Dulu, Hari Valentine identik dengan momen manis untuk menunjukkan kasih sayang yang tulus. Namun sekarang, maknanya seolah makin melenceng dan jadi makin sempit.
Kini, banyak orang menganggap valentine bukan lagi soal bunga atau cokelat, tetapi “malam puncak untuk urusan ranjang”. Seolah-olah, cara paling sah untuk membuktikan cinta adalah dengan menyalurkan hasrat fisik kepada pasangan.
Banyak orang merasa “lebih aktif” berhubungan seks di malam valentine
Fenomena ini bukan sekadar omong kosong, karena ada data nyata yang membuktikannya. Menjelang 14 Februari, toko-toko ritel global mencatat lonjakan tajam pada penjualan kondom, alat tes kehamilan, hingga pakaian dalam seksi (lingerie), hingga 40 persen ketimbang hari biasa. Semuanya laku keras seolah menjadi “seragam wajib” untuk merayakan malam kasih sayang tersebut.
Survei dari Kinsey Institute juga menunjukkan bahwa sekitar 54 persen pasangan melakukan hubungan seksual pada Hari Valentine. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari libur lain atau akhir pekan biasa. Sementara survei YouGov pada 2023 bahkan mencatat bahwa 40 persen orang merasa “lebih aktif” secara seksual di hari ini dibandingkan hari lainnya.
Dan, pada akhirnya, jejak kemeriahan valentine ini bisa terlihat jelas sembilan bulan kemudian. Data dari Layanan Kesehatan Inggris (NHS) menunjukkan adanya kenaikan angka kelahiran bayi sekitar bulan November. Artinya, banyak pasangan yang memang “lebih aktif” secara seksual di pertengahan Februari.
Menurut Chris Wilson, seorang kolumnis majalah TIME, hal ini terjadi karena suasana romantis dan simbol-simbol cinta yang bertebaran di Hari Valentine memang mendorong pasangan untuk merasa lebih intim. Sayangnya, keintiman tersebut seringkali hanya disederhanakan menjadi hubungan seks, yang akhirnya membuat makna kasih sayang yang lebih dalam jadi terlupakan.
Di kalangan mahasiswa Jogja pun sama saja, valentine identik dengan “seks”
Kalau kalian pikir itu fenomena khas negara-negara Barat, kalian salah. Nyatanya, budaya “ngeseks” di Hari Valentine sudah sampai di Indonesia–bahkan di Jogja.
Waktu kuliah dulu, saya pernah punya kenalan seorang penjaga hotel kelas melati di kawasan Sleman Utara. Menurut dia, ada dua momen besar (high season) tempat kerjanya diserbu para mahasiswa.
“Pas valentine sama tahun baru. Mau valentine itu weekend atau nggak, selalu aja banyak mahasiswa datang,” ujarnya kepada Mojok, Senin (9/2/2026).
“Nggak mau suudzon mereka berbuat macam-macam, dan nggak mau tahu juga. Tapi pernah punya pengalaman, banyak kondom dibuangin di tempat sampah kamar,” jelasnya.
Beberapa media nasional juga pernah memotret fenomena ini. Antara, misalnya, pernah memberitakan sebanyak 26 pasangan bukan suami istri terjaring “Razia Valentine” oleh petugas Satpol PP di sejumlah hotel Kota Surabaya, pada 2023 lalu.
Bahkan, bergeser sedikit ke Gresik, Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Dispol) Gresik pernah menemukan fakta bahwa penjualan alat kontrasepsi di sejumlah minimarket dan toko modern meningkat sejak malam dan Hari Valentine.
Di kampus-kampus, obrolan soal check-in bersama pacar saat malam valentine sudah jadi hal biasa. Nyaris tak ada anggapan tabu. Namun, yang menjadi pertanyaan berikutnya, sejak kapan budaya harus ngeseks di Hari Valentine ini muncul?
Gara-gara budaya calling beralih menjadi dating
Jika menelusuri sejarah budaya modern, kita akan menemukan bahwa nuansa sensual atau seksual dalam Hari Valentine bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari perubahan besar dalam cara kita berpacaran yang didorong oleh pasar, alias kapitalisme.
Melalui bukunya, Consuming The Romantic Utopia (1997), Eva Illouz menjelaskan bahwa dahulu, di era Victoria, cinta dianggap sebagai emosi yang suci. Pertemuan antara pria dan wanita terjadi di ruang tamu rumah si wanita, di bawah pengawasan ketat orang tua. Tradisi ini disebut calling–istilah Indonesia: apel atau ngapel.
Di ruang tamu itu, tidak ada tempat untuk keintiman fisik yang berlebihan. Fokusnya adalah pada karakter dan sopan santun. Namun, pada awal abad ke-20, tradisi ini runtuh dan digantikan oleh dating atau berkencan. Perubahan ini sangat drastis, pasangan tidak lagi duduk diam di rumah, tetapi pergi “keluar” untuk mencari hiburan.
Inilah titik balik utamanya. Ketika romansa pindah dari ruang tamu pribadi ke ruang publik komersial, seperti bioskop, restoran, dan hingga lantai dansa, dinamika hubungan berubah total. Pasar kemudian mulai menyediakan tempat-tempat yang remang-remang.
