Pengalaman Naik Kereta Api Jogja-Jakarta Cuma 82 Ribu: 24 Jam Perjalanan, Tapi Jauh Lebih Murah dan Berkesan, Serasa Nge-Punk

KA Bengawan, kereta api murah.MOJOK.CO

Sesampainya di Bandung, perjalanan Ades kembali berlanjut. Setelah mengisi perut dan menghabiskan waktu dengan berkeliling area sekitar, ia melanjutkan perjalanan ke Purwakarta via KA Commuter Line Bandung Raya. Jadwal pukul 20.43 WIB ia ambil. Cukup mengeluarkan budget Rp7 ribu Ades sampai di Purwakarta empat jam berselang.

“Sekitar setengah 1 pagi aku sampai Purwakarta. Itu aku lega banget, karena semua berjalan lancar. Tinggal seperempat perjalanan lagi.”

Untuk menunggu kereta api berikutnya yang berangkat subuh, Ades memutuskan tidur sejenak di stasiun. Setelah cukup mengisi energi, barulah ia memutuskan mandi dan bersiap.

Pukul 5 pagi, KA Commuter Line Walahar yang akan membawanya ke Cikarang sampai. Cukup mengeluarkan uang Rp4 ribu saja, Ades bakal melalui satu setengah jam sebelum sampai pada tujuannya.

Akhirnya, kota terakhir sebelum sampai di Jakarta berhasil ia capai. Ades sampai di Cikarang sekitar pukul setengah 7 pagi. Dari sini, ia pun cukup mengeluarkan uang Rp5 ribu dan mulai rebutan tempat dengan para pekerja ibu kota lainnya.

Meskipun saat rebutan tempat di KRL CIkarang-Jakarta butuh effort besar, Ades mengaku sangat lega. Bagaimana tidak, berbekal Rp86 ribu saja, ia bisa sampai di Jakarta. Uang Rp250 ribu miliknya pun pada akhirnya sudah cukup buat tarif pulang-pergi dan beberapa kali isi perut.

“Nge-Punk” di kereta api memang melelahkan, tapi penuh kenangan

Sulit buat membayangkan uang Rp172 ribu sudah bisa Ades gunakan buat pulang pergi Jogja-Jakarta via kereta. Cukup melelahkan, karena waktu 24 jam ia habiskan di perjalanan.

Namun, Ades tak mempermasalahkannya. Toh, ia bisa sampai Jakarta tepat waktu, mengikuti interview secara lancar, dan yang paling penting: tak perlu ngutang sana-sini buat nutup biaya beli tiket kereta.

Ades juga mengaku, banyak kenangan dan pelajaran penting yang ia dapatkan sepanjang perjalanan. Yang paling menamparnya, bagaimana puluhan ribu pekerja berdesak-desakkan rebutan tempat di KRL Cikarang arah Jakarta.

“Kalau aku naik kereta biasa, aku nggak bisa lihat kenyataan seperti ini. Ikut ngerasain gimana adrenalin mereka, kepanikan mereka, dan perjuangan mereka rebutan tempat di KRL,” kata Ades.

24 jam di jalan, juga bikin dia bertemu beragam bentuk manusia. Ada yang unik, menyenangkan, bahkan menjengkelkan. Ades mengaku, cerita-cerita berkesannya tak bisa ia dapatkan seandainya ia hanya melewati hanya 7 jam di kereta api.

“Kalau boleh jujur, aku nggak kapok buat mengulanginya lagi,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA KA Penataran, Saksi Kerasnya Hidup Penglaju Surabaya-Malang: Sumpek, Tapi Merasa Aman Karena Tak Ada Rivalitas Bonek-Aremania

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2024 oleh

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version