Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ortu Kuras Tabungan buat Anak Jadi Polisi malah Kena Tipu “Intel”, Awalnya Stres tapi Kini Bersyukur

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 September 2025
A A
Ortu kuras tabungan buat anak jadi polisi malah kena tipu. Sempat bikin stres tapi kini bersyukur tak jadi sasaran amuk tetangga MOJOK.CO

Ilustrasi - Ortu kuras tabungan buat anak jadi polisi malah kena tipu. Sempat bikin stres tapi kini bersyukur tak jadi sasaran amuk tetangga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Demi memuluskan jalan anak menjadi anggota polisi, orangtua rela menguras tabungan lebih dari Rp10 juta. Sayangnya, uang tersebut amblas karena malah kena tipu.

Awalnya, situasi itu membuat stres. Akan tetapi, kini malah bersyukur karena gagal menjadi polisi sama artinya dengan tidak menjadi musuh tetangga dan masyarakat Indonesia. Kendati sesekali tetap ada rasa kesalnya sebab uang ludes secara cuma-cuma.

***

Sudah sejak SMP Brian* (22), bukan nama asli, memang ingin menjadi seorang polisi. Apalagi dia memiliki saudara jauh yang juga seorang anggota polisi (setidaknya mengaku begitu).

Dari saudara jauhnya itu pula lah optimisme Brian kerap dipompa. Dalam setiap kesempatan ketemu, si saudara selalu memberi jaminan kalau kelak jika sudah lulus SMA, si saudara bisa “membawa” Brian masuk menjadi “pemuda berseragam” dengan mulus.

Meski citra berangsur rusak, tapi bertekad jadi polisi baik

Demi keamanan Brian dan keluarga, identitas detail Brian harus Mojok sembunyikan. Yang jelas, Brian punya tekad kuat dan niat mulia menjadi seorang anggota kepolisian.

Brian dan orangtuanya sebenarnya tidak tutup mata dan telinga atas kabar-kabar buruk yang selalu menyeret oknum polisi. Mulai dari kasus Sambo, tragedi Kanjuruhan, kematian Gamma, dan sederet kasus kekerasan yang melibatkan oknum yang seharusnya mengayomi masyarakat tersebut.

“Justru karena itu. Aku punya tekad untuk memperbaiki citra polisi. Benar-benar mengayomi. Walaupun aku niatnya pakai jalur dalam, tapi setidaknya aku ingin memanfaatkan itu untuk kebaikan nantinya, tidak sekadar ambil kesempatan,” tutur Brian, Sabtu (6/9/2025).

“Orangtua juga begitu. Mendukung asal kelak aku jadi petugas yang baik, tidak suka kekerasan,” sambungnya.

Mondar-mandir bawa uang demi jadi polisi

Lulus SMA, Brian mencoba menghubungi saudara jauhnya—yang mengaku anggota polisi tadi.

Berbeda dari sebelum-sebelumnya, Brian sebenarnya menangkap kesan tak antusias dari si saudaranya tersebut. Tampak ogah-ogahan betul.

“Tapi dia ngasih aku rangkaian berkas yang harus kulengkapi. Sejak menyerahkan berkas itu harus bayar. Biaya administrasi katanya,” ucap Brian.

Tak berhenti di situ, Brian diminta mengerjakan beberapa materi ujian. Itupun harus bayar lagi.

Di titik itu, Brian sebenarnya sudah janggal, karena aneh saja rasanya daftar hingga ujian tidak di kantor instansi resmi. Melainkan si saudara mengajak bertemu di kediamannya. Mengerjakan soal ujian juga di rumahnya: rumahnya hanya beda kecamatan dengan rumah Brian.

Iklan

“Katanya karena lewat orang dalam. Jadi diurus di luar kantor. Cuma memang di rumahnya itu aku nggak melihat ada foto dia atau sesuatu yang menunjukkan kalau dia benar-benar polisi,” ungkap Brian.

Tabungan terkuras, ternyata kena tipu

Cukup banyak rangkaian yang harus Brian ikuti dari si saudara. Paling puncak adalah, Brian harus menyerahkan uang lagi untuk biaya seragam. Tabungan orangtua Brian—yang hanya buruh pabrik—benar-benar dikuras demi memuluskan cita-cita Brian menjadi polisi.

