Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kisah Dua Wajah Mahasiswa di Kota Pelajar Jogja: Alim di Desa, Kumpul Kebo di Kota Demi Hemat

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Juli 2025
A A
mahasiswa malang, mahasiswa jogja, kumpul kebo, kohabitasi, kos LV.MOJOK.CO

Ilustrasi - kumpul kebo alias kohabitasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak mahasiswa Jogja memilih kumpul kebo karena alasan berhemat. Kumpul kebo juga jadi sarana untuk memahami “luar-dalam” pasangannya, dan belajar berumah tangga.

***

Jauh di sebuah desa di Jawa Tengah, seorang ibu mungkin sedang membayangkan anaknya. “Semoga anakku di Jogja betah, kuliahnya lancar, cepat lulus dan jadi sarjana.”

Demikianlah yang ada di benak Andi, mahasiswa perantau di Jogja, membayangkan doa sang ibu di kampung halaman. Di mata sang ibu, Andi adalah sosok “alim” yang selalu patuh, jauh dari pergaulan bebas, dan fokus mengejar cita-cita.

Sayangnya, di balik riuhnya Malioboro dan dinding-dinding kos di Jogja, Andi, seperti sebagian mahasiswa perantauan lainnya, diam-diam menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Seratus delapan puluh derajat dari kesan “alim” tadi. Namanya: kohabitasi alias kumpul kebo.

Menariknya, mereka kumpul kebo bukan semata karena hasrat kebebasan yang membuncah. Alasan utamanya, yang seringkali tak terduga, adalah desakan penghematan biaya hidup yang kian mencekik.

Ketika Sewa Kos Mendorong “Pilihan Tak Lazim” di Kota Pelajar

Andi (22), bukan nama sebenarnya, seorang mahasiswa jurusan teknik di salah satu universitas kenamaan di Jogja, tak pernah membayangkan akan menjalani hidup seperti ini.

Dibesarkan di keluarga yang sangat religius di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, ia selalu diajarkan nilai-nilai agama yang kuat. Namun, empat semester terakhir, ia tinggal seatap dengan pacarnya.

“Awalnya ya berat banget di biaya kos, Mas. Di Jogja itu kos sekarang mahal banget, apalagi yang layak dan dekat kampus. Dan, pacarku waktu itu juga lagi kesulitan,” ungkap Andi kepada Mojok, Selasa (22/7/2025) malam.

“Jadi kita mikir, daripada masing-masing bayar mahal, kenapa nggak coba gabung aja? Hitungannya ‘kan patungan, jadi bisa hemat separuh lebih.”

Pengakuan Andi ini bukan tanpa dasar. Biaya hidup di Jogja, meskipun sering dianggap lebih terjangkau dibandingkan kota lain, nyatanya terus merangkak naik, terutama bagi mahasiswa perantauan.

Rata-rata biaya kos yang layak di sekitar kampus berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan. Kadang belum termasuk listrik, air, dan WiFi. 

Sementara itu, untuk makan sehari-hari, seorang mahasiswa bisa menghabiskan minimal Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Berarti tiap bulannya mereka harus merogoh kocek hingga Rp1,5 juta buat ngisi perut. 

Angka-angka ini seringkali jauh melampaui kemampuan finansial mayoritas mahasiswa, apalagi yang hanya mengandalkan kiriman dari kampung.

Iklan

Pilihan yang Wajar buat Menghemat Pengeluaran?

Pilihan seperti yang diambil Andi ini memang bukan hal baru. Penelitian soal samen leven pada Januari 2025 lalu menunjukkan bahwa masalah keuangan memang menjadi salah satu penyebab seseorang melakukan kumpul kebo. 

Biasanya, ini terjadi pada seseorang yang merantau di luar kota dan jauh dari orang tua. Kemudian mereka memilih untuk tinggal bersama pacarnya demi menghemat uang.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan, bahkan para pelaku kumpul kebo merasa seperti suami istri yang telah menikah secara hukum, meskipun mereka belum menikah.

