Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nekat Merantau ke Jogja Gara-gara Medsos, Baru 3 Bulan Sudah Terasa Nelangsa karena Banyak “Tertipu”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 April 2025
A A
Baru beberapa bulan tinggal di Jogja, situasinya bikin nangis hampir setiap saat MOJOK.CO

Ilustrasi - Baru beberapa bulan tinggal di Jogja, situasinya bikin nangis hampir setiap saat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Baru beberapa bulan tinggal di Jogja, dibikin nangis nyaris setiap saat. Bukan karena homesick. Bukan juga karena tak nyaman. Tapi terlalu banyak pemandangan yang mengiris hati yang tersaji di banyak sudut dan jalanan Kota Pelajar.

***

Bukan tanpa alasan kenapa Febri (27) memutuskan meninggalkan Surabaya dan lanjut S2 di Jogja. Padahal, usai lulus S1 di Surabaya, dia punya banyak pilihan kampus-kampus top di kota tersebut.

Dalam bayangannya, Jogja dengan label Kota Pelajar akan lebih bisa menjawab dahaga intelektualnya. Selain itu, media sosial kelewat meromantisasi Jogja sebagai kota istimewa. Itu membentuk persepsi Febri bahwa Jogja adalah tujuan yang lebih baik ketimbang Surabaya.

Namun, baru dua bulan tinggal di Jogja di masa awalnya pindah pada 2022 silam, dia mendapati persoalan-persoalan yang mengiris hati.

Gelandangan di banyak sudut Jogja

Rasa-rasanya terlalu lumrah jika melihat gelandangan di sebuah kota. Apalagi kota yang jadi jujukan banyak pendatang dari berbagai daerah.

Begitulah kesan pertama Febri saat sesekali mendapati sepasang laki-laki dan perempuan tertidur beralas kardus di samping gerobaknya. Akan tetapi, seiring mobilitas Febri yang makin luas, dia kaget betul karena nyaris di setiap sudut Jogja ada saja gelandangan.

“Di Surabaya, titik paling banyak setahuku di kawasan ITS. Kalau perumahan kumuh dan padat, banyak. Tapi setidaknya ada rumah untuk bernaung. Aku bisa keliru. Tapi sepengalamanku di Surabaya seperti itu,” tutur Febri, Senin (7/4/2025).

“Tapi di Jogja, di Malioboro, di kawasan UGM, di bawah kolong-kolong flyover seperti di daerah Jombor, di trotoar-trotoar jalan. Banyak sekali (gelandangan),” ungkapnya.

Silakan saja bicara teori-teori soal kemiskinan struktural. Namun, sebelum ke sana, respons pertama nurani Febri selalu pada perasaan “tak tega”.

Apalagi misalnya saat dia berjalan ke arah Jalan Kaliurang. Kerap kali dia mendapati seorang ibu ditemani anaknya menggendong sekarung berisi sampah-sampah kardus dan plastik. Barangkali untuk diserahkan pada pengepul rongsokan.

“Aku lebih ke nggak tega pada anaknya. Di umur segitu, atas nikmat Tuhan, aku bisa tinggal di rumah. Tahunya jajan dan makan. Sementara anak itu harus menghadapi kerasnya dunia,” sambungnya.

Tak pelak, setiap mendapati pemandangan seperti itu, hatinya langsung seperti teriris. Air matanya selalu ingin tumpah. Dan itu masih sering dia rasakan hingga sekarang.

Ingin lampu merah cepat berlalu karena tak tahan dengan situasinya

Belakangan, setiap tiba di lampu merah perempatan MM UGM, Febri kerap menemui seorang bocah laki-laki yang menjajakan tisu. Tidak sendiri, bocah itu menggendong adiknya yang masih kecil.

Iklan

Bocah itu, kata Febri, nyaris tidak pernah bersuara dalam menawarkan tisu-tisunya. Hanya menyodorkan dengan wajah melas. Sialnya, nyaris tidak ada yang peduli. Para pengendara yang menanti lampu hijau memilih acuh.

