ADVERTISEMENT

3 Proker KKN yang Rutin Dijalankan Mahasiswa Tapi Aslinya Nggak Guna di Mata Masyarakat

3 Proker KKN yang Rutin Dijalankan Mahasiswa Tapi Aslinya Nggak Guna di Mata Masyarakat.MOJOK.CO

#3 Proker KKN yang menggurui masyarakat

Mojok juga pernah mendapatkan keluhan dari salah satu warga di Jogja terkait pelaksanaan proker KKN mahasiswa. Alim (32), salah satu tokoh pemuda di desa tersebut, pernah mengeluh karena mahasiswa sangat “sok tahu” soal produksi pupuk kompos.

Alim bercerita, sudah lebih dari dua puluh tahun masyarakat desanya mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Pengetahuan soal ini juga diturunkan secara turun temurun. 

Tiap keluarga sudah menggunakan pupuk kompos untuk perkebunan skala kecil maupun skala menengah. “Jadi, kompos itu udah jadi pengetahuan umum di sini,” jelas Alim.

Ketika ada mahasiswa KKN datang, mereka merancang program pembuatan kompos dengan metode mereka sendiri. Ironisnya, metode yang dipakai masyarakat desa selama ini ternyata jauh lebih efektif.

Namun, yang bikin Alim sakit hati, di laman kampus PTN tersebut muncul pemberitaan kalau mahasiswa KKN “berhasil mengajari warga membuat pupuk kompos”.

“Ketika saya membaca berita tersebut, saya merasa dihina, masyarakat merasa digurui. Padahal tanpa adanya proker KKN itu pun, kami warga desa sudah paham bahkan memakai kompos selama bertahun-tahun,” jelas Alim.

‘Malahan, kalau boleh jujur, metode yang dipakai mahasiswa KKN kemarin buruk sekali. Nggak berguna bagi kami.”

Alasan proker KKN template dan cari gampangnya

Mojok juga mewawancarai Ahmad (37), akademisi PTS di Jogja sekaligus dosen yang beberapa kali menjadi dosen pembimbing KKN.

Menurut Ahmad, ada kecenderungan “messiah complex” dari para mahasiswa KKN dalam memandang masyarakat desa. Gampangnya, banyak mahasiswa yang menganggap diri mereka “penyelamat” saat tiba di desa lokasi KKN.

“Karena mereka hadir sebagai kelompok yang lebih superior secara pengetahuan, para mahasiswa KKN menempatkan masyarakat desa sebagai kelompok yang lebih inferior dan wajib ditolong,” jelasnya, Kamis (18/7/2024).

“Padahal KKN itu prinsipnya saling belajar. Warga belajar dari ilmu mahasiswa yang didapat di kampus, sementara mahasiswa belajar dari masyarakat melalui kehidupan mereka. Tak boleh ada proses saling menggurui.”

Ahmad juga menyoroti banyaknya proker KKN yang asal jadi dan mencari gampangnya saja. Ia sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Sebab, dari pengalamannya mendampingi mahasiswa KKN, program kerja kerap terbentur dengan keterbatasan akomodasi dan logistik.

“Jadi memang tak bisa mengharapkan sesuatu yang besar dari KKN. Baik mahasiswa maupun masyarakat, ambil ilmunya saja. Kalau berharap perubahan besar, tagih ke pemerintah setempat,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2024 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version