Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kos Pogung, Saksi Bisu Mahasiswa UGM Bertahan Hidup Modal 100 Ribu Sebulan dan Jadi Joki Prakerja Buat Lulus Kuliah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
1 Juli 2024
A A
Kos Pogung, Saksi Bisu Mahasiswa UGM Bertahan Hidup Modal 100 Ribu Sebulan dan Jadi Joki Prakerja Buat Lulus Kuliah.MOJOK.CO

Ilustrasi Kos Pogung, Saksi Bisu Mahasiswa UGM Bertahan Hidup Modal 100 Ribu Sebulan dan Jadi Joki Prakerja Buat Lulus Kuliah (Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dukuh Pogung, Sinduadi, Sleman, adalah tempat tinggal bagi ribuan mahasiswa UGM. Kawasan indekos berjuluk “labirin” ini menjadi saksi kerasnya kehidupan mahasiswa UGM, yang jarang dibicarakan orang-orang.

Lokasi Pogung sendiri memang sangat strategis. Ia berada dekat dengan UGM, khususnya Fakultas Teknik. Maka tak heran kalau mayoritas mahasiswa UGM memilih ngekos di kawasan ini.

Kendati demikian, Pogung kerap bikin repot para mahasiswa. Penyebabnya, di sana banyak perempatan gang-gang kecil. Sejumlah portal juga kerap tutup di jam yang tak menentu; kadang sore, kadang malam, kadang malah tutup terus.

Maka tak heran kawasan ini dijuluki labirin, karena kerap bikin kecele dan nyasar para penghuninya. Terutama saat malam hari.

Selain bikin banyak orang nyasar, kos Pogung ternyata juga merekam berartnya kehidupan kuliah mahasiswa UGM di perantauan. Salah satunya adalah Tiko (20). 

Mahasiswa UGM angkatan 2022 asal Kediri, Jawa Timur, ini mengaku pernah bertahan hidup hanya modal Rp100 sebulan. Ketika ia menceritakan hal tersebut kepada saya tiga bulan lalu, saya kaget. Bagaimana bisa, seorang anak kos cuma mengeluarkan uang Rp100 sebulan, sementara buat bensin dan rokok saja sudah lebih.

Berawal dari transferan macet, jadi terbiasa

Sebenarnya, awal mula Tiko bisa bertahan hidup dengan Rp100 ribu per bulan karena transferan yang macet dari orang tua. Bapak-ibunya, yang dua-duanya bekerja sebagai petani, biasa mengirim uang saku dua minggu sekali. Tiap awal dan pertengahan bulan.

Namun, di saat transferan harusnya sudah ia terima, belum ada uang yang masuk ke rekening Tiko. “Padahal di ATM tinggal 50 ribu uang yang bisa ditarik,” kenang mahasiswa UGM yang masih bertahan di kos berukuran 2×3 meter di Pogung ini, Kamis (8/2/2024) lalu.

Alhasil, duit Rp50 ribu itu harus ia manfaatkan sampai menerima transferan, yang waktunya kapan saja dia belum tahu. Cara ekstrem pun dia trabas agar bisa berhemat. 

Saat ngampus, Tiko memilih jalan kaki agar tak perlu beli bensin. Kira-kira, sekitar 15 menit dia jalan kaki dari Pogung ke tempat kuliahnya. Puasa Daud–sehari puasa, sehari enggak–juga dijalani.

Ia yang biasa malas menanak nasi, mau tak mau kudu memanfaatkan rice cookernya. Sayur seharga Rp5.000 yang dia beli burjoan daerah Pogung, dipakai buat makan dua kali.

“Ternyata ya baik-baik aja. Nggak ada masalah. Ngampus perut kosong karena puasa nggak lemes-lemes amat,” ujarnya.

Tak terasa seminggu lebih rutinitas itu ia jalani. Ia pun tak sadar kalau ternyata uang Rp50 ribunya masih sisa. “Aku pikir-pikir, kalau begini terus bisa ngirit banget kan.”

