Label SMK kerap dipandang bermasa depan suram. Mentok hanya sebagai pekerja dengan gaji di bawah UMR. Namun, stigma tersebut terpatahkan oleh sejumlah SMK swasta di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
***
Kudus, kabupaten berjuluk Kota Santri ini memang terkenal sebagai salah satu jujugan siswa dari berbagai wilayah untuk melanjutkan pendidikan.
Mereka datang tak hanya untuk belajar di pondok pesantren, tapi juga di sekolah swasta unggulan. Saat mengeksplorasi Kudus, Mojok menemukan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berfasilitas lengkap yang mampu menjanjikan masa depan cerah.
Beberapa di antaranya adalah SMK Wisudha Karya yang terkenal dengan jurusan pelayarannya, SMK Raden Umar Said yang unggul di bidang animasi, serta SMK PGRI 1 Kudus dengan program keahlian di bidang kecantikan.
Perjalanan untuk menempuh pendidikan di deretan SMK itu tentu tak mudah. Beberapa siswa menceritakan perjuangan mereka hingga akhirnya diizinkan merantau, serta bagaimana cara mereka merancang masa depan usai lulus.
Perjalanan jauh dari Manokwari demi SMK di Kudus
Kebahagiaan terlukis di wajah Joel Lyonel Christenzen Pangestu saat dirinya dinyatakan lolos tahap awal di SMK Wisudha Karya (Wiskar) Kudus, Jawa Tengah. Salah satu sekolah swasta unggulan di bidang kemaritiman.

Remaja asal Manokwari, Papua Barat, tersebut kemudian meminta restu ke orang tuanya untuk melaksanakan tes lanjutan secara offline. Alih-alih melarang Joel sekolah di Kudus karena terlampau jauh, orang tua Joel justru mendukung keputusan anaknya. Sang ayah bahkan menemaninya untuk seleksi di Kudus.
Mereka harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Manokwari ke Surabaya menggunakan pesawat. Di Surabaya, Joel dan ayahnya hanya transit sebentar. Tak sampai satu hari, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Kudus dengan bus.
“Kami akhirnya tiba H-2 sebelum tes kesamaptaan (fisik) diadakan,” kata Joel saat ditemui Mojok di SMK Wiskar, Jumat siang (12/9/2025).

Keinginan Joel untuk sekolah pelayaran sebenarnya sudah tertanam sejak kecil. Ia terinspirasi dari kakeknya yang juga seorang pelaut. Meski tak pernah bertemu secara langsung, Joel sering mendengar kisah kakeknya itu dari saudara-saudaranya.
Dengar-dengar dari saudaranya itu, ada sekolah pelayaran yang terkenal di Kudus yakni SMK Wiskar.
“Aku tahu SMK Wiskar Kudus sejak kelas 1 SMP karena di Manokwari nggak ada sekolah pelayaran, adanya di Sorong tapi aku pilih SMK Wiskar Kudus karena mendengar fasilitas di sana lebih bagus,” tutur Joel, yang saat ini merupakan siswa kelas 11 di SMK Wiskar Kudus Jurusan Nautika Kapal Niaga.
Joel berharap setelah lulus dari SMK swasta di Kudus, ia bisa menjadi nakhoda kapal pesiar di Dubai. Selain karena gajinya yang tinggi, ia ingin menikmati suasana gemerlap kota di negara Uni Emirat Arab tersebut.
Kemandirian siswa merantau di Kudus
Joel bukan satu-satunya anak dari luar daerah yang memilih mengejar mimpi di Kudus. Atallah Febrian (17) misalnya. Remaja asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sejak awal telah mengincar SMK Raden Umar Said (RUS) sebagai tempat dia belajar animasi.
“Entah kenapa saat aku mencari sekolah jurusan Animasi, nama SMK RUS ini yang paling sering muncul. Dan ketika melihat fasilitasnya secara langsung, aku yakin bisa mengembangkan skill di sini,” ujar Atallah yang saat Mojok temui saat itu merupakan siswa kelas 12.

