Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Ilustrasi - nongkrong di kafe (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pukul empat sore di Jakarta Selatan, biasanya menjadi puncak dari hiruk-pikuk kota. Namun, di dalam sebuah kafe yang hampir penuh di kawasan tersebut, suasana justru terasa kontras. 

Tidak terdengar riuh percakapan atau tawa yang biasanya memenuhi ruang publik. Dari belasan meja yang terisi, sebagian besar hanya ditempati oleh satu orang saja. Di balik kepulan uap kopi, terdapat deretan anak muda yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. 

Dari yang saya saksikan sendiri, ada yang menatap layar laptop dengan serius, menggulir ponsel tanpa ekspresi, dan ada pula yang sekadar memandangi jendela, seolah membiarkan waktu berjalan pelan di atas meja yang hanya berisi satu gelas kopi dan sebuah tas kecil.

Yang perlu diketahui, fenomena ini bukan sekadar tren estetika atau gaya hidup semata. Bagi banyak anak muda di Jakarta Selatan, nongkrong sendiri adalah sebuah strategi bertahan hidup secara ekonomi maupun mental di tengah kota yang semakin mahal dan melelahkan.

Nongkrong sendirian, budaya baru anak muda Jakarta Selatan 

Di sudut ruangan, ada Dimas (26), seorang pekerja kreatif lepas, telah duduk sejak selepas makan siang. Beberapa hari sebelumnya, kami memang sudah janjian untuk bertemu di tengah kesibukannya menyelesaikan deadline pekerjaan pada akhir tahun.

Dengan segelas kopi susu seharga Rp35 ribu yang sudah hampir habis, ia belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Masih betah, katanya. Sebab, bagi Dimas, kafe adalah sebuah “ruang ternyaman” untuk menunda kepulangan ke realitas yang membosankan: di kos, bengong, kemudian malah overthinking.

Dimas sendiri tinggal di sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Tebet. Kamar itu tidak menawarkan banyak hal; hanya ada tempat tidur dan lemari, tanpa ruang tamu maupun pendingin udara. 

“Kalau pulang jam segini, rasanya cepat sekali malam,” ujarnya, Sabtu (27/12/2025) lalu. “Itu mah jam-jam rawan, ujung-ujungnya malah overthinking mikirin yang nggak-nggak.”

Baginya, menghindari kesunyian yang terlalu panjang di kamar kos yang sempit adalah prioritas. Kafe memberikan apa yang tidak dimiliki tempat tinggalnya: akses Wi-Fi, pendingin ruangan (AC), kursi yang nyaman, dan toilet bersih yang dapat ia gunakan selama berjam-jam hanya dengan modal satu gelas kopi.

“Bayar psikolog mahal, healing pakai kopi modal 35 ribu”

Di tengah upah minimum (UMR) DKI Jakarta yang berada di angka Rp5,2 juta  per bulan, setiap pengeluaran kecil harus dihitung dengan cermat. Gaji tersebut harus dibagi-bagi untuk biaya sewa, makan, transportasi, dan kebutuhan dasar lainnya yang terus merangkak naik. 

Dalam konteks ini, bagi Dimas, duduk berjam-jam di kafe sering kali menjadi keputusan yang paling rasional. Alih-alih dianggap sebagai foya-foya, membayar Rp35 ribu untuk sebuah meja di kafe adalah cara untuk mengelola tenaga dan waktu. 

Pekerja Jaksel ini bahkan tertawa kecil saat mengatakan bahwa pilihan ini lebih masuk akal daripada pulang cepat lalu hanya “bengong” di dalam kamar. Atau, masih dengan nada bercanda, pilihan ini juga lebih masuk akal daripada bayar psikolog.

Baginya, dengan satu gelas kopi, ia mendapatkan fasilitas yang mendukung produktivitasnya sekaligus kenyamanan yang membantu menjaga kewarasannya sebelum harus menghadapi hari esok yang sama melelahkannya.

“Bayar psikolog mahal. Healing sendiri modal segelas kopi 35 ribu udah bisa waras lagi,” ujarnya, dengan nada bercanda.

Pelarian dari rutinitas yang melelahkan

Budaya nongkrong di Jakarta Selatan kini mengalami pergeseran makna. Jika dulu nongkrong identik dengan keramaian dan obrolan panjang, kini ia berubah menjadi aktivitas sunyi yang dijalani sendirian. 

Hal ini bukan terjadi karena mereka tidak memiliki teman, melainkan karena adanya keinginan kuat untuk berhenti sejenak dari tuntutan sosial yang menguras energi.

Misalnya, dalam kasus Dimas, ia menyebut ada kelelahan yang sering kali tidak terlihat dengan mata. Seperti tuntutan untuk selalu ramah, responsif, dan hadir penuh dalam setiap interaksi sosial. 

Alhasil, dengan duduk sendiri, seseorang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Di kafe, diam menjadi sesuatu yang sah. Seseorang tidak perlu menjelaskan apapun kepada siapa pun dan tidak perlu mengikuti ritme orang lain. 

Pendeknya, waktu sepenuhnya menjadi milik pribadi, tanpa perlu dipertanggungjawabkan kepada orang lain.

“Intinya kalau sendirian itu, kita memiliki ruang buat memaknai ulang diri kita sendiri. Setelah seharian kerja, di mana tubuh kita ini jadi milik bos.”

Riset psikologi perkotaan menunjukkan, bahwa kelelahan mental pada anak muda seringkali muncul sebagai rasa letih yang terus menetap, seperti sulit fokus, mudah lelah, dan cepat jenuh. 

Kondisi ini jamak dialami oleh mereka yang berada di awal karier (early career) yang hidup di kota padat dengan ritme cepat serta ruang pribadi yang sangat terbatas.

Bagi mereka, kebutuhan utamanya bukanlah liburan mewah atau hiburan yang ramai, melainkan sebuah jeda singkat yang memberikan rasa aman. Duduk sendirian di kafe, seperti yang dilakukan Dimas dan banyak anak muda lain di Jakarta Selatan, tanpa tuntutan untuk berperan atau berbicara, menjadi cara sederhana namun efektif untuk memulihkan diri (self-recovery).

“Ada waktu di mana kita butuh ngobrol dengan orang lain. Tapi ada waktunya juga kita kudu ngobrol dengan diri sendiri.”

***

Di Jakarta Selatan yang serba mahal, strategi bertahan hidup tidak selalu berbentuk keputusan-keputusan besar. Ia seringkali muncul dalam bentuk yang sederhana, seperti memilih untuk duduk lebih lama di sebuah kafe dan membayar secangkir kopi.

Nongkrong sendirian bukanlah tanda kegagalan dalam bersosialisasi. Sebaliknya, ini adalah cara yang paling masuk akal untuk bernapas lebih panjang dan bertahan di tengah tekanan hidup kota metropolitan. 

Kafe telah bermutasi dari sekadar tempat pertemuan menjadi sebuah “sanctuary” atau perlindungan bagi mereka yang mencari ketenangan di tengah bisingnya Jakarta.

Saya jadi teringat kata Dimas. Ia bilang, tanpa sadar kita semua memiliki kecenderungan untuk “menepi di tengah keramaian”, bengong sendirian di tempat ramai. Sekali lagi bukan karena introvert, tak bisa bersosialisasi, apalagi tak punya teman, tapi menjaga kewarasan dengan memberi ruang memahami diri sendiri.

“Kadang kan ngobrol sama diri sendiri terasa lebih jujur daripada petuah orang lain,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version