Hidup prihatin demi memenuhi kebutuhan tersier

Merasa mampu bertahan hidup dengan dana minim, Tiko pun berpikir seandainya rutinitas itu dia lanjutkan, toh dia bakal masih hidup.

Iklan

Apalagi, uang saku yang ngepres dari ortu tak cukup buat memenuhi kebutuhan tambahannya, seperti nongkrong dan nonton konser. 

Makanya, ia harus hidup sehemat mungkin agar bisa nabung buat memberi makan ego tongkrongannya.

“Ya akhirnya selama berbulan-bulan lambung udah kuat hidup prihatin. Terbantu juga di kos ada kulkas umum, kami bisa nyetok sayur buat masak, jadi tinggal bikin nasi,” kata Tiko.

“Sebenarnya nggak 100 ribu juga sih, Mas. Itu estimasi pengeluaran buat makan aja, dan memang kadang nggak lebih dari segitu,” sambungnya. 

Tiko, yang kisahnya itu pernah Mojok muat dalam liputan berjudul “Cerita Mahasiswa UGM Hidup Prihatin Rp100 Ribu Buat Sebulan”, kembali saya hubungi pada Senin (1/7/2024) sore.

Sampai saat ini ia mengaku masih tinggal di Pogung, di kosan yang sama saat kami terakhir kali bertemu. Namun, ia sudah tak seprihatin dulu. Sambil kuliah, kini dia nyambi kerja part time di sebuah toko sepatu wilayah Sleman.

“Ya nggak mau to, Mas, kalau mau prihatin lagi. Hahaha!,” balasnya, singkat.

Kos Pogung saksi mahasiswa UGM mengjoki Kartu Prakerja buat biaya kuliah

Kisah lain di kos Pogung datang dari Andi* (24). Ia adalah mahasiswa UGM yang pernah bertahan hidup dengan cara menjadi joki Kartu Prakerja. Bedanya, kalau Tiko mengkis-mengkis, Novan justru hidup bergelimang duit. Bagaimana tidak, dengan menjadi joki, mahasiswa asal Jakarta ini setidaknya bakal mengantongi Rp3,6 juta sebulan, dengan effort yang tak terlalu ngoyo.

Kisah Andi sendiri juga pernah Mojok muat dalam liputan berjudul “Jadi Joki Prakerja, Gen Z Broken Home Jakarta Bisa Lulus UGM Tanpa Kiriman Duit Orang Tua” pada 27 Februari 2024.

Mahasiswa UGM tersebut merupakan anak broken home. Uang kuliahnya pun dia dapatkan dari usahanya sendiri. Maka tak heran kalau sejak awal kuliah, Andi sudah pernah mencicipi banyak pekerjaan paruh waktu.

Namun, berkah dari perjuangannya itu malah muncul saat pandemi. Tatkala orang lain kesulitan mencari pekerjaan, Andi malah dipercaya menjadi joki Prakerja oleh para tetangga kosnya di Pogung.

Hidupnya pun berubah. Banyak kebutuhannya terbeli, termasuk laptop dan HP baru. Bahkan, sampai lulus kuliah, UKT-nya dibayar dari uang hasil menjoki.

“Soal duit ini haram atau halal ayo berdebat. Toh, jadi joki juga tetep ada usahanya kan? Paling nggak Prakerja itu lebih berguna dari orang tuaku,” kata dia sambil tertawa, saat terakhir kali kami bertemu.

Pada akhir 2023 lalu Andi lulus dari UGM. Ia pun meninggalkan Pogung, tempatnya “mendapatkan rezeki” dan kembali ke Jakarta untuk meneruskan hidup.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Kos Kutek Depok, Saksi Rusaknya Mahasiswa UI di Perantauan, Bikin Susah Warga dan Orang Tua

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2024 oleh

Tags: kos pogungkos ugmmahasiswa ugmPogungUGMugm jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO
Edumojok

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Waspada "Silent Killer", Guru Besar UGM Sebut Emboli Paru Sering Terlambat Terdeteksi.MOJOK.CO
Kesehatan

Waspada “Silent Killer”, Guru Besar UGM Sebut Emboli Paru Sering Terlambat Terdeteksi

30 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.