Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 Februari 2026
A A
Festival Dandangan Kudus tak sekadar denyut perekonomian. MOJOK.CO

ilustrasi - Festival Dandangan Kudus 2026. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada yang berbeda dari Festival Dandangan Kudus tahun ini. Setelah ratusan tahun berselang, tradisi jelang Ramadan itu tak hanya berkembang sebagai denyut perekonomian warga, tapi juga membawa misi kepedulian lingkungan.

***

Tradisi ini konon sudah ada sejak zaman Sunan Kudus. Sebagai bentuk syukur dalam gegap gempita menyambut Ramadan. 

Seiring waktu, Festival Dandangan berubah menjadi semacam festival kuliner. Ratusan stand berjejer di sepanjang kawasan Menara Kudus. Setidaknya terdapat 527 stand dan 450 pedagang kaki lima (PKL) yang ikut berkontribusi memeriahkan acara ini. Arus konsumsi pun mengalir deras. 

Yang tidak terhindarkan kemudian: jika tidak dikelola serius, maka Festival Dandangan bisa berubah menjadi penyumbang sampah berskala besar. Sementara pada dasarnya festival ini merupakan warisan luhur. 

Itulah kenapa, dalam gelaran 2026 ini, Festival Dandangan coba dikelola tidak hanya sebagai titik perputaran ekonomi dan hiburan masyarakat, tapi juga menawarkan solusi jangka panjang dalam pengendalian sampah di Kudus.

Berhari-hari mengawasi pengunjung yang buang sampah

Sudah 2 hari ini Rio (23) menjaga salah satu spot tempat sampah yang berada di area ramai Festival Dandangan Kudus 2026. Itu berarti tugasnya sebagai volunteer dari Sedulur Asik (anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan) tersisa 9 hari lagi, di mana Festival Dandangan Kudus berlangsung pada Sabtu (8/2/2026) hingga Rabu (18/2/2026).

“Aku jaga tempat sampah di sini dari jam 14.00 WIB sampai 23.00 WIB,” ucap mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) itu saat ditemui Mojok di sepanjang jalan festival yang digelar di Perempatan Jember hingga Alun-alun Kudus, Sabtu (8/2/2026). 

orang membuang sampah. MOJOK.CO
Seorang pengunjung Festival Dandangan membuang sampah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Saya mengenali Rio dari rompinya yang bertuliskan “Sedulur Kudus Asik (Apik Resik)”. Saat itu dia sedang menjelaskan tiga jenis sampah utama berdasarkan sifat dan bahan bakunya ke salah satu pengunjung.

Dia juga menunjuk papan serta poster kampanye yang ditempel di sekitar area tempat sampah. Poster tersebut menjelaskan definisi sampah organik, anorganik, dan residu. 

Bahasa yang digunakan dalam poster juga sederhana, seperti “iso bosok” untuk organik, “ra iso bosok” untuk anorganik, dan “liyane” untuk residu. Dengan begitu, pengunjung Festival Dandangan tidak kebingungan.

Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika ini menjelaskan sampah “iso bosok” berupa sisa makanan, kulit buah, tusuk sate, ampas kopi atau teh. Lalu sampah “ra iso bosok” misalnya botol plastik, cup atau gelas plastik, kaleng, kardus dan kertas. Sedangkan “liyane” berupa kemasan sachet, tisu, sampah anorganik yang terkontaminasi makanan.

Tempat sampah di Festival Dandangan Kudus. MOJOK.CO
Tempat sampah dekat lapak Sarminah pedagang ketan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sejauh ini, kata Rio, sudah banyak pengunjung yang sadar untuk membuang sampahnya di tempat yang tersedia. Kendati ada juga yang masih kebingungan dalam memilah sampah.

“Misalnya begini, ada pelanggan yang baru beli siomai bungkus plastik terus kan ada bumbunya tuh, nah mereka bingung mau buang sampahnya ke tempat anorganik atau residu,” kata Rio. “Yang betul ya ke residu, karena masih ada bumbunya (anorganik yang terkontaminasi),” lanjutnya.

Iklan

Sedulur Asik bertugas mendata di hari penutupan Festival Dandangan

Rio hanyalah satu dari 20 volunteer Sedulur Asik dari kalangan mahasiswa UMK dan UIN Sunan Kudus yang menjaga titik-titik tempat sampah di Festival Dandangan 2026. Sebagai volunteer, dia juga bertugas menghitung jumlah pengunjung yang sudah punya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.

Shalihul Umam yang juga volunteer dari UIN Sunan Kudus berujar, dia turut menimbang satu tong sampah tiap dua jam sekali terutama saat sudah penuh. Kemudian, sampah yang sudah ada dalam trashbag akan diboyong oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan akhir.

“Biasanya yang paling banyak memang sampah jenis residu karena mereka habis minum es teh misalnya, kan botol plastiknya sudah terkontaminasi tuh, nah itu dibuang ke residu,” jelas Rio yang mengenakan sarung tangan karet berwarna hijau untuk mengambil trashbag yang sudah penuh. 