Ini karena mereka tidak hanya kencan dan makan bersama, tetapi juga bertanggung jawab atas keuangan dan tidur bersama.

“Kalau mau dibilang latihan berumah tangga, ya memang udah seperti berumah tangga, Mas,” jelas Andi. “Kami sama-sama belajar ngatur pengeluaran bareng. Bagi tugas juga. Bahkan konflik-konflik kecil ala-ala suami istri juga sering,” imbuhnya sambil tertawa.

Pintar-pintar Menyembunyikan Aksi Kumpul Kebo dari Teman dan Keluarga di Desa

Kendati demikian, menjalani hidup dengan “dua wajah” bukanlah tanpa beban. Andi mengaku sering didera rasa bersalah, terutama saat mengingat orang tuanya di kampung yang bangga padanya.

“Jujur, awalnya ada rasa bersalah, apalagi ke orang tua. Mereka tahunya aku di sini baik-baik aja, fokus kuliah. Kalau di kampung, jelas ini hal yang tabu dan memalukan keluarga besar,” tuturnya.

Setiap kali video call dengan ibunya, Andi harus menelan ludah. Senyum bangga ibunya di layar ponsel terasa seperti tusukan, mengingat kehidupan ganda yang ia jalani di Jogja. 

“Tapi lama-lama, karena tuntutan hidup, pikiran itu agak tergeser. Rasanya lebih ke ‘yang penting bisa bertahan hidup di sini’ dan ‘orang tua di rumah nggak usah tahu’,” ungkapnya.

Andi juga mengaku, saat ada teman dari desa yang ingin main ke kosnya, itu sangat bikin was-was. Menurutnya, ia harus pintar-pintar bohong, atau setidaknya pintar-pintar “menyembunyikan” keadaan yang sebenarnya. “Kadang capek juga sih, kudu cari-cari alesan biar teman nggak ke kos. Tapi ya mau gimana lagi, itu udah risikonya,” tambahnya.

Dari Kumpul Kebo ke Pelaminan: Belajar dari Keadaan

Pengalaman serupa, meski sedikit berbeda, datang dari Ria (26). Sama seperti Andi, ia adalah mahasiswa perantau di Jogja yang memilih kumpul kebo bersama pacarnya karena ingin berhemat.

Bedanya, kini ia dan pacarnya sudah menikah.

“Sama kayak mahasiswa lain kali ya. Dulu aku milih gini (kumpul kebo) karena biaya hidup di Jogja itu di luar dugaan. Kami hitung-hitungan, kalau bayar kos sendiri-sendiri itu bisa habis banyak. Jadi kami sepakat coba tinggal bareng.”

Ria mengenang saat-saat mereka harus putar otak demi dapur tetap ngebul. Ia menceritakan, dengan berbagi kamar, uang sewa mereka bisa dialokasikan untuk membeli bahan makanan dan memasak sendiri. Jauh lebih hemat dibanding jajan di luar setiap hari.

“Dulu itu sering banget cuma modal beli beras sekilo, terus masak sayur kangkung atau tempe doang biar irit. Kadang kalau tanggal tua, patungan beli mi instan sepuluh bungkus buat seminggu.” 

Menariknya, Ria mengaku kalau pengalaman kumpul kebo justru “membentuk fondasi” hubungan dia dan suaminya sekarang. Baginya, pengalaman kohabitasi itu justru mengajarkan banyak hal.

“Kumpul kebo bikin kami mengenal luar dalam,” katanya. “Ini tentang kompromi dan manajemen rumah tangga dari sisi finansial, meskipun kami tahu itu bukan jalan yang ‘benar’ secara moral. Tapi itu juga yang membuat kami lebih menghargai pernikahan yang sekarang,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2025 oleh

Tags: Jogjakohabitasikumpul kebokumpul kebo mahasiswakumpul kebo mahasiswa jogjaMahasiswa Jogjapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.