Sebanyak 50.891 orang di Kalimantan telah menjadi korban infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Juli hingga Agustus 2026. Kebutuhan masker dan air bersih pun menjadi penting.
Anak-anak jadi korban ISPA akibat karhutla di Kalimantan
Sejak bencana karhutla Kalimantan terjadi, Wahana Visi Indonesia (WVI) sebagai salah satu organisasi kemanusiaan langsung menugaskan tim tanggap bencana, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat.
Humanitarian & Emergency Affairs (HEA) Specialist WVI, Ronny Ichwan, mengungkap dari puluhan ribu kasus yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan, WVI secara spesifik mendampingi puluhan anak yang menjadi korban ISPA di lapangan.
“Sesak napas menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak dialami anak-anak akibat kabut asap, dan temuan kami sudah ada puluhan kasus anak terjangkit ISPA,” ujar Ronny dikutip dari keterangan resmi, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, kabut asap karhutla Kalimantan yang menyelimuti wilayah itu telah memicu berbagai masalah kesehatan, terutama gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas, keluhan kesehatan yang paling banyak dilaporkan pada anak-anak, serta pusing akibat menurunnya kadar oksigen.
Berdasarkan pemantauan Stasiun Meteorologi Tebelian per 24 Agustus 2026, konsentrasi partikulat PM2.5 sempat mencapai 285 µg/m³, sehingga masuk dalam kategori berbahaya.
Selain itu, kemarau panjang turut menyebabkan krisis air bersih. Sejumlah keluarga juga melaporkan hanya bisa mandi sekali dalam dua hari. Berdasarkan pantauan tim WVI per 31 Agustus lalu, kabut asap dan kekeringan masih terasa selama berhari-hari.
Gotong royong menyelesaikan bencana buatan manusia
Guna mengantisipasi dampak karhutla Kalimantan yang lebih buruk, WVI telah membagikan sekitar 10 ribu buah surgical masks N95/KN95 dan distribusi 16 ribu liter air bersih ke seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat berdasarkan tingkatan kepadatan kabut asap yang berbeda-beda.
“Kami memprioritaskan distribusi masker dan air bersih, edukasi kesehatan, serta pemantauan langsung kondisi kesehatan anak-anak dampingan agar dampak jangka panjangnya bisa diminimalkan,” ujar Ronny Ichwan.
Edukasi kesehatan dilakukan melalui distribusi masker, air bersih, serta pencegahan dampak kesehatan akibat kabut asap karhutla Kalimantan. Sedangkan advokasi, dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk memperkuat pemantauan dan penanganan kondisi kesehatan anak-anak dampingan.
Pemantauan tersebut bakal berlangsung hingga Oktober 2026 di lima kabupaten yaitu Kubu Raya, Landak, Sintang, Bengkayang dan Sekadau yang ada di Kalimantan Barat. Pemantauan dampak karhutla Kalimantan dilakukan bersama pemerintah daerah setempat, seperti BPBD, Dinas Kesehatan, pemerintah desa, gereja, dan masyarakat.
Sementara itu, Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora, menyampaikan rasa prihatinnya terhadap dampak karhutla di Kalimantan, khususnya yang menimpa anak-anak.
“Udara yang tidak sehat dan krisis air bersih bisa berdampak langsung pada kesehatan dan keselamatan nyawa mereka. Fokus kami adalah memastikan hak anak atas kesehatan dan kehidupan yang layak,” ucapnya.
“Kami berterima kasih untuk pihak-pihak yang telah menghubungi kami langsung untuk ikut menyalurkan bantuan masker dan dukungan air bersih,” lanjutnya.
BACA JUGA: Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
