Motor touring tak harus bongsor, berkapasitas mesin besar, atau berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Yamaha Jupiter MX King 150 menunjukkan kelasnya diajak touring dari Jogja ke Sidoarjo pulang pergi tanpa ada masalah sama sekali.
***
Wahyudi (42), warga asli dari Gamping, Sleman mengaku pernah memacu kuda besinya dari Jogja ke Sidoarjo tanpa ada kendala sama sekali. Motor Yamaha Jupiter MX King 150 miliknya justru cukup untuk melibas perjalanan Jogja–Sidoarjo pulang-pergi dengan bekal uang Rp500 ribu, meski ada satu bagian tubuh yang akhirnya meminta ampun.
Dari Jogja ke Sidoarjo, Yamaha Jupiter MX King 150 diajak melancong ratusan kilometer
Ada orang yang menganggap touring sebagai perjalanan penuh persiapan dengan motor gede, jaket mahal, dan perlengkapan yang serba khusus. Namun, Yudi—begitu saya biasa memanggilnya—punya cerita berbeda. Pada Januari 2026, ia menempuh perjalanan dari Yogyakarta menuju Sidoarjo, Jawa Timur, pulang-pergi, menggunakan Yamaha Jupiter MX King 150.
Dengan bekal uang Rp500 ribu, ia mengaku bisa menyelesaikan perjalanan tersebut dengan aman. Perjalanan yang ditempuhnya memakan waktu sekitar 10 jam, termasuk berhenti untuk makan dan mengisi bahan bakar.
Sebagai gambaran, jarak jalan raya Yogyakarta–Sidoarjo mencapai sekitar 315 kilometer sekali jalan. Artinya, perjalanan pulang-pergi itu setara kurang lebih 630 kilometer, bergantung pada titik keberangkatan, tujuan, dan rute yang dipilih.
Pengalaman Yudi menunjukkan bahwa motor bebek sport tidak harus berhenti pada urusan mobilitas harian. Selama kondisi kendaraan prima dan pengendara mampu mengatur ritme perjalanan, motor semacam ini juga bisa menjadi teman perjalanan antarkota.
Mesin 150 cc yang tidak gampang kehabisan napas
Dalam percakapan melalui WhatsApp pada Senin (26/10/2026), saya meminta Yudi menceritakan pengalamannya menggunakan MX King untuk perjalanan sejauh itu. Salah satu hal yang ia soroti adalah kemampuan mesin ketika menghadapi variasi medan jalan.
“Secara performa mesin juga mumpuni, tanjakan dan turunan dilibas,” ujar Yudi.
Pengalaman tersebut cukup masuk akal jika disandingkan dengan spesifikasi Yamaha Jupiter MX King 150. Berdasarkan laman dari kendaraan berlogo tiga garpu tala tersebut, motor ini mengusung mesin 149,79 cc, satu silinder, empat langkah, SOHC, empat katup, dengan sistem injeksi bahan bakar dan pendingin cairan.
Mesin tersebut menghasilkan tenaga maksimum 11,3 kW pada 8.500 rpm dan torsi maksimum 13,8 Nm pada 7.000 rpm. Tenaga disalurkan melalui transmisi manual lima percepatan.
Bekal tersebut cukup untuk membantu pengendara menghadapi tanjakan, mempertahankan laju, dan menyalip ketika situasi lalu lintas memungkinkan. Sistem pendingin cairan juga membantu menjaga temperatur kerja mesin selama perjalanan.
Tentu saja, spesifikasi bukan jaminan bahwa setiap MX King selalu tangguh. Kondisi radiator, oli, kopling, rantai, dan komponen lainnya tetap menentukan keandalan kendaraan, terutama pada motor yang sudah berumur.
Berjalan 60–80 Km/Jam, tidak perlu membuktikan diri di jalan raya
Satu hal menarik dari cerita Yudi adalah kecepatannya yang relatif moderat. Ia tidak mengejar kecepatan maksimum meskipun mengendarai motor yang punya karakter sporty.
“Secara kecepatan kebetulan saya standar sih jalannya 60–80 KM/Jam saja,” katanya.
