Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora (Mojok.co/Ega Fansuri)

Demi menonton Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan, Jakarta, pasangan suami-istri asal Tangerang rela terjebak macet selama tiga jam. Ini adalah turnamen bulu tangkis berskala internasional pertama yang mereka saksikan langsung.

***

Dari kejauhan, kompleks Istora Senayan, Jakarta, tampak biasa saja pada Selasa (20/1/2026) siang itu. Matahari masih menggantung tinggi, memancarkan panas yang menyengat kulit. 

Tidak terlihat antrean yang mengular panjang di depan loket maupun pintu masuk. Pemandangan ini terasa wajar, mengingat ini baru hari pertama babak penyisihan turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2026.

Beberapa orang tampak berjalan santai melintasi pelataran. Sebagian lainnya memilih duduk berteduh di pinggir pagar sembari menunduk, sibuk menggulirkan layar ponsel mereka.

Jika seseorang hanya menilai dari suasana halaman depan, hari pembukaan turnamen internasional ini terasa seperti hari kerja biasa di Jakarta: tenang, datar, dan nyaris sepi.

indonesia masters.MOJOK.CO
Suasana di luar Istora Senayan masih tampak sepi di hari pertama babak penyisihan Indonesia Masters 2026, Selasa (20/1/2026) (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Namun, suasana “tenang” itu runtuh seketika saat kaki saya melangkah masuk ke dalam arena.

Begitu pintu akses menuju tribun terbuka, suasana berubah drastis 180 derajat. Hawa sejuk pendingin ruangan bercampur dengan gelombang suara yang memekakkan telinga. 

Teriakan ikonik “Indonesia, Indonesia” langsung menyambut saya. Bergema, susul-menyusul dari berbagai sudut tribun.

Balon tepuk, yang menjadi identitas penonton bulutangkis Tanah Air, dipukul berulang-ulang sehingga gemanya mengisi setiap celah udara di arena yang legendaris ini. 

Sementara di tengah lapangan, atlet tunggal putra Indonesia, Prahdiska Bagas Shujiwo, sedang berjibaku melawan perwakilan Taiwan, Wang Po-Wei.

Suasana tribun penonton Istora Senayan saat pertandingan babak penyisihan Indonesia Masters 2026, Shujiwo (Indonesia) melawan Wang (Taiwan). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Siang yang tampak lengang dari luar, menjelma menjadi keriuhan yang begitu berisik di dalam. Meskipun kursi-kursi tribun belum sepenuhnya terisi karena masih babak awal, suara penonton yang hadir sudah amat chaos

Mereka berteriak, bersorak, dan memberi tekanan, seolah tak mau kalah stamina dengan para atlet yang sedang memeras keringat di lapangan. Saya merasakan kontras itu secara nyata dan langsung: tampak sepi di luar, tapi semarak di dalam.

Pengalaman haru fans layar kaca

Di sela-sela jeda pertandingan, perhatian saya teralihkan dari lapangan ke barisan penonton. Di tribun atas, duduk sepasang suami istri yang wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa lelah, tapi tertutup oleh senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

Mereka adalah Edi (42) dan Nur (40), pasangan asal Tangerang, Banten. 

Bagi mereka, duduk di kursi tribun Istora hari ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Ini adalah sebuah pencapaian kecil yang harus ditebus dengan perjuangan menembus “neraka” jalanan ibu kota.

“Tadi macetnya luar biasa. Hampir tiga jam di jalan,” ujar Edi kepada saya, yang tengah berjalan menuju musala untuk menunaikan salat Zuhur.

Nur dan Edi menonton Indonesia Masters di Istora Senayan bersama putrinya. Ini adalah pengalaman pertama mereka nonton turnamen internasional secara langsung. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Normalnya, perjalanan dari Kabupaten Tangerang menuju Senayan melalui tol Tangerang-Merak hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Namun, bukan Jakarta kalau jalanan lancar-lancar saja.

Mereka berangkat pukul delapan pagi dengan harapan bisa tiba lebih awal. Sialnya, mereka baru bisa menapakkan kaki di Istora pukul 11.00 siang.

Edi, seorang karyawan swasta yang kebetulan sedang libur kerja, memutuskan mengajak istrinya, Nur, yang sehari-hari adalah ibu rumah tangga, untuk menonton langsung. Mereka bukan penonton “karbitan”. Keduanya adalah pecinta bulutangkis garis keras. 

Pasangan ini mengaku telah mengikuti perkembangan bulutangkis nasional sejak era kejayaan Taufik Hidayat hingga masa kini di era Jonatan Christie.

