New Zealand berpotensi memasok semen sapi pejantan untuk mendukung pengembangan bibit sapi unggul di DIY. Pengembangan sapi unggul dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas ternak di tengah keterbatasan lahan peternakan di Jawa.
***
Pertemuan Duta Besar New Zealand untuk Indonesia Philip Taula dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menghasilkan rencana pengembangan bibit sapi unggul. Salah satunya dengan memasok semen sapi pejantan dari New Zealand.
Semen sapi pejantan adalah cairan mani yang terdiri atas sel-sel hidup yang disebut spermatozoa (sperma) dan cairan pelindung yang disebut plasma seminal. Cara ini dipilih mengingat keterbatasan lahan di Pulau Jawa untuk mengembangbiakkan sapi.
Padahal, kebutuhan daging di Indonesia cukup besar. Melansir dari laman resmi Pertanian tahun 2023, kebutuhan konsumsi daging sapi nasional di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 720.000 hingga 780.000 ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 30 persen hingga 70 persen, sehingga terjadi defisit ratusan ribu ton.
Solusi bibit unggul dari New Zealand
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Ghofar Ismail, mengatakan kebutuhan daging dan susu menjadi salah satu alasan sektor peternakan menarik untuk dikembangkan melalui kerja sama dengan New Zealand.

Di sisi lain, keterbatasan lahan di Pulau Jawa membuat pengembangan sapi menghadapi tantangan, sementara kebutuhan daging sapi cukup besar.
Menurut Ghofar, salah satu opsi yang dapat dikaji adalah mendatangkan semen sapi pejantan dari New Zealand untuk keperluan inseminasi buatan (IB). Skema kawin suntik itu dinilai lebih memungkinkan dibandingkan mendatangkan sapi hidup dengan mempertimbangkan regulasi, biaya pengiriman, jarak, hingga risiko selama perjalanan.
“Jadi kita bisa mendatangkan semennya, kemudian dilakukan inseminasi buatan. Harapannya nanti menghasilkan sapi-sapi persilangan yang unggul,” kata Ghofar di Gedong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Jumat (11/9/2026).
Rencana Pemda DIY
Ghofar berujar pengembangan sapi unggul dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas ternak di tengah keterbatasan lahan peternakan di Jawa. Pembahasan tersebut masih berada pada tahap awal sehingga teknis pelaksanaannya belum ditentukan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Duta Besar New Zealand untuk Indonesia, Philip Taula, mengatakan kerja sama dapat diakomodasi melalui payung sister province, sebuah kerangka hukum atau kesepakatan formal (MoU/LoI) tingkat tinggi antara dua pemerintah provinsi dari negara yang berbeda.
Menurutnya, kerja sama tidak hanya berhenti pada peluang peningkatan produksi daging dan susu di Yogyakarta, tetapi dapat dikembangkan ke bidang lain seperti pertanian, pendidikan, kebudayaan, hingga investasi.
“Kami bicara mengenai bagaimana New Zealand bersama Daerah Jogja bisa bekerja sama, termasuk isu mungkin ada provinsi di New Zealand yang bisa sister province bersama Jogja,” kata Philip.

Philip mengatakan, pihaknya akan mencari informasi lebih lanjut mengenai provinsi-provinsi di New Zealand yang berpotensi menjadi mitra DIY. Menurutnya, Yogyakarta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai mitra karena memiliki kekuatan di bidang pendidikan dan berbagai sektor lainnya.
“Ini salah satu kota yang punya banyak potensi, terutama pendidikan. Kami juga melihat ada potensi kerja sama di berbagai bidang yang bisa dikembangkan bersama,” ujarnya.
Proses penjajakan kerja sama dengan New Zealand
Hubungan New Zealand dengan Indonesia sendiri, kata Philip telah berjalan dalam sejumlah bidang, termasuk pertanian, energi terbarukan, dan pendidikan. Kerja sama pendidikan juga telah terjalin antara universitas di New Zealand dengan perguruan tinggi di Indonesia.
“Kami sudah memiliki kerja sama dengan universitas-universitas di Indonesia, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM),” kata Philip.
Philip mengatakan New Zealand juga memiliki pengalaman bekerja sama dengan Indonesia dalam penanggulangan bencana di sejumlah daerah. Namun, isu tersebut belum secara khusus dibahas dalam pertemuan kali ini dan masih dapat menjadi bagian dari penjajakan kerja sama selanjutnya.
Sementara saat ini, Philip masih mencari provinsi yang sesuai di New Zealand untuk kemudian dibicarakan lebih lanjut dengan jajaran Pemda DIY. Dari proses tersebut, kerja sama yang lebih konkret diharapkan dapat dirumuskan sesuai potensi dan kebutuhan kedua daerah.
Sumber: Humas Pemda DIY
BACA JUGA: Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan