Lulusan S2 Nekat Merantau ke Jakarta karena Muak dengan UMR Jogja: Baru Sebulan Kerja Balik Nganggur, Kantor Bangkrut

Lulusan S2 Nekad Merantau ke Jakarta karena Muak dengan UMR Jogja: Sebulan Kerja Harus Nganggur, Kantor Bangkrut.MOJOK.CO

Ilustrasi - Lulusan S2 Nekad Merantau ke Jakarta karena Muak dengan UMR Jogja: Sebulan Kerja Harus Nganggur, Kantor Bangkrut (Mojok.co)

Ada banyak alasan seseorang memutuskan kerja di Jakarta. Salah satunya karena UMR yang tinggi di ibu kota. Oleh karena itu, beberapa orang pun nekat meninggalkan kampung halaman mereka buat merantau ke Jakarta–dengan harapan mengubah nasib.

Salah satunya adalah Dito (28). Lelaki asal Jogja itu bertekad meninggalkan kota kelahiran setelah tak kuat dengan kecilnya UMR Kota Gudeg. Padahal, ia merupakan lulusan S2, yang idealnya memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan gaji pantas.

Pada 2022 lalu Dito menyelesaikan studi S2-nya di sebuah PTN Jogja. Setelah lulus, ia bekerja sebagai analis media di sebuah perusahaan rintisan. Kurang lebih, Dito bekerja di kantor tersebut hingga akhir 2023.

Sayangnya, setelah setahun bekerja, ia merasa amat stuck. Baik itu soal karier maupun gaji yang diterima.

“Di kantor yang lama nggak ada jenjang karier, selamanya kayaknya bakal di situ-situ aja,” ucapnya, ketika dijumpai Mojok, Jumat (21/3/2025). “Apalagi gajinya juga kecil banget, susah diharapkan,” imbuhnya.

Bekerja untuk orang tua dan menghidupi adiknya yang berkebutuhan khusus

Padahal, Dito adalah seorang sandwich generation. Ia harus menghidupi ibunya yang merupakan seorang janda serta satu adik berkebutuhan khusus.

“Ibuku memang nggak kerja, karena harus mengurus adikku, anak autis. Makanya sejak bapak meninggal, aku jadi kepala keluarga,” ungkapnya.

kerja di jakarta.MOJOK.CO
Di Jogja, upah Dito sangat minim. Oleh karena itu, ia memutuskan melamar kerja di Jakarta dengan tujuan mengubah nasib. (Gambar hanya ilustrasi Sumber: Freepik)

Bermodal gaji Rp2,7 juta sebulan, Dito merasa itu masih jauh dari kata cukup. Tiap selesai gajian, biasanya dia menyisihkan Rp1 juta untuk pegangang ibunya. Sedangkan Rp1,7 juta sisanya, ia pakai buat menutup uang bensin dan makan selama sebulan, serta melunasi cicilan-cicilan paylater-nya.

“Gajian itu rasanya cuma nempel seminggu doang. Kayak menguap aja gitu duitnya, tiba-tiba habis kudu ngirit lagi,” jelasnya.

Oleh karena itu, setelah setahun bekerja di perusahaan tersebut, Dito terang-terangan bilang ke atasannya ingin resign. Kebetulan memang dia sudah jauh-jauh hari apply lamaran ke beberapa perusahaan di Jakarta dan ada satu yang diterima.

“Awal tahun 2023 aku sudah mulai kerja di Jakata. Makanya, Desember sebelumnya aku udah pamitan ke teman-teman di kantor.”

Kerja di Jakarta dengan gaji dua kali lipat Jogja

Dito diterima kerja di sebuah startup penyedia jasa coworking space di Jakarta Pusat. Ia bercerita, perusahaan tempatnya bekerja cukup terkenal. Ia memiliki puluhan coworking space di berbagai kota, termasuk Jakarta, Jogja, dan Surabaya.

Gaji yang ditawarkan pun standard UMR Jakarta. Per 2023 lalu, saat pertama Dito kerja di Jakarta, UMR Jakarta berada di kisaran Rp4,9 juta.

“Kalau aku hitung, dua kali UMR Jogja lah,” ujarnya. “Memang rasanya seperti bumi dan langit. Dengan porsi kerja dan posisi yang sama, gajinya beda jauh.”

Ia pun akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya, pendidikannya yang sampai S2, bisa terbayar dengan bekerja di tempat yang mengupahnya layak. Dito juga semakin yakin kalau nekat kerja ke Jakarta memanglah cara paling instan buat menggapai kesuksesan.

Baca halaman selanjutnya…

Baru sebulan kerja tapi udah balik nganggur. Kantor alami gonjang-ganjing.

Tak sampai dua bulan kerja di Jakarta, kembali nganggur karena kantor mau bangkrut

Sialnya, bulan madu Dito dengan kantornya hanya bertahan sebulan. Setelah menerima gaji untuk bulan pertamanya kerja di Jakarta, kabar-kabar tak sedap soal perusahaan mulai ia dengar.

Dimulai dari beberapa investor yang kabarnya mulai menarik diri, hingga keputusan menutup banyak coworking space di berbagai kota.

“Yang membuatku makin panik, ada isu beberapa pegawai mau di-lay off,” jelasnya.

Sialnya, isu lay off itu bukan cuma isapan jempol. Atasannya menginformasikan akan ada beberapa pekerja yang harus dirumahkan karena perusahaan sedang berhemat.

Ilustrasi – Meski baru sebulan kerja di Jakarta, isu lay off sudah tersebar di kalangan karyawan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Lebih sialnya lagi, keputusan yang diambil adalah merumahkan para pekerja baru. Termasuk dirinya.

“Aku lupa tepatnya ada berapa. Tetapi semua anak baru, pada dirumahkan semua pas itu.”

Kala itu, pihak kantor tak mengatakan bahwa para pegawai ini “dipecat” atau “di-PHK”. Kata yang dipakai adalah “dirumahkan”. “Jadi kami disuruh nggak kerja dulu, dan nggak digaji. Katanya kalau situasi dah stabil, bakal dipanggil buat kerja lagi,” jelas Dito.

Dua bulan luntang-lantung di Jakarta, memutuskan kembali ke Jogja

Dalam situasi “setengah-menganggur” itu, Dito tak berani menceritakan semuanya ke ibunya. Ia tak mau sang ibu jadi kepikiran mengenai kesulitannya kerja di Jakarta.

Sambil menunggu kejelasan dari pihak kantor, Dito bertahan dengan sisa-sisa gaji bulan lalu. Sementara untuk transfer ke orang tua, ia meminjam uang ke beberapa temannya.

Sayangnya, hingga dua bulan, tak ada pemberitahuan dari pihak kantor mengenai statusnya. Malahan, belakangan dia diberi tahu oleh sesama mantan karyawan bahwa kantor tersebut telah dinyatakan bangkut, sudah tak beroperasi lagi.

“Tapi sampai sekarang, jujur nggak ada pemberitahuan lagi. Udah putus aja nggak ada komunikasi.”

Setelah kejadian itu, Dito memutuskan kembali ke Jogja. Hingga saat ini, ia bekerja di sebuah kantor yang bergerak di bidang komunikasi dan informasi di Jogja.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pahit Kerja di Tanah Abang: 5 Tahun Tak Bisa Mudik, “Terjebak” dalam Sepinya Lebaran Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Exit mobile version