Di dalam gedung bioskop yang gelap, misalnya, pasangan menemukan jenis privasi baru yang tidak mungkin didapatkan di rumah orang tua. Kegelapan teater menjadi tempat berlindung yang aman untuk berpegangan tangan atau berciuman, menjadikan hiburan publik sebagai sarana untuk mengeksplorasi keintiman fisik.
Kapitalisme makin memberi ruang pada penyempitan makna valentine
Perubahan ini semakin dipercepat dengan hadirnya mobil. Dalam budaya konsumen, mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah “ruang tamu berjalan.”
Mobil memberikan pasangan muda kebebasan untuk pergi jauh dari pengawasan keluarga. Di dalam mobil yang tertutup, mereka menemukan ruang privat yang intim, yang memungkinkan terjadinya eksplorasi seksual yang lebih jauh.
“Lagu-lagu dan budaya populer kala itu bahkan sering menyindir bagaimana mobil menjadi lokasi utama untuk petting atau bermesraan, jauh dari mata orang tua yang menyelidik,” tulis Eva Illouz.
Di sinilah peran pasar dan iklan menjadi sangat krusial dalam membentuk nuansa valentine yang kita kenal sekarang. Industri periklanan menyadari bahwa untuk menjual produk, mereka tidak bisa hanya menjual fungsi barang tersebut; mereka harus menjual janji akan “daya tarik” dan “gairah.”
Iklan-iklan mulai mengaitkan produk kecantikan, sabun, dan pakaian dengan janji romansa yang “panas.” Pesannya jelas: “jika kamu ingin dicintai, maka kamu harus terlihat menarik secara fisik.”
“Romansa tidak lagi tentang penyatuan jiwa semata, tetapi juga tentang daya tarik seksual yang bisa ditingkatkan melalui konsumsi barang,” imbuhnya.
Valentine, sebagai puncak perayaan romansa ini, menjadi etalase utama bagi logika tersebut. Pasar menjual gagasan bahwa cinta yang intens dan bergairah membutuhkan “atmosfer” yang tepat–dan atmosfer itu bisa dibeli. Makan malam dengan cahaya lilin, liburan ke tempat terpencil, atau hadiah-hadiah mewah dipasarkan sebagai cara untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi keintiman.
“Budaya konsumen mengajarkan kita bahwa momen romantis yang sempurna adalah momen yang intens, mendebarkan, dan sering kali bermuara pada ketertarikan fisik.”
Jadi, jika valentine masa kini terasa kental dengan nuansa seksual, itu karena budaya modern telah mendefinisikan ulang cinta. Cinta bukan lagi sekadar hubungan romantis, tapi petualangan yang mendebarkan (thrill).
Cinta bukan lagi soal perasaan, tapi transaksi “untung-rugi”
Logika kapitalisme yang dijelaskan Illouz ini diperkuat oleh konsep The Marriage Market dalam sosiologi ekonomi. Jika Illouz fokus pada bagaimana pasar menyediakan “ruang” fisik bagi pasangan, teori ini menyoroti hal yang lebih dalam: bagaimana romansa modern sebenarnya telah berubah menjadi arena transaksional.
Di sinilah letak pergeseran paling fatal; cinta bukan lagi sekadar soal penyatuan emosi, melainkan soal “investasi” dan “imbalan”.
Menurut ekonom yang mempopulerkan teori ini, Gary Becker, dalam kacamata ekonomi, setiap kencan mewah, bunga mahal, hingga makan malam romantis di hotel berbintang dianggap sebagai “modal” yang sengaja dikeluarkan. Secara bawah sadar, pasar membangun narasi bahwa ketika seseorang telah mengeluarkan biaya besar untuk menciptakan “atmosfer yang sempurna”, maka muncul semacam kontrak psikologis yang tidak tertulis.
“Pihak lainnya sering kali merasa memiliki ‘utang budi’ atau kewajiban moral untuk memberikan balasan yang setimpal,” kata Becker dalam studinya yang berjudul A Theory of Marriage (1973).
Di sinilah seks kemudian masuk ke dalam perhitungan. Keintiman fisik akhirnya diposisikan sebagai bentuk imbalan yang dianggap sah atas investasi materi yang sudah dilakukan sepanjang hari.
Akibatnya, muncul logika untung-rugi: jika investasi finansialnya tinggi, maka ekspektasi akan hasil fisiknya pun harus tinggi. Seks di malam valentine akhirnya bukan lagi luapan kasih sayang yang spontan, tetapi penyelesaian dari sebuah transaksi emosional.
“Seseorang merasa berhak mendapatkan atau wajib memberikan keintiman karena ‘harga’ yang dibayar sudah sangat mahal,” imbuh Becker.
Pada titik ini, pada akhirnya, valentine benar-benar telah kehilangan kesuciannya, karena cinta telah diringkas menjadi sekadar alat tukar dalam “pasar” kasih sayang yang dingin. Kalau kata orang dulu, “valentine bukan budaya kita”. Sekarang, budaya valentine telah bergeser maknanya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