Bagi saya, bagian ini justru menarik. Perjalanan jauh bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling cepat sampai. Menjaga kecepatan secara konsisten, membaca kondisi jalan, dan mengambil jeda ketika tubuh mulai lelah jauh lebih penting daripada terus memelintir gas.
Karakter MX King yang relatif ringan turut mendukung kelincahannya. Yamaha mencatat bobot isi motor ini sekitar 118 kilogram, dengan rangka backbone, suspensi depan teleskopik, serta suspensi belakang monoshock.
Kombinasi tersebut memberi modal untuk bermanuver di jalan antarkota, melewati kepadatan lalu lintas, dan menghadapi tikungan. Namun, kelincahan tetap harus digunakan secara bertanggung jawab. Menyalip di tanjakan atau tikungan buta bukan bukti kehebatan motor, melainkan keputusan berisiko.
Bensin irit, bekal Rp500 ribu bisa dibawa pulang
Selain performa, konsumsi bahan bakar menjadi pertimbangan penting dalam perjalanan ratusan kilometer. Yudi mengaku tidak terlalu sering mengisi bensin selama perjalanan tersebut.
“Secara bahan bakar cukup irit, Mas, saya hanya mengisi full tank itu 3–4 kali kalau nggak salah,” ujarnya.
Pengalaman ini sejalan dengan pengujian Otomotifnet terhadap MX King 150 yang mencatat konsumsi sekitar 43,5 kilometer per liter dalam pemakaian beragam. Hasil pengujian tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi perjalanan Yudi, tetapi setidaknya memberikan gambaran bahwa motor ini berpotensi ekonomis.
Kapasitas tangkinya memang hanya 4,2 liter. Dengan asumsi konsumsi 40 kilometer per liter, jarak teoritis dari tangki penuh sekitar 168 kilometer. Artinya, pengendara perlu merencanakan pengisian bensin, terutama ketika melintasi wilayah yang jarak antarpengisian bahan bakarnya cukup jauh.
Adapun uang Rp500 ribu yang dibawa Yudi menjadi bukti pengalaman pribadinya, bukan patokan biaya universal untuk semua orang. Pengeluaran aktual bergantung pada harga BBM, makanan, kondisi lalu lintas, dan kebutuhan selama perjalanan.
Jok jadi PR, tetapi Yamaha Jupiter MX King 150 tetap menjadi motor touring yang perlu dicoba
Meski punya banyak kelebihan, MX King bukan motor yang sempurna. Yudi mengakui ada bagian yang terasa kurang nyaman ketika perjalanan berlangsung lama.
“Mungkin PR-nya di ketahanan duduk saja, Mas, karena secara jok itu kurang nyaman kalau perjalanan jauh seperti saya, tapi kalau untuk jarak menengah itu masih nyaman-nyaman saja,” tuturnya.
Pengakuan ini penting karena kenyamanan berkendara tidak hanya ditentukan oleh mesin dan suspensi. Jok, posisi duduk, kondisi tubuh, serta lamanya perjalanan juga berpengaruh. Motor yang gesit belum tentu membuat pengendara betah duduk berjam-jam tanpa jeda.
Solusinya bukan memaksakan diri, melainkan mengatur ritme perjalanan, berhenti untuk meregangkan tubuh, dan mempertimbangkan penyesuaian busa jok bila diperlukan. Untuk motor touring jarak jauh, kondisi pengendara sama pentingnya dengan kondisi kendaraan.
Pada akhirnya, pengalaman Yudi memperlihatkan bahwa Yamaha Jupiter MX King 150 layak dipertimbangkan sebagai motor touring jarak menengah hingga jauh. Tenaganya memadai, bobotnya relatif ringan, dan konsumsi BBM-nya berpotensi ekonomis.
Ia memang tidak menawarkan kenyamanan jok terbaik untuk semua orang. Namun, jika yang dicari adalah motor bebek sport yang gesit, cukup bertenaga, dan mampu menempuh perjalanan antarkota tanpa harus mengandalkan motor besar, Yamaha Jupiter MX King 150 punya alasan kuat untuk masuk daftar pilihan.
Sebab, touring bukan soal seberapa mahal motor yang dibawa. Kadang, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengenali batas kendaraan, memahami batas tubuh sendiri, dan tetap menikmati perjalanan sampai kembali ke rumah.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Jupiter MX, Si Motor Bebek Super atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan