Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mahasiswa Surabaya Merasa Nggak Guna Lulus Kedokteran tapi Akreditasi C, Kuliah Mahal Tapi Ijazahnya Enggak Laku Buat Daftar PPDS

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 April 2024
A A
Mahasiswa Surabaya Merasa Nggak Guna Lulus Kedokteran tapi Akreditasi C, Kuliah Mahal Tapi Ijazahnya Enggak Laku Buat Daftar PPDS.mojok.co

Ilustrasi Mahasiswa Surabaya Merasa Nggak Guna Lulus Kedokteran tapi Akreditasi C, Kuliah Mahal Tapi Ijazahnya Enggak Laku Buat Daftar PPDS (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Roni (28) pernah berkeinginan menjadi dokter spesialis. Makanya, setelah menyelesaikan kuliah kedokterannya, ia kemudian mendaftar ke Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di salah satu PTN elite. Sayangnya, Roni ditolak mentah-mentah. Alasan utamanya karena jurusan kedokteran tempatnya berkuliah masih akreditasi C saat ia lulus.

Roni sendiri merupakan mahasiswa kedokteran di salah satu PTN. Ia lolos melalui jalur SNBT (dulu SBMPTN) pada 2014 lalu. Jurusan Kedokteran, saat itu, memang menjadi jurusan anyar di kampusnya. Usianya baru sekitar 2-3 tahun. Hingga menyelesaikan pendidikan profesi dokternya pada 2021, akreditasi jurusannya pun masih C.

“Waktu mendaftar [PPDS], di syaratnya itu kalau sarjana kedokteran minimal harus IPK 2,75 buat FK yang akreditasi A dan IPK 3,00 buat FK yang akreditasinya masih B,” jelas lelaki asal Surabaya yang kini berdomisili di Solo, kepada Mojok, Selasa (2/4/2024). 

“Aku sempat bingung sebentar, ‘lantas, bagaimana dengan yang akreditasinya masih C?, jangan-jangan enggak diperhitungkan’. Tapi aku gas-gas saja,” ia melanjutkan.

Ternyata kekhawatirannya itu terjadi: Roni tak diterima. Ia gagal pada seleksi administrasi. Hal tersebut jelas membuatnya kecewa karena waktu dan biaya tak sedikit telah ia habiskan untuk kuliah kedokteran. “Ya gimana enggak sakit hati, ditolak karena akreditasinya C,” tegasnya.

Kampus top memang menolak lulusan kedokteran akreditasi C untuk daftar PPDS

Beberapa kampus top sebenarnya telah menghapus persyaratan yang mencantumkan batas minimum akreditasi jurusan kedokteran bagi para pendaftar PPDS. PTN elite seperti Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Padjadjaran (Unpad), hingga Universitas Hassanudin (Unhas) adalah beberapa di antaranya.

Bahkan, Universitas Gadjah Mada (UGM) juga telah menghapus kebijakan tersebut beberapa tahun ke belakang ini. Kampus terbaik di Jogja ini hanya memberikan syarat IPK minimun yang berbeda bagi tiap pendaftar pada masing-masing akreditasi.

Melansir laman resmi ppds.fk.ugm.ac.id, untuk lulusan jurusan kedokteran akreditasi A, misalnya, UGM memberi ambang batas IPK minimal 2,50. Adapun bagi lulusan kedokteran akreditasi B, IPK minimum yang diminta lebih tinggi, yakni 2,75. Sementara bagi yang akreditasi C, batas miminal IPK mereka harus 3,00.

Kendati demikian, memang ada beberapa PTN top yang masih menolak mahasiswa kedokteran yang ketika lulus jurusan mereka masih akreditasi C. Salah satunya Universitas Brawijaya (UB).

Melalui laman pendaftaran dan pemberkasan PPDS UB, kampus asal Malang ini menyebut kalau mereka hanya menerima ijazah/sertifikat profesi dokter dengan akreditasi paling rendah B. UB juga membedakan ambang batas IPK bagi para pendaftarnya. Bagi lulusan kedokteran akreditasi A, IPK minimum yang diminta adalah 2,75. Sedangkan yang akreditasi B yakni 3,00.

Selain UB, PTN lain yang menolak lulusan kedokteran akreditasi C adalah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Bersyukur karena merasa terhindar dari ‘perbudakan’ masa pandemi Covid-19

Roni jelas kecewa dengan kegagalannya masuk PPDS. Bahkan, ia beberapa kali sempat mengutarakan protesnya di media sosial dengan menyebut kebijakan ini amat diskriminatif. Bagaimana tidak, menurut lulusan kedokteran ini, dokter spesialis di Indonesia masih sangat sedikit, sementara untuk mengikuti pendidikannya saja malah dipersulit.

Tapi di sisi lain, narasumber Mojok yang uneg-unegnya pernah saya tulis dalam liputan “Cerita Mahasiswa Kedokteran Surabaya Lulus Kuliah Enggak Jadi Apa-apa, Susah Kerja Karena Akreditasi Jurusan C” ini mengaku juga bersyukur atas kegagalannya itu.

Pasalnya, ia tahu kalau pada 2021 lalu, saat pandemi Covid-19 begitu parah menginfeksi masyarakat Indonesia, banyak peserta PPDS yang pada akhirnya menjadi “korban”.

Iklan

“Banyak temanku yang lagi PPDS pada cerita kalau mereka dieksploitasi atas nama pendidikan. Banyak yang jadi tenaga kerja pada akhirnya, padahal statusnya kan peserta didik,” jelas Roni, saat kembali Mojok hubungi Minggu (7/4/2024). “Mereka jadi orang-orang yang rentan. Bahkan pada mengeluh kalau itu ibarat perbudakan,” sambungnya.

Per survei PB IDI pada Agustus 2020 lalu saja (saat awal pandemi), dari 7.800 responden peserta PPDS, 978 di antaranya mengaku tertular Covid-19. Selain itu, sebanyak 62,9 responden mengaku APD yang mereka kenakan berasal dari donatur atau usaha sendiri. 31 persen di antaranya bahkan tak pernah mendapatkan fasilitas swab PCR.

Jumlah tersebut bisa jadi lebih besar karena selama dua tahun berikutnya, pandemi di Indonesia terus memburuk. Maka, tak heran muncul kasus mahasiswa PPDS UNAIR meninggal dunia karena Covid-19.

Merasa tak rugi kuliah kedokteran, hanya menyesal karena akreditasi C

Merasa hilang semangat menggeluti dunia medis, Roni banting stir menjadi pengusaha. Sejak beberapa bulan ke belakang, ia sibuk mengelola usaha cuci sepatu di kota asalnya, Surabaya. Ia mengaku terinspirasi bisnis ini dari dr. Tirta.

Kendati gagal mewujudkan keinginannya, Roni mengaku tak ada sesal. Hanya saja, pada akhirnya memang ada kekesalan karena jurusan kedokteran di kampusnya masih akreditasi C.

“Aku enggak menyesal pernah punya cita-cita jadi dokter, meski akhirnya kehilangan gairah. Aku juga enggak menyesal lama kuliah kedokteran,” tegasnya. “Cuma yang masih sedikit mengganjal, ketidaktahuanku milih jurusan yang akreditasinya masih C. Kalau aku tahu, mungkin jalan hidupku beda dengan yang sekarang,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mahasiswa Kedokteran PTN Kuliah Mahal-Mahal Memilih DO karena Takut Menangani Pasien, Nekat Kerja di Restoran Meski Terancam Dicoret dari KK

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 17 April 2024 oleh

Tags: fakultas kedokteranfkjurusan kedokteranmahasiswa kedokteran akreditasi cPPDSsoloSurabaya
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko” MOJOK.CO

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

3 Agustus 2026
Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.