Bagi users kereta api Sri Tanjung, pengalaman naik KA Jaka Tingkir New Generation cukup mengagetkan. Kelasnya ekonomi, tapi kok nggak kayak ekonomi. Sampai bikin merasa “kampungan”.
***
Dari saya sendiri saja. Sebagai users bus dan lebih sering pakai kereta api ekonomi Sri Tanjung, pekan lalu–dalam perjalanan darin Jogja ke Jakarta–menjadi pengalaman pertama saya naik KA Jaka Tingkir.
Di e-Ticket KAI Access tertulis “ekonomi”. Lantas saya membayangkan akan menjalani perjalanan panjang dengan punggung tegak lurus, dengkul yang harus berdesakan dengan penumpang di depan, dan penumpang lain yang kepalanya ndelosor ke mana-mana saat tidur. Duh, betapa menyebalkan. Tapi ternyata saya saja yang kurang mengikuti skena perkeretaapian.
Tidur sepanjang perjalanan di KA Jangka Tingkir dalam perjalanan Jogja-Jakarta
Oleh kantor, saya dan satu reporter Mojok ternyata dipesankan KA Jaka Tingkir New Generation. Alhasil, bukan kursi “pesakitan” yang saya duduki. Tapi kursi satu arah (tidak berhadapan) dengan busa lebih nyaman.
Ruang kaki memang agak sempit. Jelas tidak selebar di kereta api eksekutif. Tapi setidaknya tingkat kemiringannya bisa diatur. Sehingga saya bisa menariknya ke belakang untuk posisi bersandar lebih enak (asal permisi dulu dengan penumpang lain di belakang).
AC-nya pun lebih kerasa dari AC kereta api ekonomi biasa seperti Sri Tanjung. Dan karena kenyamanan-kenyamanan itu, tak pelak jika saya tertidur pulas sepanjang perjalanan dari Stasiun Lempuyangan, Jogja, menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta.
Kereta api ekonomi, tapi tak serasa ekonomi
Users kereta api ekonomi seperti KA Sri Tanjung yang lain juga agak kaget ketika naik KA Jangka Tingkir New Generation untuk pertama kali. Misalnya, Imandani (24), pemuda asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang saat ini bekerja di Jogja.
Imandani beberapa kali dikirim kantornya untuk ke Jakarta. Entah perjalanan bisnis atau untuk menggarap sebuah event (brand activation) di Jakarta.
Perkenalannya dengan KA Jaka Tingkir New Generation untuk yang pertama kali terjadi pada pertengahan 2025 lalu. Sebagai users KA Sri Tanjung, Imandani mengaku kaget dengan harga tiket yang harus ditebus untuk naik KA Jaka Tingkir.
Wajar saja. Dengan waktu tempuh perjalanan yang sama, Imandani hanya merogoh saku Rp80-Rp100 ribuan untuk perjalanan Jogja-Surabaya. Sementara untuk KA Jangka Tingkir New Generation, harga tiketnya berkisar Rp350 ribuan.
“Ya waktu tahu harga tiketnya, agak kaget. Ini ekonomi kok nggak kayak ekonomi. Untung aja dibayari kantor,” ujar Imandani saat berbagi cerita belum lama ini. “Kalau aku sendiri yang bayar, kayaknya mikir-mikir ya. Lagi-lagi ini sebagai users Sri Tanjung.”
Sama dengan saya, Imandani mengaku terbuai dengan kenyamanan kursi KA Jaka Tingkir New Generation. Akhirnya ia bisa merasakan duduk di kereta api tapi setelah turun tidak langsung linu atau sakit pinggang.
“Tapi aku kedinginan, Mas. AC-nya 23 derajat bikin ngeteter (gemetar),” kata Imandani.
Sisi kampungan saat pertama kali naik KA Jaka Tingkir
Serupa juga diceritakan Arlida (22), mahasiswi Jogja asal Kulon Progo. Pengalam pertamanya naik KA Jaka Tingkir New Generation terjadi belum lama ini saat ia bersama teman kuliahnya magang di Jakarta.
