Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

Ilustrasi - Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Setelah evakuasi anjing-anjing malang dari tangan para jagal di Bantul dan Kulon Progo yang viral pada 2021 silam, Victor Indrabuana (50) berharap praktik perdagangan daging anabul di Jogja akan susut.

Kenyataannya, hingga hari ini, ia masih kerap menerima laporan bahwa para pemburu dan jagal anjing di Jogja masih beroperasi. Terutama mengintai anjing-anjing yang dibuang atau bahkan sengaja hendak dijual pemiliknya ke tangan penjagal. 

“Dari awal 2026 sampai sekarang, kira-kira saya sudah rescue 30-an ekor,” ujar pemilik Selter Anjing Ron-Ron Dog Care (RRDC) itu saat saya temui di selternya, Sleman, Jogja, Sabtu (6/6/2026) siang. 

BACA JUGA: Mereka yang Merawat Anjing Telantar

Operasi senyap pemburu anjing di Jogja

Victor mengaku, belum lama ini ia mengevakuasi beberapa anjing terbuang yang nyaris disikat oleh penjagal. 

Di antaranya, ada anjing yang ditelantarkan pemiliknya hingga nyasar di sebuah bengkel mobil. Ketika si pemilik bengkel menginformasikan di media sosial: “Siapa pemilik yang kehilangan anjing ini?”, ada banyak nomor telepon yang masuk. Semuanya mengaku sebagai pemilik. 

Ada juga seorang pemilik anjing yang menelepon Victor dengan tangis tersedu karena menyaksikan anjingnya “dieksekusi” oleh orang yang awalnya mengaku hendak mengadopsi. 

Cerita ia yang merawat dan mengevakuasi anjing malang dari tangan pemburu dan penjagal anjing di Jogja MOJOK.CO
Cerita ia yang merawat dan mengevakuasi anjing malang dari tangan pemburu dan penjagal anjing di Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Tapi ya saya nggak bisa berbuat apa-apa, orang sudah dieksekusi. Tapi maksud saya, kalau sudah nggak mau pelihara, bawa aja ke shelter,” ujar Victor. 

“Biar kami yang rawat. Kami cuma minta divaksin sama steril aja. Sisanya untuk makan dan lain-lain, kami urus lah,” sambungnya. 

Tidak hanya anjing-anjing malang di Jogja, dua hari sebelum saya bertamu, Victor baru saja menerima kiriman dua ekor anjing dari Bali. Anjing-anjing tersebut nyaris saja disembelih untuk dikonsumsi, sebelum akhirnya ada orang yang mengamankannya untuk kemudian dikirim ke RRDC. 

Menukarkan anabul yang temani skripsian dengan “recehan”

Terbuang usai temani skripsian.” Ungkapan itu terdengar menggelitik tapi sekaligus ironis di saat bersamaan. Tapi itulah fenomena yang terjadi di kalangan sejumlah sarjana di Jogja: membuang anjing peliharaannya setelah menyelesaikan masa studinya. 

Misalnya pengakuan dari Doroti (23), bukan nama sebenarnya. Setelah menyelesaikan masa studi S1-nya di Jogja satu tahun lalu, ia memang harus kembali ke daerah asalnya di Lampung. Ia tidak bisa serta merta turut membawa anjingnya pulang. 

“Dulu aku adopsi dari seorang teman. Buat teman di kos. Ya aku rawat sebagaimana mestinya,” ujarnya melalui sambungan telepon. 

Sebelum pulang ke lampung, Doroti tidak punya ketegaan jika menelantarkan anjingnya begitu saja (misalnya ditinggal di kos atau dibuang di jalan). Itulah kenapa, melalui media sosial, ia mengunggah informasi soal adopsi si anabul. 

Tidak dinyana ternyata ada beberapa orang berminat. Beberapa adalah temannya sendiri, tapi beberapa yang lain adalah orang yang tidak ia kenal. 

Doroti memilih melepas ke salah satu orang tidak dikenal itu dengan satu alasan: orang tersebut hendak menebus si anjing dengan tebusan uang, tanpa mempermasalahkan kalau si anabul belum disteril. 

“Rp300 ribuan. Pikirku, nggak masalah, dapat uang pula kan. Tapi aku murni nggak tahu kalau itu nanti akan dikonsumsi,” akunya. 

