Awalnya salah paham dengan sate karena kondisi ekonomi keluarga. Setelah dewasa, baru bisa benar-benar menikmati kuliner tersebut yang ternyata bisa dinikmati sendiri sebagai self reward tanpa harus berbagi.
Sate: kuliner “mahal” yang hanya bisa dinikmati saat beruntung
Isar (24) lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Ia pun berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Isar bahkan dengan penuh percaya diri menyebut keluarganya “miskin”.
Sejak kecil, ada makanan-makanan yang memang tidak serta merta bisa Isar nikmati karena termasuk dalam kategori “makanan mahal” menurut ukuran keuangan keluarganya. Misalnya, sate, ayam, daging-dagingan, atau bahkan jajanan tertentu yang untuk keluarga Isar pasti mikir panjang sebelum membelinya.
Menurut Isar, hanya saat beruntung saja Isar bisa menikmati makan sate. Misalnya saat tetangga atau saudara menggelar hajatan yang umumnya menyediakan sate ayam.
“Momen beruntung lagi ya kalau bapak ada rezeki lebih dari jualan alat-alat sawah (cangkul, arit, dan sejenisnya) di pasar. Itu pulang bawa sate. Biasanya sate kambing,” ujar Isar, Minggu (29/3/2026).
Namun, tidak pasti sebulan sekali momen beruntung itu datang. Sehingga, menikmati sate memang menjadi peristiwa langka bagi Isar dan keluarganya di masa kecil.
Salah paham pada sate: kuliner yang harus dibagi-bagi
Meski sesekali bapaknya membeli sate. Namun, ada aturan tidak tertulis dari ibu yang membuat Isar akhirnya salah paham pada kuliner tersebut.
Bapak Isar tidak pernah membeli sate dalam jumlah banyak. Paling mentok 10-15 tusuk untuk dimakan Isar, ibu, dan adik Isar. Sementara sang bapak, baru Isar tahu kemudian, ternyata lebih banyak mengalah: tidak pernah menikmati sate yang ia beli dari pasar.
Dari 10/15 tusuk sate itu, ibu Isar mengatur tusuk-tusuk itu harus dibagi secara merata. Misalnya, untuk 10 tusuk, itu hanya cukup untuk makan sekali. Agar rata, maka perorang mendapat jatah 2 tusuk: Isar 2 tusuk, ibunya 2 tusuk, dan adiknya tua tusuk.
“Itu kan masih sisa 2 tusuk. Harusnya bisa buat bapak. Tapi sama ibu dibagi satu-satu ke aku dan adik,” beber Isar.
Begitu juga jika kebetulan bapak membeli 15 tusuk. Itu bisa dibuat makan dua kali sehari: siang dan sore. Alhasil, setidaknya hingga SMA, Isar memahami sate sebagai kuliner untuk dibagi-bagi.
Menolak beli karena terikat aturan tidak tertulis ibu
Isar menyadari kalau sate bertusuk-tusuk ternyata bisa dinikmati sendiri setelah ia bisa kerja sendiri.
Ketika merantau ke kota, Isar menghindari membeli sate sebagai salah satu opsi makanan harian. Ia lebih sering makan di warung seperti warteg atau warung-warung sederhana.
Isar secara tidak sadar masih terikat dengan aturan tidak tertulis yang sudah kadung tertanam sejak kecil: sate itu dibeli untuk makan bareng-bareng. Itulah kenapa, setiap ada teman yang ngajak beli sate, pertanyaan polos Isar adalah: “Beli 10 tusuk buat berdua?”
“Lah ngapain. Beli masing-masing aja, seporsi buat sendiri-sendiri.” Respons teman Isar itu membuatnya agak bingung. Sampai kemudian ia melihat sendiri temannya bisa menikmati satu porsi sate ayam atau kambing berisi 10 tusuk+nasi untuk diri sendiri. Tanpa harus dibagi-bagi.
Butuh “ketegaan” untuk menikmatinya sendiri sebagai self reward
Teman Isar sontak tertawa mendengar cerita Isar. Ternyata temannya juga punya cerita yang sama: sejak kecil hanya bisa menikmati sate sekadarnya. 2 tusuk sate hanya memberi kenikmatan yang nanggung.
Maka, teman Isar menyarankannya agar sesekali belilah sate, entah sate ayam atau kambing, dalam satu porsi untuk dinikmati sendiri. Karena tidak ada aturannya kuliner tersebut harus dibagi-bagi.
Lucunya, ternyata tidak mudah bagi Isar untuk mulai membeli sate. Sebab, setiap hendak membeli satu porsi sate untuk dinikmati sendiri, ia langsung teringat: kok sayang kalau tidak dibagi-bagi.
“Karena sebelum itu, pas sudah kerja, aku kalau pulang ke rumah kan sesekali beli sate kan, kadang ayam kadang kambing. Itu kami makannya juga bareng-bareng. Satu porsi sate buat aku, ibu, dan adik. Bapak, seperti biasa, bilangnya nggak doyan. Walaupun aku tahu itu cuma pura-pura,” kata Isar.
Tapi lantaran ingin memberi self reward untuk diri sendiri, akhirnya Isar mencoba “tega” (mengabaikan rasa bersalah karena membeli sate untuk diri sendiri).
Di momen membeli dan menyantap sate kambing satu porsi berisi 10 tusuk itu, Isar tidak berhenti geleng-geleng kepala. Akhirnya ia bisa benar-benar puas menikmati bertusuk-tusuk sate, tanpa ada batasan jumlah tusuk atau pembagian untuk dimakan dua kali sehari.
“Ternyata makan sate satu porsi sendiri sebagai self reward untuk diri sendiri itu puas sekali hahaha,” tutup Isar.
Setelah itu, ia pun menjadi lebih sering membeli sate. Apalagi, isi TikTok-nya kerap kali menampilkan konten-konten kuliner, salah satunya konten orang menikmati sate.
Melihat konten semacam itu, Isar tak pelak langsung ngiler. Bedanya, ia tidak tertahan lagi oleh kesalahpahaman masa kecilnya. Pokoknya kalau lagi pengin banget sate—terutama sate kambing—dan tidak bisa ditahan, maka ia akan langsung beli: satu porsi untuk diri sendiri, benar-benar sebagai self reward untuk menebus kekurangpuasan menikmati sate di masa kecil.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Selalu Pelit ke Diri Sendiri demi Hidupi Keluarga, Tiap Mau Self Reward Pasti Merasa Berdosa padahal Tak Seberapa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
