Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

ilustrasi - pemenang OAOT kategori lari dan gowes yang menyumbang ratusan bibit pohon. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Fenomena Gen Z mendadak “jadi atlet lari” ternyata bisa menguntungkan bumi. Lewat program One Action One Tree (OAOT), Gen Z bisa mengonversi aktivitas fisiknya tersebut menjadi satu bibit tanaman pohon yang akan ditanam di lereng Gunung Muria.

***

Belakangan, lari menjadi aktivitas populer di kalangan Gen Z. Hal itu bisa dilihat dari survei Strava. Aplikasi pencatat jarak lari itu melaporkan 69 persen Gen Z terlihat lebih banyak membagikan pengalaman larinya di media sosial sejak tahun 2023. Sedangkan 36 persen di antaranya hobi bersepeda, sisanya adalah milenial serta boomers.

“Pelari-pelari kalcer” ini bukan atlet profesional, ada pula yang tidak tergabung komunitas resmi tapi rutin berlari sebagai gaya hidup. Alasannya pun bermacam-macam, misalnya agar hidup lebih sehat, merayakan patah hati, bahkan sebagai wujud kontribusi melestarikan lingkungan.

Salah satu kegiatan yang bisa diikuti Gen Z dalam aksi nyata pelestarian lingkungan dari aktivitas fisik adalah One Action One Tree (OAOT). OAOT merupakan gerakan tahunan yang diadakan sejak 2020 oleh Siap Darling Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF).

OAOT berangkat dari keyakinan bahwa gerakan melestarikan lingkungan bisa dilakukan dengan kegiatan sederhana, bahkan dari hobi seperti lari, bersepeda, dan ngonten di media sosial.

Berbeda dengan acara lari biasanya yang diadakan di satu tempat, kini peserta bisa melakukan hobi mereka di mana saja. Plus, hasil dari larinya bisa dikonversi menjadi satu bibit tanaman multipurpose tree species (MPTS).

menanam pohon. MOJOK.CO
Gen Z menanam bibit pohon di pekarangan Balai Desa Japan, Kabupaten Kudus. (Dok. BLDF)

Tak hanya aktivitas lari, pesepeda dan Gen Z yang hobi ngonten di media sosial juga bisa mengonversikan kegiatannya menjadi satu bibit pohon. Program Officer BLDF, Dandy Mahendra berujar antusiasme Gen Z dalam mengikuti kegiatan OAOT juga meningkat dari tahun ke tahun.

“Lewat kegiatan kolektif OAOT, alhamdulillah tahun ini kami sudah menanam sekitar 60.321 bibit.” Kata Dandy.

Gen Z menyumbang 176 bibit pohon dari berlari

Konten soal kegiatan OAOT yang tersebar di media sosial akhirnya sampai juga di beranda Instagram Muhammad Rifa Febrian (22). Gen Z asal Bogor itu baru-baru ini menyukai aktivitas lari dan akhirnya tertarik untuk ikut aksi nyata peduli lingkungan.

“Sebetulnya hobiku lari baru berjalan 1 tahun ke belakang. Jadi di tahun 2024 itu aku baru patah hati,” ucap Rifa terkekeh, “terus aku nyoba lari sendirian sampai akhirnya ikut klub dan ketemulah informasi soal OAOT ini,” tutur Rifa saat Mojok ajak berbincang setelah seremoni penutupan OAOT 2025 di Balai Desa Japan, Kabupaten Kudus, Selasa (10/2/2026).

Target Rifa awalnya tak muluk-muluk, yakni lari dengan kecepatan 5 menit untuk menempuh jarak satu kilometer (pace 5). Dalam jangka waktu beberapa minggu, Rifa akhirnya mampu mengumpulkan jarak sampai 176 kilometer. “Jadi per harinya aku lari sekitar 20 kilometer,” ucapnya.

Artinya, Rifa telah menyumbang 176 bibit pohon, karena konversi 1 bibit pohon sama dengan jarak 1 kilometer peserta berlari. Begitu pun dengan satu konten OAOT yang diunggah di Instagram. Sedangkan, untuk kategori sepeda konversinya 3 kilometer sama dengan 1 bibit pohon.

Gen Z, pemenang lari dan gowes di OAOT 2026. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Nantinya, bibit pohon berupa alpukat dan durian dari peserta tak langsung ditanam oleh mereka. Panitia OAOT sudah menyiapkan pasukan Gen Z yang tergabung dalam Darling Squad untuk turun langsung menanam bibit bersama masyarakat setempat. 