Bisa jadi Doroti memang benar-benar tidak tahu. Namun, menurut sejumlah informan Mojok—baik di kalangan mahasiswa maupun kalangan masyarakat umum—ada pula yang memang dengan sadar menyerahkan anjingnya ke pemasok maupun ke jagal langsung ketimbang menyerahkannya ke shelter. Tentu karena ada tebusan uang. 

BACA JUGA: Sejarah Tongseng dan Sate Jamu, Kuliner Berbahan Daging Anjing yang Sudah Ada di Zaman Majapahit

Mereka yang memelihara hanya untuk senang-senang bukan karena benar-benar sayang

Begitulah realitasnya. Victor merasa tidak habis pikir: apa beratnya menyerahkan anjing ke shelter? Apalagi jika melihat pasaran harganya di tangan pemasok yang berkisar Rp150 ribu-Rp300 ribu. 

Kalau alasannya enggan mengeluarkan biaya steril, padahal misalnya dalam konteks RRDC, harga steril tersebut tidak sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan oleh pihak shelter selama si anabul masih hidup dan tinggal. 

“Artinya memang hanya perkara nurani,” ujar Victor. “Selama ini memelihara bukan karena sayang, tapi karena buat senang-senang aja.” 

“Jadi buat teman-teman, pikirlah dua-tiga kali sebelum memelihara anjing. Benar-benar sayang dan akan dirawat nggak? Itu alasan kenapa shelter ini saya bikin terbuka untuk umum. Kalau ada orang yang sayang anjing tapi nggak siap merawat, datang aja ke sini, sekadar main-main. Nggak bayar kok,” terusnya. Pada Sabtu siang itu, saya mendapati sejumlah anak muda hilir-mudik di RRDC. Ada yang sekadar melihat-lihat, bermain-main dengan anjing di shelter, ada pula yang berniat mengadopsi. 

Shelter RRDC terbuka untuk umum untuk bermain bersama anjing, daripada memelihara anjing lalu ditelantarkan dan jadi incaran jagal di Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Pun misalnya ada orang yang mengadopsi anjing dari RRDC, lalu di tengah jalan merasa bosan dan tidak bisa merawat lagi, Victor meminta agar anjingnya dikembalikan saja ke RRDC. Jangan dibuang apalagi diserahkan ke pemasok atau jagal. 

Bagian itu menjadi salah satu komitmen yang betul-betul Victor tekankan ketika ada orang yang hendak mengadopsi anabul dari RRDC. Prinsipnya, kalau sudah tidak ingin merawat, ya kembalikan. 

Evakuasi anjing malang dari jagal di Jogja, caci maki jadi makanan sehari-hari

Maka tidak heran jika laporan soal perburuan dan penjagalan anjing masih kerap Victor terima. Sebab, penelantaran masih menjadi solusi cepat yang dipilih oleh sebagian banyak pemelihara anjing di Jogja. Dan penelantaran tersebut menjadi ruang bagi para pemburu dan jagal anjing beroperasi. 

Mengutip Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI), pada tahun 2025 terdata ada 111 warung daging anjing  di wilayah DIY. Di tahun 2026, mereka menemukan, 92 di antaranya masih beroperasi. Warung-warung daging anjing itu tersebar di wilayah Bantul, Sleman, Kota Jogja, dan kawasan lain.

Victor memang pernah melakukan evakuasi langsung ke rumah penjagalan, misalnya dalam kasus rumah jagal di Srihardono, Kapanewon Pundong, Bantul, pada 2021 silam. Langsung berhadap-hadapan dengan si penjagal. Tapi memang ditemani oleh petugas kepolisian. 

Pelukan hangat Victor ke salah satu anjing di shelter RRDC. (Aly Reza/Mojok.co)

Namun, usai terbit Surat Edaran (SE) Nomor 510/13896 Tahun 2023 tentang Pengendalian/Peredaran Daging Anjing dan Hewan Penular Rabies Lainnya dari Pemda DIY, Victor berharap penyisiran rumah-rumah jagal anjing di Jogja diambilalih oleh petugas.

“Karena kalau evakuasi sendiri, bahaya di kami. Apalagi SE itu sifatnya imbauan, belum perda,” kata Victor. 

