Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kontroversi Film Dokumenter ‘Seaspiracy’. Berawal dari Plastik, Berakhir Tidak Makan Ikan

Redaksi oleh Redaksi
4 April 2021
A A
Limbah di teluk jakarta mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebuah film dokumenter berjudul ‘Seaspiracy’ di Netflix belakangan ini menduduki trending. Sayangnya, apa yang dipaparkan menimbulkan banyak kontroversi.

Film dokumenter Seaspiracy menuai kontroversi di media sosial dan di kalangan kritikus. Film yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Ali Tabrizi ini diawali dengan problem seputar sampah plastik yang mencemari lautan. Melalui sudut pandang Ali, penonton diajak menjelajahi dunia dan menelusuri bagaimana sampah plastik bisa bertebaran di laut.

Alih-alih mendapat jawaban langsung soal solusi sampah plastik, Seaspiracy justru menemukan banyak fakta baru seputar industri perikanan, penangkapan ikan, hingga tentang kehidupan nelayan dan pekerja kapal.

Ali Tabrizi berkelana hingga ke Jepang dan Thailand, mencari jawaban seputar isu-isu kelautan. Beberapa fakta mengejutkan pun ditemukan, termasuk bagaimana jaring ikan menyumbang sampah plastik hingga keraguan akan istilah industri perikanan berkelanjutan. Seaspiracy menggiring penonton pada kesimpulan: jangan makan ikan. Sebab, makan ikan sama saja mendukung industri perikanan, dan bagaimana kejamnya mereka terhadap biota laut. Menjaring ikan kerap kali membunuh spesies lain yang terkena “salah tangkap” seperti hiu, penyu, dan anak paus. Bahkan tuna biru dari Jepang disebut-sebut menjadi penyebab kepunahan spesies ini.

Perburuan hewan laut langka seperti hiu, paus, dan lumba-lumba juga masih banyak dilakukan. Industri perikanan dikatakan akan terus berjalan ketika permintaan dari pasar masih ada. Fakta temuan inilah yang membuat Seaspiracy berakhir pada kesimpulan untuk mengimbau semua orang menghindari konsumsi binatang laut. Selamat tinggal seafood, udang, teri, tuna, dan salmon. Bahkan makanan laut kaleng dengan label “aman” dan tidak melukai lumba-lumba dalam prosesnya, dianggap tidak bisa dipercaya di sini.

Kesimpulan yang ekstrem inilah yang banyak dikritik oleh pengamat dan netizen di media sosial. Ada yang berpendapat bahwa fakta yang menghubungkan antara isu lingkungan dan dilarang makan ikan sebenarnya terlalu dipaksakan. Memukul rata penggunaan jaring pada seluruh industri perikanan juga dianggap sebagai “missing link” pada film Seaspiracy.

Christina Hicks, seorang profesor yang juga ada di film Seaspiracy juga memiliki pendapat yang cukup kontras tentang imbauan jangan makan ikan. Ia banyak mencuitkan pendapatnya soal industri perikanan yang sebenarnya tidak seburuk yang digambarkan, tergantung pada bagaimana pola kerja nelayan.

Unnerving to discover your cameo in a film slamming an industry you love & have committed your career to. I’ve alot to say about #seaspiracy– but won’t. Yes there are issues but also progress & fish remain critical to food & nutrition security in many vulnerable geographies. pic.twitter.com/gKlopL64Gt

— Christina Hicks (@ChristinacHicks) March 26, 2021

Di Indonesia sendiri, kampanye konsumsi ikan sebenarnya sudah lama dicetuskan oleh mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti. Berkaitan dengan film ini sekaligus untuk menanggapi cuitan Ismail Fahmi, Susi punya tanggapan sendiri terkait industri perikanan.

Kasus Perbudakan Benjina di Indonesia .. kita memulangkan orang2 Myanmar & Burma hanpir 2000 orang ..bisa lihat di Youtube .. itulah kenapa kita harus Perangi Ilegal Fishing .. Pemerintah tidak boleh kendor. ?

— Susi Pudjiastuti (@susipudjiastuti) April 3, 2021

Tentu saja mengenai illegal fishing, Susi Pudjiastuti menolak dengan keras. Namun, kesimpulan untuk tidak makan ikan juga berkebalikan dengan kampanye Susi untuk mensukseskan profesi nelayan di Indonesia. Penonton Indonesia mungkin saja mengalami kebingungan setelah menonton film Seaspiracy ini. Bagaimana mungkin khalayak tiba-tiba dilarang makan binatang laut setelah bertahun-tahun meyaini bahwa makan ikan itu sehat dan membantu profesi nelayan?

Walau dihiasi pro dan kontra, banyak yang tetap menganggap film Seaspiracy masih layak tonton karena memberi pengantar soal kesadaran memikirkan laut. Sayangnya, perlu adanya kebijakan dari penonton untuk tidak menelan mentah-mentah berbagai fakta yang ditampilkan.

BACA JUGA Kita Memang Harusnya Marah-marah Setelah Nonton Film Sexy Killers dan artikel KILAS lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 4 April 2021 oleh

Tags: film dokumenterfilm netflixresensi filmreview film
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026
Album baru ARIRANG BTS. MOJOK.CO

Sekecewanya ARMY dengan Album “ARIRANG”, Patut Diakui kalau Lagu-lagu BTS Selamatkan Hidup Banyak Orang

29 Maret 2026
ratu-ratu queens.MOJOK.CO

Ratu-Ratu Queens The Series: Ketika Empat Perempuan Membangun “Rumah” di Negeri Orang

21 Oktober 2025
No Other Choice: rekaman betapa rentan nasib buruh. Mati-mati kerja sampai kehilangan diri sendiri, tapi ditebang saat tak dibutuhkan lagi MOJOK.CO

No Other Choice: Buruh Mati-matian Kerja sampai Kehilangan Diri Sendiri, Usai Diperas Langsung Ditebang

16 Oktober 2025
Film Safe Haven.MOJOK.CO

Tutorial Masuk Surga ala “Kang Mus” dalam Safe Haven, Film Pendek Berdurasi Singkat tapi Ngilunya Melekat

29 April 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.