Ratusan pelajar SMA Negeri 1 Pundong dan SMA Negeri 1 Jetis di Kabupaten Bantul, Yogyakarta kini tak lagi panik berhamburan keluar kelas saat terjadi gempa. Sebab mereka sudah mengikuti pelatihan tanggap bencana gempa bumi dari InJourney Destination Management (IDM).
***
Azkia Shofwa Al Maala (16) teringat cerita ayahnya soal kejadian gempa bumi di Yogyakarta pada 2006 lalu, ketika ia mengalami langsung gempa berkekuatan Magnitudo 4,4 mengguncang Kabupaten Bantul pada Selasa (27/1/2026).
Azkia mengaku, baru kali ini ia benar-benar merasakan gempa yang membuat guru dan teman-temannya panik keluar kelas. Untungnya, mereka berhasil menyelamatkan diri. Barangkali, kepanikan itu juga yang dirasakan oleh keluarganya dulu.

“Saya diceritakan ayah, kalau nenek dan kakek saya meninggal karena tertimpa reruntuhan rumahnya waktu gempa tahun 2006. Paman saya pun juga mengalami patah tulang saat kejadian tersebut. Walau saya belum lahir, namun cerita tersebut membekas bagi saya,” jelas siswi Kelas X SMA 1 Jetis Bantul tersebut, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (30/1/2026).
Kenangan itulah yang menjadi alasan kuat Azkia semangat mengikuti pelatihan tanggap bencana gempa bumi dari IDM pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026) lalu. Bersama 200 murid lainnya dari SMA Negeri 1 Pundong dan SMA Negeri 1 Jetis di Kabupaten Bantul, Azkia belajar keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat bencana.
“Sebelum ada simulasi ini, aku berlindungnya itu lari keluar panik. Aku bisa tahu kalau kepala harus dilindungi, serta mencari tempat perlindungan terlebih dahulu sebelum keluar menuju ke titik kumpul,” ucapnya.
Ia berharap pelatihan ini dapat diketahui dan diikuti oleh banyak orang, agar tidak ada lagi korban bencana yang berjatuhan.
Pelatihan bencana untuk pelajar SMA di Bantul
Koordinator Pengurus Harian Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (PH Sekber SPAB) DIY, Budi Santoso menjelaskan pelatihan tanggap bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul meliputi serangkaian materi intensif yang mencakup spektrum mitigasi.
Misalnya, pemahaman risiko mengenai potensi bencana gempa bumi, teknik penyelamatan, evakuasi hingga simulasi penanganan darurat. Dalam pelatihan tersebut, kata Budi, peserta juga diajarkan untuk merespons bencana dengan tenang, mencari perlindungan, serta simulasi jalur evakuasi menuju titik kumpul (assembly point) tanpa kepanikan.
“Pemilihan lokasi pelatihan juga karena di sini menjadi pusat dan salah satu daerah terdampak paling parah saat lindu besar mengguncang Yogyakarta 20 tahun silam,” jelasnya.
PH Sekber SPAB DIY mencatat terdapat indikasi sebanyak 14 potensi bencana di Yogyakarta. Sementara, kajian risiko bencana di Kabupaten Bantul sendiri ada 11 potensi yang meliputi bencana gempa, tsunami, cuaca ekstrem, banjir, kebakaran, tanah longsor, kekeringan, abrasi dan gelombang ekstrem, wabah penyakit, kegagalan teknologi.
“Indikator SPAB yang utama adalah terkumpulnya informasi ancaman, potensi kerentanan dan
tindakan penyelamatan untuk mengurangi risiko bencana. Dukungan berbagai pihak diperlukan untuk menumbuhkan kesadaran dan keterampilan penanganan bencana di seluruh lapisan masyarakat,” ujar Budi.
Membangun memori kolektif bencana sejak dini
Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY Tukiman mengapresiasi kegiatan ini sebagai bagian mengenalkan kembali potensi rawan bencana di daerah Yogyakarta. Menurutnya, potensi bencana di Yogyakarta memang cukup kompleks.
Oleh karena itu, ia mengajak para murid di Kabupaten Bantul bersyukur karena masih bisa belajar bersama tentang mitigasi bencana. Ia berharap para peserta yang sudah mengikuti pelatihan dapat menjadi pionir bagi teman-teman satu kelas mereka. Tak hanya menularkan ilmunya di sekolah tapi juga di kampung.
“Kita bersyukur bisa mengenali, agar tidak terlalu panik menghadapi bencana,” ujar Tukiman.
Sementara itu, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo mengapresiasi langkah IDM dalam membangun memori kolektif bencana pada masyarakat Yogyakarta sejak usia dini.
Langkah kolaboratif dalam pengurangan risiko bencana (PRB) ini selaras dengan pelaksanaan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dan Indeks Kapasitas Daerah (IKD) sebagai instrumen utama pengukuran kinerja pengurangan risiko bencana nasional.
“IRBI dan IKD merupakan indikator strategis dalam mewujudkan ketangguhan nasional terhadap bencana. Diperlukan sinergi agar data, kebijakan dan aksi di lapangan bisa memperkuat sistem ketahanan bencana nasional,” jelasnya.
Dalam rangka memperingati 20 tahun gempa bumi di Yogyakarta
Operation Group Head IDM, Leonardus Adityo Nugroho menjelaskan pelatihan tanggap bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta berfungsi meningkatkan pemahaman dan kesadaran pelajar terutama dalam menghadapi situasi darurat bencana.
“Komitmen kami untuk memperkuat dan meningkatkan kesadaran rekan-rekan terutama di daerah rawan bencana agar terus siaga dan siap menghadapi bencana,” jelasnya.
Pelatihan ini rencananya selesai sebelum puncak peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta pada Mei 2026 mendatang, dengan target seribu peserta dari 10 sekolah di wilayah Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.
“Melalui sinergi antara dunia usaha, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan ini, peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta tidak hanya menjadi momen reflektif serta kebangkitan untuk membangun Yogyakarta yang lebih tangguh dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan,” ujarnya.
IDM juga turut menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DI Yogyakarta melalui Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) di masing-masing sekolah.
“Kolaborasi ini adalah langkah awal untuk memperkuat kerja sama, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat DIY,” ucap Leonardus Adityo.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Trauma Gempa Jogja yang Tak Kunjung Hilang, Seorang Lelaki Tua di Bantul Tak Berani Tidur di Kamar Selama 17 Tahun atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan