Gudeg Mercon Bu Tinah, Preman dengan RX King, dan Gudeg Laris yang Menyalahi Pakem

Ilustrasi Gudeg Mercon Bu Tinah, RX King, dan Gudeg Laris yang Menyalahi Pakem. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Gudeg Mercon Bu Tinah ini memilih menyalahi pakem cita rasa gudeg pada umumnya. Namun, justru itu yang jadi daya tarik yang membuat orang antre setiap malamnya. Pernah jadi langganan orang-orang pulang dugem dan jadi tempat preman bermotor RX King makan tak bayar.

***

Sudah lama saya tidak makan di Gudeg Mercon Bu Tinah yang terletak di Jl. Asem Gede No.8, Cokrodiningratan, Kec. Jetis, Kota Yogyakarta. Saya, sempat akan mampir usai makan di Soto Sampah karena letaknya hanya beberapa ratus meter ke arah barat. Namun, melihat antrean pengunjung yang berdiri mengular, saya urungkan niat.

Sampai kemudian, Kamis (24/8/2023) saat kantuk menyerang saat saya berkendara di Jalan Magelang, saya memutuskan untuk membelokan motor ke Jalan Asem Gede. Hari menjelang tengah malam, pengunjung Warung Gudeg Mercon Bu Tinah memang banyak, tapi tak sampai antre berdiri seperti beberapa hari sebelumnya. 

Sudah lama sekali saya tidak makan di tempat ini. Dulu, saat masih kerja di sekitaran Jalan Pangeran Mangkubumi (Margo Utomo), bersama teman kantor saya kerap mampir di warung gudeg ini. 

Bagi saya dan rekan-rekan, selain cita rasa gudegnya yang berbeda dengan gudeg kebanyakan, penjual gudegnya yang punya karakter galak menjadi ciri khas. 

“Mbiyen ibu memang terkenale galak. Karakter orang kan beda-beda. Sebenarnya ibu wataknya nggak seperti itu. Itu cuma luarnya saja,” kata Mba Parni (45) kepada saya. Saya sengaja duduk di samping warung agar sejajar dengan Mba Parni yang duduk di belakang meja.

Gudeg Mercon Bu Tinah, jadi rekomendasi kuliner gudeg dengan cita rasa pedas di Yogyakrta MOJOK.CO
Gudeg Mercon Bu Tinah, meski berada pinggir jalan, jadi kuliner gudeg dengan cita rasa pedas yang laris di Yogyakrta. (Agung P/Mojok.co)

Mba Parni adalah anak Bu Tinah yang kini meneruskan usaha ibunya. Dulu, ia bertugas sebagai asisten Bu Tinah, membuat minum untuk pelanggan. Namun, sejak ibunya meninggal dunia tahun 2017 ia duduk di belakang meja yang menyajikan gudeg dengan cita rasa pedas ini.

Asal usul Gudeg Mercon Bu Tinah

Mba Parni bercerita bagaimana ibunya punya ide untuk menjual gudeg dengan cita rasa pedas. “Keluarga kami itu penyuka pedas. Saat datang ke Jogja, ibu uji coba untuk membuat gudeg dengan rasa yang berbeda dari umumnya. Ketemulah gudeg yang rasanya pedes,” kata Mba Parni. Ia mengatakan, keluarganya bukan asli Jogja, tapi perantau dari Boyolali.

Gudeg-gudeg pada umumnya meski lebih kuat cita rasa manisnya, biasanya tetap menyertakan cabai utuh dalam sayur krecek. Namun, di Gudeg Mercon Bu Tinah ‘merconnya’ bukan di sayur krecek. Di Sayur krecek memang ada cabainya tapi itu cabai dalam bentuk utuh, yang kita bisa pilih apakah akan memakannya atau tidak. 

Rasa pedas di Gudeg Bu Tinah berasal dari sayur tempe yang di atasnya ditaburi potongan cabai hijau. Tentu saja bukan potongan cabai hijau besar itu yang membuat pedas, tapi sayur tempe yang dimasak dengan potongan cabai rawit.

Cita rasa Gudeg Bu Tinah tidak melulu pedas. Setiap kondimen sayur yang jadi pelengkap punya cita rasa berbeda. Sayur nangkanya sendiri tidak memiliki cita rasa manis sebagaimana umumnya yang dimasak dengan gula merah. 

“Coba cicipi saja nangkanya, nggak ada manisnya karena memang dimasak tanpa gula. Kalau yang manis itu dari kuah ini,” kata Mba Parni menunjukkan wadah berisi kuah yang biasa digunakan untuk menyiram seporsi gudeg. Sedangkan cita rasa gurih dari sayur dan kuah krecek. 