Festival Dandangan Kudus 2026 memuat unsur kemanusiaan

Anjas. MOJOK.CO
Koordinator acara Festival Dandangan 2026, Anjas. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Koordinator acara Festival Dandangan 2026, Anjas berujar data yang telah dikumpulkan oleh para volunteer berguna sebagai bahan evaluasi panitia Festival Dandangan di tahun berikutnya. Konon, selama ratusan tahun acara ini digelar, baru kali ini Festival Dandangan menambah fasilitas umum seperti toilet portabel dan tempat sampah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Dandangan Kudus sekarang sudah waktunya naik kelas, termasuk untuk kesadaran soal lingkungan. Alhamdulillah kami mendapatkan partner yang sangat suportif, salah satunya dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation,” jelas Anjas kepada Mojok, Senin (9/2/2026).

Anjas juga mengapresiasi para volunteer yang sudah memudahkan tugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kudus dan BLDF. Karena di hari terakhir rangkaian acara nanti, sampah yang sudah terpilah bakal diangkut ke tempat pembuangan akhir oleh DLH. 

Sementara, bahan baku pembuatan pupuk kompos dikirim ke Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang berada di kawasan Djarum Oasis Kretek Factory, Kudus.

“Pupuk kompos ini bakal kami distribusikan secara gratis ke siapa pun yang membutuhkan dan bisa diminta ke para petani kabupaten,” kata Anjas.

volunteer. MOJOK.CO
relawan yang mengedukasi sampah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Lewat gebrakan dan semangat peduli lingkungan tahun ini, dia berharap Festival Dandangan bukan sekadar acara yang dikomersialkan, tapi memuat unsur kemanusiaan.

“Apabila tumpukan sampah dari pengunjung yang meningkat tiap tahun ini tidak dikelola dengan baik, saya khawatir akan muncul dampak lingkungan yang lebih besar,” ucapnya.

Dari tahun ke tahun, kata Anjas, antusiasme masyarakat yang datang ke festival terus meningkat. Pada tahun 2024, jumlah kunjungannya mencapai 16.000 orang per hari. Di tahun 2025, lonjakan pengunjung terjadi sebanyak 2 kali lipat lebih, tepatnya 38.000 pengunjung. 

Kolaborasi mengatasi lonjakan sampah

Senada dengan Anjas, Mutiara Diah Asmara selaku Director Communication Djarum Foundation menegaskan, lonjakan jumlah pengunjung tiap tahun berpotensi meningkatkan volume sampah, utamanya dari sisa-sisa makanan dan minuman yang berserakan di sekitar lokasi.

Menurut data dari pemerintah daerah, Kabupaten kudus, berkontribusi sekitar 0,45 persen dari total timbulan sampah nasional di tahun 2024. 

Situasi ini, kata Mutiara mengkhawatirkan sehingga perlu sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. Khususnya pada kegiatan yang mengundang banyak pengunjung seperti Festival Dandangan.

Oleh karena itu, BLDF memberikan dukungan berupa penyediaan 60 unit tempat sampah dalam Festival Dandangan, sekaligus menjadi pihak pengelola sampah organik. 

Wakil bupati dan BLDF. MOJOK.CO
Deputy Program Director BLDF, Fransisca Berty (baju putih) dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton (batik). (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Ketika lingkungan terjaga kebersihannya, UMKM bisa beraktivitas dengan lebih nyaman, dan pengunjung pun betah menikmati suasana,” ujar Mutiara.

Oleh karena itu pula, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus memilih kerja sama dengan dinas-dinas terkait, pihak swasta, serta komunitas lokal. Dalam Festival Dandangan itu, Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton tak henti-hentinya mengajak warga Kudus untuk menjaga keamanan dan kebersihan sekitar.

“Di sini saya juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan, dan kondusivitas selama kegiatan berlangsung. Jagalah kebersihan lingkungan, mari kita bersama dalam memilah sampah dengan baik, membuang sampah pada tempat yang telah disediakan,” ujar Bellinda. 

Melalui sinergi lintas sektor ini, Djarum Foundation dan Pemerintah Kabupaten Kudus berharap Festival Dandangan tidak hanya menjadi perayaan budaya yang membanggakan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam membangun kesadaran lingkungan secara berkelanjutan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Tetes Kawruh dari Lereng Muria: Mata Air Tak Sekadar Lubang Basah tapi Jantung Bumi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: 2026bldffestival dandangankuduspeduli lingkunganRamadansudulur asiktradisi budaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO
Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Xiaomi POCO ternyata lebih berguna ketimbang Samsung Galaxy. MOJOK.CO

Kecewa dengan Penyakit “Kronis” Samsung Galaxy yang Habiskan Duit Berjuta-juta, Ternyata Merek “Murahan” Lebih Berguna

2 Maret 2026
Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik MOJOK.CO

Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

28 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

3 Maret 2026

Beras Porang Indomaret, Makanan Aneh yang Saya Sesali untuk Sahur padahal Menu Favorit Orang Jepang

3 Maret 2026
Bimbel untuk lolos UTBK SNBT agar diterima di PTN

Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN

3 Maret 2026

Video Terbaru

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.