ADVERTISEMENT

Populasi Menurun Drastis, 45 Persen Burung Bermigrasi di Dunia Terancam Punah

Burung bermigrasi.MOJOK.CO

Laporan terbaru dari organisasi konservasi BirdLife International mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan yang diumumkan dalam acara Global Flyways Summit yang digelar di Nairobi, Kenya, Jumat (11/9/2026), disebutkan bahwa 45 persen spesies burung yang bermigrasi di seluruh dunia kini mengalami penurunan populasi. 

Dalam laporan bertajuk “State of the World’s Birds tersebut, tercatat bahwa satu dari sembilan spesies burung migran saat ini berada dalam ancaman kepunahan. 

Kondisi ini semakin nyata dengan resminya pengumuman kepunahan global burung Slender-billed Curlew pada tahun 2025. Kepunahan ini menjadi yang pertama kalinya terjadi pada burung di daratan Eurasia dan Afrika dalam beberapa abad terakhir. 

Berdasarkan laporan tersebut, kelompok burung laut dan burung pantai menjadi spesies yang nasibnya paling terancam.

Potret Lesser Flamingo (Flamingo Kecil) dan Greater Flamingo (Flamingo Besar) yang terbang di Danau Natron, kawasan utara Tanzania dekat perbatasan Kenya. Status kepunahan kedua spesies ini berbeda, menurut Daftar Merah IUCN, Lesser Flamingo berstatus hampir terancam (Near Threatened), sedangkan Greater Flamingo berstatus berisiko rendah (Least Concern). (dok. Akshita Rakhbiya/Burung Indonesia)

Manusia adalah penyebab utama penurunan populasi burung migrasi

Penurunan tajam jumlah burung ini sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia. Beberapa penyebab utamanya meliputi masuknya spesies asing yang merusak ekosistem, pembukaan dan perluasan lahan pertanian yang berlebihan, dampak perubahan iklim, serta perburuan liar dan penangkapan yang tidak terkendali. 

Padahal, burung merupakan indikator penting bagi kesehatan bumi kita. Ketika populasi mereka terancam, hal itu menjadi peringatan keras adanya kerusakan pada sistem alam yang juga menopang kehidupan manusia.

Menanggapi krisis lingkungan ini, para pemimpin dunia, ilmuwan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta institusi keuangan mengambil langkah tegas. Mereka menandatangani Deklarasi Jalur Terbang Nairobi (Nairobi Flyways Declaration) sebagai komitmen nyata untuk meningkatkan kerja sama pelestarian burung bermigrasi dan habitatnya tanpa terhalang batas negara.

Potret Burung kedidi paruh-sendok (Calidris pygmaea). Menurut Laporan BirdLife International, ia berstatus sangat terancam punah (critically endangered) akibat kerusakan parah pada habitat pesisir, penangkapan yang tidak disengaja, perburuan, serta populasi yang tersisa sangat sedikit, kurang dari 500 ekor burung dewasa di seluruh dunia. (dok. Butterfly Hunter/Shutterstock)

“Burung bermigrasi tidak mengenal batas negara. Mereka menghubungkan Asia ke Afrika, dan Kutub Utara ke daerah tropis,” ungkap Putri Takamado, Presiden Kehormatan BirdLife International, dalam keterangan tertulis yang diterima Mojok, Senin (14/6/2026). 

Ia menekankan bahwa Deklarasi Nairobi menyadari perlunya kerja sama dan koordinasi tingkat internasional agar burung-burung migran tetap aman.

Bentuk komitmen

Untuk merealisasikan upaya pelestarian ini, komitmen pendanaan dalam jumlah besar telah disiapkan. Sejak tahun 2021, lebih dari 6 miliar dolar AS telah dikumpulkan oleh berbagai bank pembangunan dunia.

Sebagai contoh, Asian Development Bank (ADB) tengah memobilisasi dana sebesar 3 miliar dolar AS selama sepuluh tahun ke depan. Dana ini ditujukan untuk melindungi setidaknya 50 lahan basah prioritas yang berada di jalur terbang Asia Timur hingga Australasia. 

Langkah pelestarian ini tidak hanya akan menyelamatkan jutaan burung, tetapi juga akan menopang kehidupan hampir 200 juta manusia yang bergantung pada ekosistem lahan basah tersebut. 

Langkah serupa juga dilakukan di wilayah Amerika Latin, Afrika, dan Eropa dengan dukungan lembaga keuangan seperti Bank Dunia.

“Laporan State of the World’s Birds sangat jelas: kita kehilangan burung bermigrasi pada tingkat yang mengkhawatirkan. Namun, Deklarasi Nairobi hari ini menandai titik balik,” tegas Martin Harper, Chief Executive BirdLife International. 

Ia menyerukan agar pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat sipil segera mengambil peran untuk menyelamatkan keajaiban alam dari proses migrasi ini.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version