Dalam banyak perbincangan dengan teman-teman mahasiswa saat ini, saya kerap kali ditemukan dengan cara pandang penuh sangsi: di zaman sekarang, buat apa kuliah di jurusan Sastra Jawa? Terlalu lokal. Toh dalam kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat Jawa juga sudah lekat dengan bahasa Jawa. Padahal Sastra Jawa adalah seni menangkap simbol.
Pemahaman itu saya dapat ketika menghadiri diskusi Sastra Jawa UGM: Sajen dan Uborampe di Panggung Sastra Festival Sastra Yogyakarta 2026 di Taman Budaya Yogyakarta, Embung Giwangan, Bantul, Kamis (27/8/2027) siang.
Melihat sajen dalam Sastra Jawa: bukan sekadar benda klenik
Bima Slamet Raharja, akademisi dari Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menjadi pembicara mengajak saya—juga para pendengar yang lain—untuk melihat sajen sebagai salah satu contoh.
Kehidupan masyarakat Jawa, terlebih di desa, memang identik dengan ragam bentuk sajen. Amat mudah ditemukan di bawah pohon besar, si lahan pertanian, hingga di tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral.
Nah, sajen yang umumnya berisi bunga, pisang, sirih, dan uang logam itu secara kasat memang hanya terlihat seperti benda-benda klenik biasa. Namun, dalam budaya Jawa, susunan tersebut dapat menjadi bahasa. Ada makna simbolik di dalamnya dan menjadi sarana komunikasi yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama makhluk, lingkungan, dan alam semesta.
“Sajen artinya pisungsung, hidangan, atau persembahan. Syarat untuk apa? Syarat untuk berkomunikasi, syarat untuk menyampaikan pesan. Setiap unsur memiliki pemaknaan simbolik yang berkaitan dengan harapan, penghormatan, dan doa,” jelas Bima. Diskusi pun menjadi kian menarik.
Bima mencontohkan: pisang raja dimaknai sebagai pisang dengan kualitas terbaik dan dikaitkan dengan konsep nyangga atau sanggan, yakni simbol menyangga kewajiban dan tugas yang sedang dijalankan. Sementara kembang setaman yang terdiri atas mawar, melati, kantil, dan kenanga juga memiliki makna simbolik masing-masing. Itulah kenapa Bima menegaskan bahwa benda-benda dalam sebuah sajen tidak berhenti sebagai benda.
Belajar Sastra Jawa lebih luas dari sekadar membaca naskah kuno
Di titik inilah Sastra Jawa menjadi lebih luas daripada sekadar belajar bahasa Jawa atau membaca naskah kuno. Karena sastra dan kebudayaan membuat seseorang belajar membaca makna yang berada di balik sesuatu.
Mahasiswa yang kuliah di jurusan Sastra Jawa tidak hanya akan berhadapan dengan teks, tetapi juga dengan berbagai bentuk ekspresi masyarakat yang menyimpan bahasa, simbol, nilai, dan cara berpikir.
Salah satu nilai yang menurut Bima masih relevan adalah: rasa syukur. Penjelasan Bima begini: melalui sajen, manusia tidak hanya menempatkan dirinya dalam hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama dan lingkungan. Ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian dan tidak berdiri di luar alam.
“Nilai tersebut mungkin terdengar sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, ia mudah dilupakan ketika kehidupan modern membuat manusia terbiasa melihat segala sesuatu dari kepentingannya sendiri,” tegas Bima.
Lulusan Sastra Jawa punya banyak kemungkinan pekerjaan
Bagi Bima, semestinya tidak ada keraguan jika ingin kuliah di jurusan Sastra Jawa. Jurusan ini pun harus tetap ada. Sebab, lulusan Sastra Jawa tidak hanya memiliki satu kemungkinan pekerjaan.
“Bisa jadi apa saja. Jadi peneliti bisa, pujangga bisa, bahkan jadi entertainment saja bisa,” ujar Bima.
Pasalnya, kemampuan yang dibangun melalui keilmuan dalam Sastra Jawa bisa digunakan untuk memahami bahasa, teks, simbol, kebudayaan, sekaligus melakukan penelitian terhadap masyarakat dan perubahan yang terjadi di dalamnya.
Sastra Jawa mungkin terlihat seperti ilmu yang berurusan dengan masa lalu. Padahal, salah satu tugas pentingnya justru membaca bagaimana pengetahuan masa lalu masih bekerja dalam kehidupan sekarang.
Sastra Jawa dengan segenap perangkat keilmuannya bisa membantu manusia memahami pengetahuan yang tersimpan dari simbol-simbol tertentu. Lebih-lebih, masyarakat Jawa punya khazanah kebudayaan yang amat kaya dan menyimpan nilai yang relevan untuk kehidupan.
Ternyata tidak sekuno itu
Dan karena itulah, jurusan Sastra Jawa ternyata masih cukup kuat menarik peminat. Misalnya dalam konteks UGM: data resmi Admisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa memiliki rasio selektivitas 1:7 pada 2026.
Artinya, secara sederhana, terdapat sekitar tujuh pendaftar untuk setiap satu kursi yang tersedia. Angka tersebut memang tidak setinggi program studi populer seperti Ilmu Komunikasi yang mencapai 1:49, tetapi untuk sebuah program studi yang secara jumlah kursinya terbatas, rasio 1:7 menunjukkan bahwa peminat Sastra Jawa tetap cukup signifikan.
Yang lebih menarik, minat tersebut bukan fenomena sesaat. Dalam catatan selektivitas UGM, Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa memiliki rasio 1:9 pada 2025, 1:7 pada 2024, 1:11 pada 2023, dan 1:9 pada 2022. Dengan demikian, selama lima tahun terakhir, persaingan di program studi ini konsisten berada pada kisaran satu kursi diperebutkan tujuh hingga sebelas pendaftar.
UGM sendiri menempatkan Sastra Jawa bukan semata-mata sebagai studi tentang bahasa Jawa klasik atau kesenian tradisional. Jurusan ini menyebut dirinya berorientasi pada pendidikan dan penelitian bahasa serta sastra Jawa sekaligus “peduli terhadap perkembangan dan preservasi budaya Jawa”, dengan pendekatan berbasis riset.
Jurusan ini juga menyebut penelitian yang dikembangkan dapat mendorong kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kebudayaan. Jadi, tetap adanya peminat Sastra Jawa di UGM mungkin menunjukkan bahwa mempelajari Jawa bagi sebagian anak muda bukan sekadar upaya mempertahankan masa lalu, tetapi juga cara memahami kebudayaan yang masih hidup dan terus berubah. Persis penjelasan Bima saat saya ajak berbincang.
Dalam membincangkan sajen di Festival Sastra Yogyakarta 2026 siang itu saja sudah menjadi bukti betapa menariknya diskursus keilmuan Sastra Jawa. Para peserta silih berganti melempar tanya hingga memberi sudut pandang.
Festival yang digagas Oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta ini agaknya membuka mata publik yang masih kerap memandang remeh Sastra Jawa.
Penulis: Janu Wisnanyo
Editor: Muchamad Aly Reza