“Waktu itu orangtua sudah bingung, kok prosesnya panjang sekali, tapi nggak jadi-jadi,” ucap Brian.

Saat Brian menanyakan kapan kepastian dia bisa resmi berseragam dan benar-benar menyambangi kantor resmi untuk dikenalkan sebagai anggota baru? Si saudara jauhnya tadi meminta Brian sabar menunggu informasi lebih lanjut.

Namun, hingga berbulan-bulan kemudian, si saudara tak kunjung memberi kabar. Nomornya bahkan tidak bisa dihubungi. Begitu juga kediamannya yang sudah tidak ditempati lagi.

“Jadi orang itu sebenarnya bukan asli orang sini. Cuma lama menetap di daerahku karena ditugaskan di daerah sini. Kalau kata orang sekitar, dia itu ngaku intel. Tapi masa intel ngaku? Kan Aneh,” kata Brian.

“Singkat cerita, sejak dulu dia akrab sama bapak, akhirnya jadi kayak saudara sendiri. Bapak kalau bilang ya saudara jauh gitu lah,” sambungnya.

Awalnya, Brian mengira si orang tersebut memang benar-benar saudara: masih ada ikatan darah. Dia baru fakta di atas setelah memastikan kalau orang tersebut lenyap membawa uang-uang yang orangtuanya berikan, yang sedianya diniatkan untuk mendaftar jadi polisi lewat jalur dalam.

Brian, orangtuanya, sekaligus warga setempat akhirnya baru menyadari, kalau selama si penipu tadi tinggal di sana, sebenarnya sudah banyak gejala-gejala janggal dan mencurigakan. Sudah sejak dulu. Hanya tertutup karena warga sudah kadung percaya kalau orang itu adalah intel. Nggak tahunya ternyata intel gadungan.

Awalnya stres dan rutuki kebodohan sendiri

Kasus penipuan itu sempat membuat geger, baik di desa Brian maupun di desa si penipu tadi. Banyak yang menyarankan orangtua Brian lapor ke polisi. Karena eman, kalau ditotal, ya lebih dari Rp10 juta uang orangtua Brian melayang.

“Tapi bapak tahu lah, kami niat pakai orang dalam saja sudah salah. Masa mau bikin laporan. Ya malah kami yang kena,” ungkap Brian. Alhasil, pilihannya hanya tinggal merelakan sambil merutuki kebodohan sendiri.

“Jadi kalau daftar-daftar gitu lewat jalur resmi saja ya teman-teman,” saran Brian kepada pembaca Mojok.

Brian dan orangtuanya tentu saja sempat merasa stres. Mengumpulkan uang sebanyak itu untuk ukuran orangtua Brian tentu butuh waktu sangat lama. Mau direlakan karena sudah kepalang terjadi, tapi kok ya bikin kesel sendiri kalau diingat-ingat lagi.

Bersyukur tak jadi musuh tetangga dan masyarakat

Namun, seiring waktu, kini Brian dan orangtuanya malah bersyukur karena penipuan itu membuat Brian batal jadi polisi. Mengingat, saat ini—apalagi setelah kematian Affan Kurniawan yang dilindas rantis—kebencian dan kemarahan publik seperti tak terbendung pada aparat sekaligus pejabat.

“Tetangga-tetangga banyak yang menyumpah serapahi dan mengutuk polisi imbas kasus itu,” ujar Brian.

Di titik itu, kadang Brian dan orangtuanya saling berbisik, kena tipu ternyata ada berkahnya juga. Seperti diselamatkan takdir dari menjadi sasaran sumpah serapah dan kutukan masyarakat.

“Jadi karyawan minimarket (pekerjaan Brian dua tahun terakhir) ternyata nggak buruk-buruk amat,” kata Brian menutup ceritanya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ditipu Polisi Gadungan Jelang KKN, Dijadikan Tersangka Pencucian Uang dan Ikut “Sidang PPATK” via Aplikasi Zoom atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 6 September 2025 oleh

Tags: biaya daftar polisidaftar polisidaftar polisi orang dalamkasus polisipenipuan polisipilihan redaksiPolisisyarat jadi polisi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Resign after lebaran karena muak dengan kantor toxic demi work life balance di Jogja MOJOK.CO
Urban

Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
Kucing, hewan peliharaan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.