Namun, selama puluhan tahun itu pula, mereka hanyalah “fans layar kaca”. Dukungan mereka selalu terhalang oleh jarak dan waktu. Sorak-sorai mereka hanya terpantul di dinding ruang tamu rumah.

“Sudah lama sekali ingin nonton langsung turnamen internasional. Tapi ya begitu, selalu tertunda. Kadang karena pekerjaan, kadang karena jarak, atau alasan-alasan kecil lainnya,” ungkap Edi, mengenang niat yang kerap kali gagal terlaksana.

Hari ini, bermodal tiket presale seharga Rp40.000, Edi dan Nur akhirnya berangkat. Mereka memutuskan berangkat tanpa terlalu banyak pertimbangan rumit, meski harus berjibaku dengan kemacetan yang menguji kesabaran.

Atmosfer Istora yang tak bisa dibeli televisi

Duduk di tribun Istora memberikan perspektif yang sama sekali berbeda bagi Edi dan Nur. Di televisi, babak penyisihan kerap terasa datar dan sepi. Kamera sering kali gagal menangkap emosi mentah yang terjadi di arena.

Namun, dari tribun, bahkan pertandingan di babak awal pun terasa begitu hidup.

Setiap reli panjang disambut dengan tepuk tangan yang membahana. Setiap poin yang diraih, atau hilang, memicu sorak spontan yang menyentak dada.

Bulu tangkis, yang selama ini saya dan mereka kenal lewat layar kaca, terasa jauh lebih dekat. 

Suasana Istora Senayan tetap semarak meskipun perwakilan Indonesia, Shujiwo, kalah dari Wang asal Taiwan di babak penyisihan hari pertama Indonesia Masters 2026. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

“Kalau di TV memang tetap deg-degan, tetap ikut sedih dan emosi kalau kalah. Tapi nonton langsung itu vibes-nya jauh lebih terasa, kami teriak-teriak rasanya nggak capek,” ungkapnya. 

Bagi Nur dan Edi, pengalaman ini membuka mata. Ada rasa puas yang menjalar karena akhirnya bisa melihat dan mendengar sendiri apa yang selama ini hanya hadir secara audio-visual di rumah.

“Suara pukulan kok-nya nyaring banget ternyata,” kata mereka, sambil tertawa. 

Lebih dari itu, mereka akhirnya paham mengapa Istora Senayan dikenal sebagai arena yang “angker” dan intimidatif bagi lawan. Selama ini, mereka hanya mendengar tentang betapa militannya dukungan suporter Indonesia. Hari ini, mereka bukan lagi sekadar pendengar; mereka adalah bagian dari intimidasi itu.

“Biasanya cuma dengar teriakan dari TV, sekarang malah ikut teriak,” ujar Nur, kembali tertawa.

Macet tiga jam tak bikin kapok nonton Indonesia Masters

Daihatsu Indonesia Masters 2026 sendiri akan berlangsung sepanjang pekan, dari tanggal 20 hingga 25 Januari. Ribuan orang akan datang silih berganti. Banyak yang akan mengejar partai semifinal atau final demi melihat para bintang besar mengangkat trofi.

Namun, di tengah sorak-sorai ribuan manusia itu, saya menyadari satu hal penting: di balik kemegahan dan semarak Istora, selalu terselip cerita-cerita kecil yang personal. Cerita tentang pengalaman pertama seperti yang dialami Edi dan Nur.

Mereka adalah representasi dari ribuan pecinta bulutangkis di luar sana yang mungkin masih ragu untuk datang. Orang-orang yang datang bukan semata-mata karena ingin melihat siapa yang juara, tetapi karena ingin merasakan sendiri atmosfer magis yang selama ini hanya menjadi dongeng di layar televisi.

Bagi Edi dan Nur, perjalanan tiga jam menembus kemacetan Jakarta terbayar lunas. Lelah karena duduk berjam-jam di dalam kendaraan tergantikan oleh euforia meneriakkan “Indonesia!” bersama ribuan orang asing yang disatukan oleh kecintaan yang sama.

“Kalau besok masih ada kesempatan, datang lagi. Apalagi final, sepertinya wajib datang biarpun macet lagi,” pungkas Edi.

Hari masih siang, dan babak penyisihan baru saja dimulai. Perjalanan turnamen ini masih panjang. Namun, bagi sebagian penonton di tribun, termasuk pasangan suami istri yang duduk tak jauh dari saya, hari ini sudah lebih dari memuaskan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version