serta, tidak ada kerusakan yang seharusnya dapat dicegah,” jelasnya.
Perjalanan alumnus Teknik Pertambangan UMI itu pun menunjukkan bahwa kompetensi dapat berubah sering dengan tanggung jawab yang bertambah. Ketika masih menjadi mahasiswa di UMI, Tri menggunakan ilmunya untuk memahami tambang. Setelah menjadi HSE, ilmu digunakan untuk mengenali dan mengendalikan risiko.
Ketika dipercaya sebagai Kepala Teknik Tambang, ilmu tersebut berubah menjadi amanah yang menyangkut operasi, manusia, kepatuhan, dan lingkungan.
“Semakin tinggi tanggung jawab di tambang, semakin banyak keselamatan orang lain yang ikut berada di dalam keputusan kita.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
