Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

ilustrasi - puisi jadi bagian jiwa mahasiswa sastra. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM), Deni Maulana, puisi adalah jiwanya. Ia merekam setiap momen penting dalam hidupnya dengan puisi, baik saat senang maupun susah. 

Misalnya, saat ia merindukan ibunya yang menjadi migran di Yordania ketika usianya baru 6 tahun, atau ketika ia merasa kesepian karena ayahnya yang seorang buruh tani meninggal saat Deni duduk di bangku SMA. Segala perasaannya pun tercurahkan lewat puisi.

“Dari kelas 3 SD aku telah mencintai dunia puisi, menulis, dan membacanya dengan sederhana, meski saat itu aku belum cukup berani untuk melangkah lebih jauh, bahkan untuk mengikuti kompetisi,” ujar Deni saat dikonfirmasi Mojok, Kamis (14/5/2026).

Deni kecil pun tak luput dari hinaan orang-orang di sekitarnya. Ia pernah mengalami perundungan dan diremehkan, tapi ia bertekad suatu saat nanti ia dapat membalas bullying tersebut dengan prestasi.

“Waktu berjalan, dan sejak SMP hingga hari ini puisi telah membukakan jalan, membawaku melangkah lebih jauh hingga bisa meraih pendidikan dan kesempatan yang dulu terasa mustahil,” lanjutnya.

Tahun 2023, mimpi Deni menjadi nyata. Ia lolos jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di UGM berkat sertifikat yang selama ini ia telah kumpulkan, yakni sekitar 200 penghargaan dari kompetisi bahasa dan sastra. 

Selembar puisi dan doa ibu yang selalu mengiringi

Meski begitu, Deni sempat pesimis untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi. Namun, bagi almarhum ayah dan ibunya yang hanya mengenyam bangku sekolah dasar, pendidikan selalu menjadi prioritas pertama. 

Deni ingat betul bagaimana ibunya diam-diam menjual cincin kesayangannya, satu-satunya barang berharga yang tersisa, agar Deni bisa tetap sekolah. Sisanya, untuk kebutuhan makan Deni dan dua orang kakaknya.

“Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat,” ucap Deni.

Deni foto dengan ibu. MOJOK.CO
Deni berfoto bersama ibunya setelah dapat juara 1. (Dok.pribadi/Deni)

Saat dinyatakan lolos UGM, ibunya senang bukan main. Apalagi, Deni juga diterima Beasiswa Indonesia Maju (BIM), sehingga biaya kuliahnya terbilang gratis hingga lulus. Dengan menyisihkan sedikit dana beasiswanya tersebut, Deni pun menyewa kontrakan sederhana untuk tinggal bersama ibunya di Jogja. 

“Bagi saya, ibu adalah segalanya, prioritas utama dalam hidup saya. Jika ada yang bertanya apa kunci saya bisa sampai di titik ini, bahkan menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama UGM, maka jawaban saya sederhana, doa ibu,” ucap Deni.

Jadi Mapres utama UGM karena puisi

Target Deni sebagai Mapres baru terwujud pada 2026 meski keinginannya sudah ada sejak semester 1. Hingga semester 5, Deni fokus membangun portofolio akademik dan non-akademik secara konsisten. 

Ia pun aktif mengikuti kompetisi nasional dan internasional, organisasi, pengabdian masyarakat, volunteer, menjadi mentor beasiswa, hingga mendirikan kelas bimbingan belajar puisi bernama Puisi Akademia.

“Motivasi saya lahir dari latar belakang keluarga buruh tani, dengan orang tua lulusan sekolah dasar. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar,” ujarnya.

Deni menang penghargaan di Korea. (Dok.pribadi/Deni)

Tak pelak, ia berhasil mengumpulkan 150 lebih penghargaan baik di bidang akademik dan non akademik selama kuliah di UGM. Salah satu pengalaman berkesan yang pernah dialaminya adalah saat mengikuti kompetisi di Korea Selatan dan bertemu peserta dari berbagai negara. 

Pengalamannya itu berhasil membawa Deni memperoleh banyak penghargaan, antara lain:

Ia juga terpilih menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara Republik Indonesia dan dipercaya sebagai pembaca puisi dalam Konser Kemerdekaan. 

Siapapun layak jadi mahasiswa UGM

Kini, Deni berhasil membuktikan cemooh dari orang-orang di sekitarnya bahwa mimpinya tidak pernah salah. Tidak juga bisa dianggap ‘terlalu jauh’ sebab yang salah, kata dia, hanya jika kita menyerah sebelum mencoba.

Oleh karena itu, Deni berpesan agar mahasiswa tidak pernah berkecil hati dengan latar belakang keluarga yang mereka miliki. Mahasiswa UGM itu pun percaya bahwa setiap usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

“Mimpi tidak pernah membedakan dari mana seseorang berasal. Percayalah bahwa rezeki yang tertukar tidak akan tertukar, dan mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalannya untuk menjadi nyata,” pesannya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Upaya Mahasiswa UNY Mengatasi Luka Batin dan Amarah pada Hidup Lewat Puisi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version