Sejak buka mulai pukul 21.00, Gudeg Mercon Ibu Tinah tak pernah sepi pembeli. (Agung P/Mojok.co)

“Jadi cita rasanya sebenarnya ya gurih, pedas, dan manis, tapi lebih kuat rasa pedasnya,” kata Mba Parni.

Bisa pilih gudeg yang nggak pedas

Saat saya berbincang dengan Mba Parni, seorang anak muda memesan satu porsi gudeg. Ia memohon-mohon ke Mba Parni untuk tidak dikasih sayur tempe yang ada merconnya. 

Pun, saestu, kula mboten sik pedes. Ampun, Mba,” katanya saat Mba Parni membujuknya untuk menyertakan sayur tempe sedikit saja. 

Anak muda itu kemudian duduk di samping saya. Namanya Sadam (23), seorang supir travel. Ia sedang mengantar tamunya, sepasang dokter dari Medan yang ingin makan di Gudeg Mercon Bu Tinah. 

“Mereka minta diantar ke sini,” kata Sadam. 

Saya menanyakan kepadanya kenapa tidak pakai sayur tempe yang jadi ‘mercon’ di Gudeg Bu Tinah. “Saya itu sering ke sini, Mas. Nganter ibu saya yang suka banget gudeg mercon, saya nggak terlalu suka, perut kadang rewel,” kata Sadam.

Ibunya merupakan penyuka gudeg pedas. Ibunya kerap memintanya untuk mengantar makan ke warung gudeg pedas di Yogyakarta. “Yang paling sering ke sini, padahal ya lumayan jauh dari rumah. Dari Kalasan lho, Mas, dan mesti malem,” kata Sadam geleng-geleng kepala.

Menurutnya, gudeg yang enak tetap yang bercita rasa manis. Namun, meski berbeda selera dengan ibunya, ia tetap akan mengantar kemanapun ibunya makan gudeg pedas.

Baca halaman selanjutnya…

Cerita tentang preman dengan RX King yang tak mau bayar

Cerita tentang preman dengan RX King yang tak mau bayar

Mba Parni sejak remaja sudah menemani ibunya untuk jualan. Sehingga ia tahu persis kejadian yang ibunya alami saat berjualan gudeg. Ia juga biasa berbincang dengan pengunjung warung gudegnya. 

Karena Warung Gudeg Mercon Bu Tinah buka malam hari hingga dini hari, pelanggan-pelanggannya dulu kebanyakan orang-orang yang baru pulang dugem. “Dulu banyak yang sepulang dari JJ, Republik, Hugo’s Cafe, Bunker, Tj’s dan lain-lain,” kata Mba Parni menyebut beberapa tempat dugem yang sudah kukut di Jogja.

Menurut Mba Parni, katanya makan pedas itu bisa jadi obat orang mabuk alkohol. Ia tak tahu kebenaran pernyataan itu. 

Lauk di Gudeg Mercon Ibu Tinah. (Agung P/Mojok.co)

Saya juga nggak tahu kebenaran anggapan kalau makan-makanan pedas bisa jadi obat mabuk alkohol. Reporter Mojok pernah melakukan liputan, Rica-rica Pak Giyatno Jombor, Pedasnya Jadi Penawar Mabuk Orang dari Klub Malam. Sama seperti pernyataan Mba Parni, orang-orang yang datang ke warung rica-rica tersebut banyak yang dari klub malam. Mereka makan pedas untuk menetralkan diri setelah minum alkohol.

Kejadian menarik lainnya yang Mba Parni ingat adalah ketika warungnya sering didatangi oleh preman. “Mereka rombongan naik motor RX King. Dulu kan piringnya pakai piring beling, biasanya satu orang akan membanting piring itu sampai pecah, terus pergi nggak bayar,” kata Mba Parni.

Namun, kejadian itu sudah lama berlalu, ia mengingat kejadian itu terjadi sebelum tahun 2010. 

“Ibu ya nggak bisa apa-apa, cuma diam saja. Kita nggak ada masalah apa-apa lho, jadi diam saja. Ibu cuma bilang, biar Gusti Allah sik mbales,” kata Mba Parni. 

Saran saya, jika ingin dapat antrean di awal, datang saja sebelum warung ini buka di pukul 21.00. Pilihan lainnya, datang saat mau pergantian hari. Namun, risikonya selain lauknya jauh berkurang, bisa saja gudeg ini sudah ludes.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Semangkuk Soto Sampah untuk Mengusir Dinginnya Malam di Jogja

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version