Kegiatan penanamannya dilaksanakan di belakang Balai Desa Japan dan sekitar lereng Gunung Muria. Konon, kawasan tersebut memiliki nilai ekologis, sekaligus erat kaitannya dengan penghidupan warga.

Tujuan awal diet, malah jadi pemenang OAOT

Mengetahui jumlah bibit pohon yang dia kumpulkan, Rifa pun tak menyangka bisa menjadi pemenang OAOT kategori lari, meski tak pernah menargetkan diri untuk juara. Sebab, kata dia, niat awalnya hanya ingin mengobati hati dan menyehatkan raga dengan diet. 

“Dulu, berat badanku pernah mencapai 94 kilogram dengan tinggi 171 sentimeter. Sekarang alhamdulillah sudah 68 kilogram,” kata Rifa.

Ibarat “sekali mendayung dua tiga-pulau terlampaui”, Rifa mengaku senang karena bisa mencapai tujuannya, sekaligus berkontribusi untuk menjaga alam. Seiring berjalannya waktu, dia pun sadar pentingnya menanam pohon untuk kini dan masa depan.

“Aku kan tinggal di Bogor yang terkenal dengan banjir dan tanah longsornya, terus waktu aku merantau ke Jakarta untuk kuliah, ternyata sama saja. Banjir. Sementara kalau cuaca cerah juga panasnya bikin pusing,” kata Rifa.

Tentunya, banjir dan tanah longsor mengganggu aktivitas Rifa sehari-hari. Lebih buruknya lagi, bencana tersebut bisa menimbulkan korban jiwa. Padahal, Rifa ingin menjalani hobinya dengan lingkungan yang bersih dan nyaman.

“Kalau lingkungan kita bersih, nyaman, dan asri, kita kan juga senang plus sehat,” ucapnya.

Gen Z tak ingin jadi penonton tanpa ikut kontribusi

Sama seperti Rifa, Muhammad Hisyam Hasbiallah (22), pemenang OAOT kategori gowes yang juga berasal dari Bogor itu mengaku ikut merasakan dampak kerusakan alam. Bahkan dia menilai banyak orang di sekitarnya masih belum sadar untuk membuang sampah pada tempatnya.

Peserta Gen Z OAOT 2026. Mulai dari pemenang lari, gowes, hingga anggota Siap Darling. (Dok. BLDF)

“Mungkin hal ini juga diresahkan oleh Gen Z saat ini ya soal bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, sementara saya merasa belum bisa berkontribusi banyak untuk alam. Oleh karena itu, lewat OAOT ini saya ingin memberikan kontribusi nyata, setidaknya dari hobi saya bersepeda,” tutur Hisyam.

“Aku juga nggak ingin hanya jadi penonton yang terima nasib saat bumi kita dirusak oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Harapanku ya agar bumi ini terjaga dan bisa dinikmati oleh generasi ke depan,” lanjutnya.

Melestarikan alam untuk kini dan masa depan

Kepedulian Gen Z terhadap lingkungan tidak hanya dirasakan oleh peserta lari, gowes, dan content creator, tapi juga anggota Siap Darling yang turun langsung menanam bibit pohon bersama masyarakat setempat. 

Haryta Syawalia (21) salah satunya. Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) ini sudah 2 tahun menjadi anggota Siap Darling, yakni dari semester 2 hingga kini semester 6. Semasa SMA dulu, dia juga pernah ikut ekstrakurikuler pecinta alam.

“Aku memang suka lihat yang ‘ijo-ijo’ dan kegiatan yang berbau alam seperti menanam pohon,” kata Haryta.

Haryta sadar bumi adalah satu-satunya planet yang layak dihuni makhluk hidup. Dengan kata lain, bukan hanya manusia di generasinya yang berhak menikmati alam tapi juga hewan, tumbuhan, dan generasi selanjutnya.

Oleh karena itu, agar tidak menjadi manusia yang serakah dan tak tau adab, Haryta ingin ikut berkontribusi melestarikan alam sekecil apapun itu. Toh, melestarikan alam tidak akan merugikan dirinya sama sekali. Malah jadi kegiatan yang mulia.

“Ikut acara kayak gini tuh seru banget dan tentunya ada beberapa benefit yang kami dapatkan, apalagi join kayak gini kan free ya, tidak dipungut biaya sepeser pun. Pulang-pulang juga dapat manfaat ilmu, pengalaman, bahkan ikut menjaga alam agar bisa dinikmati hasilnya.” Tutur Haryta.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pengalaman Sambut Ramadan di Kudus: Menyaksikan Bagaimana Merawat Bumi Ditradisikan Lewat Pembiasaan Sederhana atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version