Dari “emak-emak” musisi yang menolak tua hingga bapak-bapak, Yamaha Fazzio menjadi andalan berkendara karena desainnya yang kalcer dan selalu cocok untuk segala gaya OOTD.
***
Sebagai seorang musisi sekaligus key opinion leader (KOL), sorotan mata publik rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Naomi Anna Silaban. Ia adalah penggawa untuk dua band dengan warna musik yang bertolak belakang: Backdoor Hours yang mengusung genre dream-pop manis, dan Havinhell, sebuah unit punk cadas yang penuh energi.
Tuntutan untuk selalu tampil menarik, baik di depan kamera maupun di atas panggung, membuat Naomi sangat teliti memperhatikan detail-detail kecil. Terutama urusan OOTD alias outfit of the day .
“Kira-kira itu yang dirasakan orang-orang lain juga yang selalu muncul di depan kamera, outfit selalu menjadi perhatian,” ujarnya, saat ditemui Sabtu (3/10/2026) sore.
Bagi Naomi, pakaian yang ia kenakan adalah impresi pertama yang akan dinilai oleh teman-teman maupun audiensnya.
Kesadaran itulah yang membuatnya memegang sebuah prinsip, yakni “kendaraan bukan lagi sekadar tunggangan.”
“Bagi saya, motor itu cerminan gaya dan ekstensi. Karena itu, saya suka sama motor yang good looking dan selalu bisa matching dengan outfit yang sedang saya pakai.”
Tiga tahun menggunakan Fazzio karena selalu matching dengan outfit
Ada beberapa motor yang terparkir di garasi rumah perempuan asal Medan ini. Namun, jika urusannya adalah untuk nongkrong, menghadiri acara penting, riding santai, hingga pergi ke venue konser, tangannya selalu meraih kunci Yamaha Fazzio miliknya.
Sudah tiga tahun penuh Naomi memercayakan mobilitas gaya hidupnya pada skuter matik bergaya retro modern ini.
Alasannya, bagi Naomi, Fazzio adalah motor yang tidak pernah menuntut pengendaranya pusing memikirkan mix-and-match pakaian.
“Fazzio ini tampilan desainnya kalcer, banyak yang sudah mengakuinya juga. Selalu bisa matching sama outfit,” ujarnya.
View this post on Instagram
Misalnya, ketika ia sedang ingin tampil anggun dengan gaun kasual, motor ini melengkapinya dengan manis. Saat ia memakai busana “anak tongkrongan”, motor ini langsung terlihat streetwear.
Bahkan, ketika Naomi harus merias dirinya dengan gaya sedikit rebel khas anak punk untuk manggung bersama Havinhell, Fazzio tetap masuk dan mengimbangi aura cadasnya tanpa terlihat jomplang.
“Fazzio itu nggak pernah gagal kalau urusan kecocokan sama outfit,” jelasnya.
Keleluasaan berekspresi inilah yang membuatnya tak pernah ragu membawa tunggangan andalannya ini, termasuk saat ia bersiap menghadiri gelaran musik CRSL Land Festival 2026 sore itu.
Riding santai menuju lokasi konser
Sore itu, Naomi tidak berangkat sendirian menuju konser. Ia tergabung dalam rombongan riding bertajuk “Classy Artsy Ride to CRSL Land”.
Riding ini merupakan bagian dari kampanye Classy Artsy Challenge besutan Yamaha. Mengusung tema “Redefine Your Kalcer”, kampanye ini mewadahi anak muda untuk mendefinisikan arti “kalcer” lewat kompetisi ilustrasi.
Dari ratusan pendaftar, 50 karya terbaik telah dikurasi oleh juri ahli–Cantika Clarinta, Dendy Darman, dan Nadya Noor–untuk dipamerkan di Bandung, Jogja, dan Makassar. Karya-karya terbaik ini memperebutkan hadiah utama satu unit Grand Filano Hybrid dan uang tunai belasan juta rupiah.
Bagi Naomi dan rombongan, perayaan “kalcer” hari itu diwujudkan lewat perjalanan santai sejauh 14 kilometer menuju tempat festival. Iring-iringan puluhan skuter bernuansa retro-modern ini tak pelak mencuri perhatian pengguna jalan lain.

Mengukir jalanan Jogja di bawah teduhnya sisa matahari sore, rombongan memulai rutenya dari CRSL Store di Cokrodiningratan. Mereka melaju santai menyisir kawasan ikonik di dekat Stasiun Tugu, lalu membelah rindangnya pepohonan Kota Baru yang asri.
Tantangan berkendara sesungguhnya baru terasa saat mereka mulai mengalir ke Jalan Solo dan bermanuver di kawasan Seturan Raya. Sore itu, jalanan tersebut lumayan padat oleh hilir mudik mahasiswa dan pekerja.
Namun, di titik macet inilah kelincahan Fazzio justru sangat terasa. Bodinya yang ringkas dipadu handling yang ringan membuat rombongan tetap bisa selap-selip dengan luwes tanpa menguras tenaga sebelum tiba di arena konser.
Setelah berhasil mengurai kepadatan, mereka kembali melenggang santai menyusuri Jalan Raya Tajem, sebelum akhirnya menuntaskan perjalanan di end point Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Setibanya di lokasi festival, rombongan ini tidak perlu pusing mencari lahan parkir atau berdesakan di tengah lautan penonton. Pengguna Fazzio diarahkan langsung menuju Exclusive Parking Area.
Sama seperti privilese yang diberikan pada acara di Candi Prambanan sebelumnya, 100 motor Yamaha pertama yang datang hari itu berhak mendapatkan fasilitas parkir gratis.

Fazzio, motor yang cocok untuk semua umur
Ternyata, daya tarik motor kalcer ini tidak cuma tidak diminati anak muda di usia awal dua puluhan saja. Di sela-sela keriuhan area CRSL Land, saya juga bertemu dengan Dharma Ari, seorang “bapak-bapak gaul” yang datang berdua bersama sang istri.
Pasangan ini memang dikenal doyan ngonser. Meski sudah memiliki anak berusia lima tahun, mereka sepakat untuk tidak “mematikan” hobi menonton live music tersebut.
“Biasanya anak selalu kami ajak. Cuma kebetulan hari ini lagi pengen pacaran berdua aja,” ujar Dharma sambil tertawa.

Dharma bercerita bahwa ia sudah dua tahun belakangan ini menggunakan Yamaha Fazzio. Menurut kacamata Dharma, motor ini menjadi bukti bahwa gaya tidak bisa dikalahkan oleh umur pengendaranya.
Baginya, tampilan bodi yang simpel justru menjadi keunggulan karena sukses memberikan kesan premium, sekaligus mudah diterima oleh berbagai karakter. Entah itu musisi muda eksentrik seperti Naomi, maupun bapak beranak satu ini.
Di rumahnya, Dharma sebenarnya memiliki pilihan motor lain. Namun, entah untuk kencan berdua menonton konser musik bersama istri, atau sekadar riding santai menikmati angin sore Jogja bertiga bersama anaknya, Fazzio selalu menjadi pilihan mutlak.
Selain karena desain bodinya yang luwes, Dharma juga sangat mengapresiasi efisiensi mesinnya. Menurut pengakuannya, untuk mobilitas sehari-hari membelah jalanan Jogja, konsumsi bahan bakar motor ini sangat irit.
Satu liter bensin di tangki Fazzio miliknya mampu diajak menempuh jarak hingga kisaran 60 kilometer. Hal ini bikin ongkos mobilitas keluarga kecilnya jadi jauh lebih hemat.
Menurutnya, kepraktisan berkendara, mulai dari konsumsi bahan bakar yang efisien hingga balutan desain timeless, bikin Fazzio tidak sekadar menjadi alat transportasi keluarga. Ia adalah bagian dari perayaan gaya hidup mereka yang menolak tua.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan