Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang yang Bilang ‘Makan Ikan Ribet’ Adalah Golongan Manusia yang Layak Ditenggelamkan!

Taufik oleh Taufik
3 Maret 2021
A A
Makan Ikan Ribet Layak Ditenggelamkan
Share on FacebookShare on Twitter

Saya selalu berusaha untuk menghargai pendapat orang lain ketika berbeda. Kadang ya bikin kepala pusing juga akibat perkara ini, tapi mau gimana lagi? Wong saya orangnya nggak suka pertengkaran, apalagi sampai jotos-jotosan. Tapi, ada satu perkara yang bikin kepala saya pusingnya nggak karuan. Perkara paling urgent ini adalah perihal tulisan Mbak Vivi Wasriani dengan judul Nggak Doyan Makan Ikan Itu Bukannya Belagu, Cuma Nggak Suka Ribet Aja!.

Gimana, ya? Dari judulnya saja sudah bikin naik darah. Apalagi saya yang sejak dalam pikiran sudah punya silang sengkarut dengan ikan.

ADVERTISEMENT

Begini, dalam artikel Mbak Vivi, penjelasan mengenai alasan pertama blio nggak suka ikan karena ikan memiliki banyak tulang yang ukurannya kecil. Mulai dari sini, saya ingin bilang satu hal sama Mbak Vivi, “Mainmu kurang jauh, Mbak!”

Saya bisa menjelaskan jenis ikan mulai dari yang paling mikroskopis sampai yang ukurannya sebesar rumah. Atau jenis ikan yang seluruh badannya bisa kita kategorikan sebagai tulang keras, sampai yang bahkan tulangnya bisa dikeramus sekali gigit. Dan saya pastikan itu nggak akan nyangkut di tenggorokan Mbak Vivi. Dan mungkin bukan hanya itu, ikan dengan jenis tulang lunak begini mungkin akan melewati lambung, usus bahkan terjun bebas ke saluran pembuangan akhir Mbak Vivi seperti nggak ada portalnya.

Nah, satu hal yang menurut saya menjadi kesalahan fatal adalah ketika Mbak Vivi nggak menyebutkan nama ikan yang bikin trauma di masa lalu. Kemudian men-generalisasi semua jenis ikan memiliki tulang yang semrawut dan rumitnya sama dengan ikan yang oleh Mbak Vivi menyebutnya “ikan yang saya lupa jenisnya apa”.

Saya bisa saja menebak, ikan yang mungkin Mbak Vivi makan dan lantas bikin trauma itu adalah bandeng, atau malah ikan teri atau apa pun jenis ikan bertulang kecil lainnya. Satu hal yang ingin saya luruskan bahwa memang ada banyak ikan yang tulangnya kecil, bahkan akan sangat sulit kita kenali sebagai tulang. Tapi, menyebut semua ikan memiliki tulang kecil itu pelecehan yang sangat nyata. Saya benar-benar marah kali ini, Mbak!

Mungkin Mbak Vivi belum pernah mencoba ikan tuna, dengan daging yang terhampar di sekujur tubuhnya dan empuknya minta ampun itu. Belum lagi rasanya yang gurihnya, hmmm sangat nylekamin sekali kata orang Banyumas. Tulangnya? Bahkan orang dengan kelainan mata sekalipun saya yakin masih bisa mengenalinya sebagai tulang dari ikan ini tanpa melihatnya menggunakan alat bantu.

Persoalan tulang, saya punya rekomendasi beberapa makanan yang bahkan bisa dimakan sekalian dengan tulangnya. Yang lebih ekstrem tentu saja ikan hiu dan pari yang dari sononya sudah bertulang lunak. Dua jenis ikan yang saya sebutkan ini ya benar-benar tulangnya lunak dan bisa Mbak Vivi keramus sekali lahap. 

Baca Juga:

Peh, Cucut, dan Larak: Menu Pecak Andalan di Warteg yang Enak tapi Bikin Pembeli Merasa Bersalah

Menggugat Ikan Bakar yang Digoreng Dulu: Kebohongan Penjual Ikan Bakar yang Sudah Dinormalisasi

Tapi karena mereka cukup ekstrem, mari saya kasih alternatif pengganti. Belilah ikan kembung di pasar yang biasanya dikeranjangin itu. Atau ikan teri juga boleh. Bawa pulang, lalu goreng sampai ikannya berwarna merah kecokelatan sebagai tanda matang kelewat dikit dan hampir gosong. Pada kondisi demikian, biasanya ikan kecil (yang jadi trauma Mbak Vivi) akan menjadi sedikit lunak sampai ke tulang-tulangnya dan sekali dua kali gigit akan hancur berkeping-keping. Atau kalau nggak mau ribet, beli ikan sarden dalam kaleng saja, Mbak. Takutnya, ketidaksukaan pada ikan adalah cara Mbak Vivi menyembunyikan ketidakbisaan memasak ikan itu sendiri.

Kalau sudah dengan perkara pertama, mari kita lanjut ke bagian kedua. Nah, di penjelasan Mbak Vivi, ada salah satu statement yang menurut saya terlalu umum bagi saya yang sudah sejak kecil sudah “bau amis ikan” ini. Tapi saya paham jika Mbak Vivi nggak suka. Masalah trauma dengan bau amis ikan? Tunggu dulu. Sudah ada banyak cara dan teknologi yang membuat bau ikan ini hilang seketika kalau Mbak Vivi mau belajar. Mbak Vivi boleh mencobanya dengan mulai menggunakan detergen atau cairan pencuci tangan pada umumnya. Atau menggunakan cairan pencuci piring macam moonlight atau papa lemon juga ampuh, terutama yang komposisinya mengandung jeruk nipis. Tapi tentu saja pastikan bahwa mencuci tangan dengan bahan-bahan di atas, Mbak Vivi lakukan setelah makan ikan, jangan sebelum makan ikan, malah nggak akan ada gunanya, Mbak.

Yang kedua, saya menyarankan kepada Mbak Vivi untuk membeli ikan yang masih segar. Bila perlu, belilah ikan yang masih menggeliang saat dibayar. Jangan beli ikan yang sudah basi, apalagi ikan yang lebih lama matinya daripada hidupnya.

Nah, memang ada ikan-ikan tertentu yang bahkan belum dimasak saja sudah mengeluarkan bau amis yang lumayan menyengat. Ya salah satunya ikan yang sudah lama mati itu, Mbak. 

Tapi, saya harus bersepakat pada salah satu penjelasan Mbak Vivi mengenai ikan yang bukan satu-satunya sumber protein. Saya sudah cukup membuktikan hal itu dengan menjadi orang yang makan ikan setiap hari selama kurang lebih 18 tahun saya hidup, tapi tetap saja kurusnya macam burung bangau.

Nah, sebagai penutup, saya mau mengajak Mbak Vivi untuk mau mencoba makan ikan lagi mulai dari sekarang. Tentu dengan mengikuti tips-tips saya di artikel ini. Terutama jika Mbak Vivi takut “ditenggelamkan”. Tapi, kalau Mbak Vivi lebih percaya dengan trauma di masa lalu, ya saya nggak mau ikut-ikutan, Mbak. Ini mah sekadar mengingatkan saja.

BACA JUGA 4 Ikan Asin Terbaik untuk Resep Nasi Liwet Sunda dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2021 oleh

Tags: ikanmakan
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Makan di Rumah Makan yang Terpaksa Harus Saya Tulis

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Makan di Rumah Makan yang Terpaksa Harus Saya Tulis

17 Februari 2024
5 Dosa Makan Martabak dari Perspektif Penjualnya Terminal Mojok.co

5 Dosa Saat Makan Martabak dari Perspektif Penjualnya

4 April 2022
10 Istilah Makan dalam Bahasa Jawa dari Ngemrus hingga Nguntal Terminal Mojok

10 Istilah Makan dalam Bahasa Jawa dari Ngemrus hingga Nguntal

17 Juni 2022
Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini terminal mojok

Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini

12 Desember 2021
Nggak Habis Pikir Sama Orang yang Tidak Menghabiskan Makanan Hajatan terminal mojok.co

Pertanyaan Makan sebagai Penanda Kelas Ekonomi dan Kadar Moral Seseorang

2 Mei 2020
ikan terdampar tanda tsunami mitos penjelasan ilmiah penyebab ikan terdampar mojok.co

Ikan Terdampar Pertanda Tsunami? Itu Mitos, Gini nih Penjelasan Ilmiahnya

14 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial Mojok.co

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial

13 Juli 2026
Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat Mojok.co

Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat

10 Juli 2026
Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur terbaik no debat (Wikimedia Commons)

Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur yang paling bisa diterima semua lidah orang Indonesia ketimbang kuliner Jatim lainnya

12 Juli 2026
Menikmati hari Minggu di Sewon Alternatif wisata underrated Jogja (Unsplash)

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

12 Juli 2026
Di Madura, Biaya Oleh-oleh Haji Hampir Sama Besarnya dengan Biaya Keberangkatannya, Bikin Orang Jadi Enggan Berangkat  

Banyak Orang Madura Mampu Berangkat Haji tapi Nggak Berani karena Harus Beli Oleh-oleh buat Tetangga, Bisa Habis Puluhan Juta!

10 Juli 2026
Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius Mojok.co

Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.