Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Ilustrasi -Pengalaman Naik Kereta Api (Mojok.co/Ega Fansuri)

Sebagai “alumni” KA Airlangga, naik kereta ekskutif macam KA Taksaka itu ibarat pengkhianatan kelas. Namun, sesekali wajib dicoba juga, demi kesehatan mental dan tulang punggung tentunya.

***

Bagi penumpang setia KA Airlangga rute Surabaya-Jakarta, kereta ekonomi bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah tempat terbaik buat menguji ketabahan dan daya tahan tulang belakang.

Bayangkan saja, dengan harga tiket murah meriah–setara tiga gelas kopi di coffee shop, kereta ini menawarkan paket uji ketahanan duduk di kursi tegak 90 derajat selama 11 jam. 

Saya sendiri, yang merupakan “alumni” KA Airlangga, merasa sebagai manusia kuat. Kalau boleh dibilang, daya tahannya melebihi para user KA Sri Tanjung rute Jogja-Surabaya. Dua kereta ini sama-sama “menawarkan” paket kursi tegak; bedanya, mereka cuma perlu “bertahan” 7 jam, sementara saya 11 jam.

Saya sendiri pernah menuliskan pengalaman seru sekaligus haru naik KA Airlangga dalam liputan Mojok berjudul “Coba-coba Naik KA Airlangga Jakarta-Surabaya: Bahagia Tiketnya Cuma Seharga 2 Porsi Pecel Lele, tapi Berujung Tak Tega sama Penumpangnya”.

Namun, minggu lalu, saya melakukan sebuah “pengkhianatan kelas”. Saya, yang merupakan pengguna setia kereta-kereta berfasilitas kursi tegak, akhirnya bisa mencicipi KA Taksaka. Ia adalah kereta kelas eksekutif, yang kalau dibandingkan dengan kereta ekonomi, jelas nggak apple to apple.

Hanya saja, sebagai “alumni” KA Airlangga, ada rasa gegar budaya saat pertama kali naik kereta mewah tersebut.

Dari yang biasanya naik kereta harga Rp80-an, kini Rp600 ribu

Keputusan naik KA Taksaka sebenarnya bukan datang dari saya sendiri, tetapi fasilitas kantor. Jujur saja, saya orangnya gampang; lebih suka mencari opsi termurah meski mengorbankan sedikit kenyamanan, daripada harus merogoh kocek lebih dalam. 

Salah satunya urusan kereta: kalau ada opsi yang lebih murah, se-nggak-enak apapun mending ambil opsi itu. Namun, karena tiket kereta eksekutif ini sudah dibelikan oleh kantor, tidak mungkin saya tolak.

Tiap kali pergi ke Jakarta, KA Bengawan adalah andalan saya. Dengan tiket nggak sampai Rp80 ribu, saya sudah bisa turun di Pasar Senen dengan aman, meski punggung agak pegal.

Atau juga, saya pernah mencoba cara “ekstrem” karena nggak kebagian KA Bengawan. Yakni dengan naik KA Kahuripan dari Jogja ke Bandung, kemudian estafet dengan naik KA Cikuray untuk sampai di Bekasi. Dari Bekasi ke Jakarta, tentu menggunakan KRL. Semua dilakukan demi satu kata: murah.

Makanya, ketika kawan kantor memberi tahu harga tiket KA Taksaka, jujur saja saya langsung kaget. Saya yang biasanya menikmati kereta ekonomi dengan harga nggak sampai Rp80 ribu, kini akan naik kereta dengan harga tiket hampir delapan kali lipatnya: Rp600 ribu.

“Anjir, ini sih sudah bisa 8 kali bolak-balik ujung barat ke ujung timur Jawa,” canda saya saat itu.

Maka, dengan sedikit rasa canggung sebagai penumpang yang terbiasa hidup prihatin di jalur subsidi, saya melangkah menuju peron eksekutif. Saya resmi membunuh kelas.

Biasanya duduk tegak di KA Airlangga, kini bebas ongkang-ongkang dan rebahan

Gegar budaya selanjutnya, bahkan terjadi bahkan sebelum kereta berangkat. Begitu menginjakkan kaki di gerbong KA Taksaka, telinga saya disambut oleh keheningan–sesuatu yang tak saya jumpai di KA Airlangga.

Sebagai alumni kereta ekonomi tersebut, saya memahami betapa bising dan “chaos-nya” transportasi ini. Namun, di KA Taksaka, tidak ada suara bising orang atau aroma menyengat dari nasi bungkus yang dibawa penumpang. 

Lantai gerbongnya juga begitu bersih, hingga saya tak tega jika harus mengotorinya. Kemudian saat mencari kursi, saya sempat tertegun. Di KA Airlangga, kursinya berupa bangku panjang yang memaksa kita duduk intim dengan orang asing, kadang saling desak, lutut vs lutut. 

Sementara di KA Taksaka, kursi adalah singgasana pribadi dengan ruang kaki yang begitu luas. Hingga saya bisa melakukan peregangan tanpa harus meminta izin kepada lutut orang di depan saya.

Duduk di “kursi pribadi” kereta eksekutif ini rasanya jauh berbeda karena saya dengan bebas melakukan apapun. Mau main laptop, meja lipat telah tersedia. Mau ongkang-ongkang, juga tak ada penumpang lain yang merasa terganggu. Mau rebahan pun, tinggal atur kemiringan kursi.

Berbeda dengan KA Airlangga, di mana setiap aktivitas dan gerak-gerak kita di kursi tegak, harus diperhitungkan secara presisi agar penumpang lain tak terganggu.

Akhirnya, saya menikmati kereta yang tak menyiksa tulang belakang

Momen paling epik dalam perjalanan ini adalah saat saya menekan tombol reclining. Kursi itu turun perlahan, menyangga punggung saya dengan sudut yang selama ini hanya ada dalam mimpi di KA Airlangga. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan kereta api saya, tulang punggung saya tidak meronta-meronta. Ia justru merasa begitu lega.

Di kelas eksekutif ini, saya menyadari bahwa kesehatan tulang belakang benar-benar terjaga. Jika di KA Airlangga saya harus terjaga sepanjang malam demi menjaga keseimbangan leher agar tidak jatuh ke bahu penumpang sebelah, di KA Taksaka saya bisa tidur terlelap. Tidak ada lagi leher kaku atau pinggang yang terasa seperti habis dipukuli.

Bahkan, saya sempat bercanda ke teman kantor bahwa untuk pertama kalinya saya bisa tidur di dalam kereta. Dan, itu terjadi siang bolong, saking nyamannya.

Perjalanan dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tugu ini mengubah cara pandang saya. KA Taksaka pada akhirnya bukan hanya soal kecepatan atau fasilitas mewah. Ini adalah soal membeli “waktu istirahat”.

Selama ini, dalam hal naik kereta, saya menganggap kemewahan adalah dosa. Namun, KA Taksaka mengajarkan bahwa rasa nyaman adalah “investasi” agar kita sampai di tujuan dengan kondisi mental yang waras dan tubuh yang tidak remuk.

Namun, apakah saya akan melupakan KA Airlangga, atau kereta-kereta dengan kursi tegak lainnya? Tentu tidak. KA Airlangga adalah guru kesabaran saya. Tapi, toh, nggak ada salahnya sesekali mencoba sesuatu yang nggak menyiksa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Users Sri Tanjung Kaget saat Pertama Kali Naik KA Jaka Tingkir: Kereta Api Ekonomi Nggak Kayak Ekonomi, Malu karena Jadi Kampungan dan liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version