Arlida belum pernah ke Jakarta. Magang itu menjadi momen pertamanya ke Ibu Kota, sekaligus pengalaman pertama naik kereta api untuk rute Jogja-Jakarta. Itu pun berkat bantuan relasi dari si dosen. Kalau tidak, mungkin ia tidak akan pernah ke Jakarta.
“Orang Jakarta aja lari ke sini (Jogja) kalau liburan. Artinya kota itu kan sebenarnya nggak menarik haha,” ujarnya. “Tapi untuk cari pengalaman kerja (magang), ya cocok lah.”
Pengalamannya naik kereta api pun tentu berkutat pada kelas ekonomi standar. Berkursi tegak lurus dan berhadap-hadapan. Tak masalah, yang penting murah. Toh bagaimana pun, perjalanan dengan kereta api–seekonomi-ekonominya–tetap jauh lebih nyaman ketimbang naik bus.
Kesan pertama Arlida sama seperti saya dan Imandani. Cuma, di sisi lain, Arlida dengan malu-malu mengakui “agak kampungan” saat menaiki KA Jaka Tingkir New Generation.
“Jebul pintunya canggih ya hahaha. Cuma pencet tombol, buka sendiri, terus nanti juga nutup sendiri (sensor elektrik). Hahaha. Kalau di ekonomi kan kalau buka harus ngegeser, kalau mau nutup juga begitu,” ucap Arlida.
“Aku sempat nahan kencing lama itu. Kan pas tahu ada tombol hijau di pintu, aku bingung, nanti bukanya gimana? Apa pintunya otomatis terbuka pas kita udah berdiri di depan pintu?” Tuturnya.
Karena kelewat kebelet, Arlida pun mencoba membuktikan asumsinya: berdiri di depan sensor elektrik pintu. Tapi kok tidak kebuka-kebuka. Tak lama berselang, kebetulan ada petugas kebersihan gerbong yang berjalan, lalu memencet sensor tersebut. Barulah si pintu terbuka. Bukan main malunya Arlida. Sampai saat balim dari toilet pun ia menundukkan kepala.
Seandainya kereta api ekonomi di Indonesia begitu semua…
Belum semua kereta api ekonomi di Indonesia menawarkan kenyamanan sebagaimana kereta api ekonomi new generation. Karena masih beberapa saja yang bertransformasi menjadi generasi baru. Imandani dan Arlida malah berharap dan membayangkan, seandainya semua kereta api ekonomi–seperti KA Sri Tanjung–kelak akan bertransformasi menjadi new generation. Ah betapa nyamannya.
Sejumlah kereta api ekonomi memang sudah diremajakan menjadi new generation, tapi dengan harga yang relatif lebih mahal dari harga kelas ekonomi standar. Harapan Imandani dan Arlida sih, kalau harganya menjadi lebih terjangkau sungguh syukur alhamdulillah.
Walaupun bagi keduanya, kereta api ekonomi standar sebenarnya sudah cukup oke lah dari sisi kenyamanan dan pelayanan. Hanya saja, di gerbong ekonomi standar, sering kali penumpang lain memberi hal-hal tidak menyenangkan.
- Kadang bertemu penumpang arogan yang menyelonjorkan kaki sembarangan
- Penumpang tidak mau gantian menggunakan stop kontak dekat jendela
- Penumpang asal rebut kursi (harusnya di kursi apa, tapi malah ngeyel minta duduk dekat jendela)
- Penumpang yang tak pedulikan nomor kursi. Kursinya di mana, duduknya di mana
- Penumpang yang kalau tidur kepalanya bisa ke mana-mana
- Bahkan Mojok juga pernah mendapat cerita seorang penumpang perempuan yang diincar mas-mas obsesif gara-gara duduk berhadapan di kereta.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pengalaman Dianggap Nekat dan Gila ketika Menempuh Nyaris 22 Jam Naik Kereta Api dari Ujung Barat Pulau Jawa Sampai ke Ujung Paling Timur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