Kendati sudah tidak melakukan evakuasi di rumah jagal langsung, tapi intimidasi maupun caci maki dari orang-orang yang merasa dirugikan oleh Victor sudah menjadi makanan sehari-hari. Karena Victor masih kerap melakukan intersep: selalu lebih dulu memungut anjing terbuang sebelum dikarungi oleh penjagal. 

Mereka tidak terima karena merasa “ladang uang” mereka terganggu. Karena selain evakuasi, Victor juga aktif mengedukasi publik untuk berhenti mengonsumsi daging anjing. 

“Kenapa edukasi itu penting? Sudah banyak ahli menyebut mengonsumsi daging anjing itu bahaya. Selain itu ya nurani. Karena anjing kan bukan hewan konsumsi. Sering jadi objek kekerasan juga, dianggap hama dan hina karena dalil agama,” kata Victor. “

Sebuah ketakutan

Segerombolan anjing menyambut saat Victor mengajak saya masuk ke area dalam shelternya. Sejumlah anjing langsung mengerubungi kami, beberapa berebut minta dipeluk oleh Victor. Sementara ada pula yang menggonggong galak dan menghindar saat didekati. “Mereka (yang galak) masih punya trauma dengan manusia,” jelas Victor. 

Sebenarnya ada beberapa metode penyembuhan trauma pada anjing korban kekerasan manusia. Misalnya dengan tidak telat memberinya makan, memperlakukannya dengan halus (sesimpel cara merespons gonggongan mereka tidak dengan teriakan atau bentakan, dan bentuk perawatan yang lain. 

Anjing di RRDC langsung menyambut Victor. (Aly Reza/Mojok.co)

Akan tetapi, kata Victor, jika traumanya sudah terlalu berat, hanya waktu yang bisa menyembuhkan: jika ia sudah merasa benar-benar aman dan nyaman di shelter yang ia tinggali, sehingga tidak perlu merasa waspada lagi menerima pukulan atau segala bentuk kekerasaan lain dari manusia. 

Itulah kenapa Victor menyeleksi secara serius orang yang mendaftar menjadi karyawan di shelternya untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan seperti kekerasan. Sebab, sebagaimana kasus daycare, bisa saja ada orang yang mendaftar ke shelter hanya karena butuh kerja dan duit, tapi tidak benar-benar peduli dan sayang dengan anjing-anjing di sana. 

Sembari berkeliling, Victor menatap nelangsa anjing-anjing yang ia rawat. Setidaknya ada 250-an ekor. 

“Saya kadang khawatir, jika kelak saya sudah nggak ada, mereka ini yang merawat siapa?,” tuturnya. “Karena selama ini memang perawatannya, termasuk menggaji tujuh karyawan, sebagian besar pakai uang saya pribadi. Jadi saya harus tetap kerja (sebagai kontraktor).” 

Pelukan hangat Victor ke salah satu anjing di shelter RRDC. (Aly Reza/Mojok.co)

Donasi uang maupun makanan memang ada. Tapi tentu tidak bisa serta merta menutup kebutuhan shelter. 

Lokasi shelter RRDC berdiri di lahan sewa seluas 1 hektare. Sewanya menyentuh Rp90 juta pertahun. Biaya makan dan perawatan anabul perbulan juga bisa di angka puluhan juta. 

“Jadi salah kaprah kalau orang menganggap shelter itu buat cari duit. Yang ada buang duit,” ujar Victor. 

“Tapi memang selama tujuh tahun berdiri, ada saja (dana) buat merawat mereka,” sambungnya. 

Perawatan anjing di shelter RRDC Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Orang dari kelompok religius tertentu boleh bilang memelihara hewan dengan label najis akan menghambat rezeki, karena malaikat pembagi rezeki ogah masuk rumah si pemelihara anjing. Tapi Victor percaya sebaliknya: justru karena ia berniat melindungi anjing-anjing ini dari kebengisan manusia, nyatanya ada saja jalan untuk menutup kebutuhan merawat mereka. 

Tulisan ini merupakan bagian ketiga sekaligus terakhir dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Jagal Anjing di Kota Pelajar”

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara atau reportase edisi khusus lainnya di rubrik Suara Bawah Tanah

Exit mobile version