Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Karnaval Sound Horeg Ubah Ibu dan Anak Perempuan: Rela Menor dan Joget Erotis demi Jadi Sorotan, Ditegur Tak Mempan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Juli 2025
A A
Hati nelangsa lihat ibu dan adik perempuan joget erotis di karnaval sound horeg di Jawa Timur MOJOK.CO

Ilustrasi - Hati nelangsa lihat ibu dan adik perempuan joget erotis di karnaval sound horeg di Jawa Timur. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mengiringi arakan sound system yang ditumpuk sedemikan rupa di atas truk dengan musik jedag-jedug menggelegar, sejumlah perempuan dengan busana ketat—bahkan seksi—tampak enjoy berjoget. Bahkan ada pula yang mempertontonkan goyangan pinggul dengan erotis. Begitulah pemandangan yang umum tersaji dalam karnaval-karnaval sound horeg di Jawa Timur.

Tidak bisa dimungkiri, karnval sound horeg memang menyedot animo besar dari masyarakat—terkhusus di Jawa Timur. Akan tetapi, di saat bersamaan, banyak pula yang merasa terganggu sekaligus terheran-heran: Kok bisa ada orang yang menikmatinya?

Bahkan narasumber Mojok mengaku ora gedugo (tak habis pikir), karena anggota keluarga mereka ada yang sampai menjadi keras kepala demi menjadi bagian dari geng sound horeg.

Karnaval sound horeg: simbol gaul warga desa

Magfira (21) tidak bisa mengingat persis bagaimana awal mulanya warga desanya—sebuah desa di Jawa Timur—begitu menggandrungi sound horeg. Setahunya, awalnya penggunaan sound dengan suara besar hanya berlaku ketika momen karnaval 17 Agustusan atau malam takbiran, praktis di masa-masa pasca pandemi Covid-19.

Itupun masih menggunakan seperangkat sound secukupnya. Hingga seiring waktu, skala penggunaan sound system meningkat. Ditumpuk dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sound horeg. Lalu punya karnaval sendiri yang bahkan bisa berlangsung rutin: nyaris setiap bulan ada.

Warga rela iuran untuk menggelar karnaval. Apalagi jelang Agustusan, kini di tempatnya, nyaris setiap sore ada saja yang check sound untuk persiapan. Juga latihan berjoget yang melibatkan banyak kalangan: laki-laki, perempuan, muda, paruh baya.

“Dulu aku seneng-seneng saja. Karena jadi hiburan rakyat. Masih kondusif juga. Tapi sekarang rasanya meresahkan. Aku nggak nyaman dengan suaranya yang kenceng. Bikin dinding rumah bergetar,” kata Magfira, Minggu (20/7/2025).

Tidak hanya Magfira, beberapa warga lain pun mengaku mulai resah. Apalagi setelah adanya fatwa “haram” Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

“Tapi jumlah warga yang mendukung sound horeg lebih banyak. Nggak peduli fatwa-fatwa haram. Hiburan rakyat kok diharamkan. Begitu katanya,” ujar Magfira.

Sound horeg kini menjadi simbol “gaul” bagi warga desanya. Yang tidak ikut karnaval, atau tidak suka, maka dicap nggak gaul.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh FYP Tulungagung (@fyptulungagung)

Iklan

Ibu dandan menor dan joget pargoy di karnaval sound horeg

Tapi, hal paling menyebalkan bagi Magfira adalah, bagaimana ibunya—ibu-ibu umur 48-an tahun—terjangkiti tren sound horeg. Dalam beberapa momen karnaval, ibunya terlibat aktif menjadi “penari latar”: Kadang pakai kaos dari grup sound horeg, kadang pakai kebaya-kebayaan hanya untuk berjoget pargoy.

Kata Magfira, ada dua jenis penari latar dalam karnaval sound horeg di daerahnya. Pertama, golongan perempuan-perempuan muda. Merekalah yang biasanya berdandan seksi dan kerap memeragakan goyangan pinggul erotis.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Anom Supriyanto (@anomriyan1)

Sementara yang kedua adalah kelompok ibu-ibu. Berdandan sangat menor dan dengan luwes berjoget mengimbangi para pejoget muda tadi.

“Malu lah. Ora gedugo. Sudah umur segitu, tapi joget-joget seperti itu. Masa dia nggak malu, dilihatin anak-anak,” kata Magfira.

Magfira sempat menegur sang ibu agar tidak ikut-ikut. Tapi sang ibu malah memaharinya balik, dianggap sok ngatur orangtua. Begitu juga saat dia meminta bapaknya untuk menegur sang ibu. Jelas tidak ada hasilnya. Wong bapaknya sendiri juga penikmat sound horeg.

Malah sang bapak support-support saja. Sebab, hal itu menjadi sarana untuk semakin rukun dengan warga desa.

Meski jarang melihat langsung karnaval, Magfira bukannya tidak tahu seberapa seronok ibunya saat berjoget. Dia tahu melalui video yang dikirim oleh temannya, berbunyi, “Delok tah ibumu, asoy tenan lek joget (Lihat nih ibumu, asoy sekali kalau joget).”

Baca halaman selanjutnya…

Makin erotis makin jadi sorotan, rela diusir dari rumah demi saweran

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2025 oleh

Tags: Jawa Timurjoget sound horegkarnavalkarnaval sound horegpilihan redaksisound horeg
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.