Jika lampu apil menunjukkan warna hijau, para pengendara langsung menancap gas, lalu bocah itu akan berjalan lesu ke pinggir jalan. Duduk melamun. Sesekali menatap nanar sang adik yang tertidur di dalam gendongan.

“Belum kalau ada orangtua jualan koran. Di era seperti sekarang, siapa yang berminat pada koran?,” ungkap pemuda asal Pasuruan, Jawa Timur tersebut.

Sialnya, dia sendiri tidak bisa berbuat banyak. Hanya perasaan tak tega yang memancing air matanya. Selebihnya adalah tamparan agar dia mensyukuri kehidupan yang dia jalani sekarang, sekalipun dia kerap merasa kurang.

“Pekerjaan sia-sia”

Hadya (26) malah lebih baru tinggal di Jogja. Baru sejak Januari 2025 lalu, untuk bekerja. Artinya baru beranjak empat bulan ini. Namun, alih-alih rasa nyaman, Jogja ternyata lebih banyak memberinya kegelisahan.

Hadya pada dasarnya tahu belaka, satu isu yang menghantui pekerja di Jogja adalah UMR yang begitu rendah. Tapi dia pun tak punya pilihan lain. Dari banyak lamaran yang dia kirim ke beberapa kota, nyantolnya di Jogja.

“Aku masih untung karena dapat Rp2 jutaan. Sejak di Jogja, tiga bulan ini aku mendengar banyak keluhan para pekerja yang menerima gaji di bawah itu, dengan beban kerja yang sama denganku. Bahkan (beban kerja) lebih berat pun ada,” ungkapnya.

Hadya bukannya tidak pernah sama sekali ke Jogja. Dulu dia sering ke sini. Dan sebagaimana umumnya orang luar yang memandang Jogja, daerah ini terasa istimewa. Banyak wisata. Orangnya ramah-ramah. Kultur Jawa dan denyut kebudayaan yang masih kental di sini pun menambah kesan indah.

Akan tetapi, setelah kini akhirnya melihat Jogja secara lebih utuh, entah kenapa dia sering merasa gelisah.

“Di Malioboro misalnya. Ada banyak penarik andong dan becak. Tapi mereka banyak nganggurnya. Jarang ada wisatawan yang pakai jasa mereka. Lalu pemasukan dari mana?” tutur Hadya.

“Aku juga sering nggak tega sama pengamen-pengamen di lampu merah. Suaranya bagus-bagus. Mereka ngamennya niat. Tapi nggak banyak juga yang ngasih. Kayak sia-sia nyanyi bagusnya,” imbuhnya.

Hadya juga mengamini apa yang diceritakan oleh Febri. Banyak gelandangan yang dia dapati. Pemandangan yang selalu berhasil “mengiris hati”.

Kematian tukang-tukang becak di Jogja

Hati Febri dan Hadya mungkin akan lebih teriris membaca laporan yang sempat ditulis oleh reporter Mojok berjudul Jogja (Nggak) Istimewa karena Ada Banyak Lansia yang Makan, Tidur, dan Mati di dalam Becaknya.

Laporan tersebut adalah potret kehidupan para lansia yang hidup dan menunggu maut di becaknya. Mereka kebanyakan memang tidak punya tempat tinggal. Di becak itulah mereka berteduh.

Kini, tidak ada banyak harapan dari para tukang becak tersebut. Berharap mendapat penumpang dan hidup sejahtera terdengar muluk-muluk.

Untuk makan, banyak dari para tukang becak itu mengandalkan kebaikan dari orang lain. Jika tidak kunjung mendapat makanan, ujungnya hanya satu: mati kelaparan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Keluar Stasiun Lempuyangan Langsung Disuguhi Ketimpangan Hidup Warga Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 April 2025 oleh

Tags: culture shock jogjagelandangan jogjaJogjamalioboropengamen jogjatukang becak jogjaUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

anak kos ketakutan pasang gas di jogja. MOJOK.CO
Catatan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.