Saat mengetahui keinginan Atallah sekolah di SMK RUS Kudus, orang tuanya sangat mendukung karena mereka tahu minat dan bakat Atallah dalam menggambar. Mereka pun tak terlalu khawatir melepas anak keduanya itu untuk merantau dari NTB ke Kudus.
“Aku di Kudus sewa kos. Setiap 6 bulan sekali biasanya aku pulang, pas lagi libur panjang. Kadang-kadang, orang tuaku yang ke sini datang menjenguk,” ujar Atallah.
Atallah juga punya teman sekelas bernama Bulan Zalfa Talitha (18) yang berasal dari Tangerang, Banten. Sama seperti Atallah, Bulan mengaku tahu SMK swasta tersebut setelah mencari-cari di internet.
“Ada salah satu garapan mereka yang membuatku begitu tertarik masuk SMK RUS waktu itu. Salah satunya film animasi berjudul Sabda Alam yang tayang di YouTube,” ujar Bulan.
Dari video musik tentang satwa endemik Indonesia yang dipopulerkan oleh musisi Chrisye itulah, Bulan akhirnya menambatkan hatinya ke SMK RUS.

Jujur, saat menyampaikan niatnya ke orang tua, Bulan mengaku takut. Namun ternyata, ayahnya mendukung penuh keputusan tersebut.
“Awalnya aku mau ambil Jurusan 2D tapi ayah bilang ‘kamu kan sudah bisa 2D nih, cobalah 3D’,” kata Bulan.
“Dan sejujurnya aku sama sekali nggak tahu soal 3D waktu itu, tapi semenjak sekolah di sini pengetahuanku makin bertambah. Aku semakin tertarik dan yakin kalau passion-ku memang di sini,” lanjutnya.
Tak terasa, kini Bulan dan Atallah lulus. Setelah menyerap banyak ilmu di SMK RUS Kudus, kini mereka tengah meniti jalan karier masing-masing di bidang yang memang telah mereka tekuni dan pelajari secara serius: animasi.
Perjuangan melintasi pulau menuju SMK di Kudus
Jika Atallah dan Bulan membangun kariernya di bidang animasi, Fahriya jauh-jauh dari Sumbawa, NTB memilih sekolah di SMK PGRI 1 Kudus untuk belajar soal kecantikan dan spa.
Fahriya mengaku, perjalanannya dari Sumbawa ke Kudus tidaklah mudah, sebab penerbangan dari Lombok ke Semarang saat itu tidak ada. Padahal, kalau lewat jalur tersebut ia hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Selanjutnya, ia bisa meneruskan perjalanan dari Semarang ke Kudus dengan bus.

Sayangnya, rencana itu buyar karena ia harus lewat jalur Surabaya. Jadi, dari Sumbawa ke Lombok naik kapal dulu selama dua jam. Lalu lanjut dari Lombok ke Surabaya dengan pesawat. Sampai Surabaya, ia segera mencari bus menuju Kudus.
Jika ditotal, perjalanannya membutuhkan waktu sekitar 8 jam. Meski melelahkan, Fahriya mengaku saat itu tak sabar ingin melihat SMK PGRI 1 Kudus.
“Karena di Sumbawa, fasilitas dan sarana prasarananya tidak terlalu menunjang. Nah waktu aku ke sini, aku melihat bukan cuma laboratoriumnya saja yang bagus tapi kelasnya juga bagus banget,” tutur Fahriya.
Saat berbincang dengan Mojok saat itu, Fahriya masih duduk di kelas 12, kini ia telah bekerja di Dubai dengan bekal ilmu, skill, dan pengalaman yang telah ia kantongi dari SMK PGRI 1 Kudus.
Cerita Joel, Atallah, Bulan, dan Fahriya menjadi representasi bagaimana Kudus, yang kerap dipandang sebagai daerah kecil, justru memiliki sejumlah SMK swasta yang membuka peluang tangga karier bagi anak-anak muda. Tidak hanya dari Jawa, tapi bahkan dari NTB hingga Papua.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan