Memelihara dan amat menyayangi kucing di desa dipandang sebagai kecenderungan aneh dan tidak berguna. Sebab anabul dianggap sebagai hewan peliharaan yang, alih-alih bisa menguntungkan, tapi lebih banyak merugikan pemiliknya.
***
Rasa sayang pada anabul diwarisi Natul (16) dari sang ibu. Dari cerita, sang ibu memang sudah amat menyukai anabul sejak remaja. Dan itu terbawa hingga berkeluarga dan punya tiga orang anak.
Dua kakak perempuan Natul—yang sudah menikah—pun amat menyukai kucing. Di masing-masing rumah kakak perempuannya ada beberapa ekor anabul.
“Kalau di rumah ibuku sekarang ada dua. Betina semua. Tapi sudah steril. Yang nggak disteril itu punya mbak-mbakku. Makanya jumlahnya terus nambah,” kata Natul, gadis asal sebuah desa di Jawa Tengah, Selasa (23/6/2026).
Memelihara dan menyayangi kucing di desa: dianggap aneh karena perlakukan anabul seperti manusia
Natul dan ibunya memang memerlakukan kucing mereka bak manusia. Bisa tidur bareng, digendong-gendong, dicium-cium, dan bahkan sering mengajak berbincang si anabul yang seringkali disahut dengan “meow-meow”.
Kebiasaan tersebut ternyata dipandang aneh oleh tetangga dan saudara di desa. Bahkan ada pula orang yang agak risih dengan kedekatan semacam itu.
“Ada yang nyeletuk, wong sama kucing kok dicium-cium kayak gitu,” tutur Natul.
“Bagi mereka itu aneh dan nggak wajar. Karena di desa, kucing itu cuma hewan. Kalau di desa, gimana ya, hewan itu nggak sewajarnya diperlakukan dengan rasa sayang,” sambungnya.
Sementara bagi Natul, anabul adalah bagian dari keluarganya. Sehari-hari menemani keluarganya. Bahkan selalu menyambut dengan lari-lari antusias saat suara motor Natul memasuki teras rumah sepulang sekolah atau bepergian.
Ketika Natul atau ibunya bepergian jauh lebih dari sehari, ternyata si anabul diam-diam juga menyimpan rasa kangen. Sehingga ketika pulang, seharian si anabul bisa sangat manja dengan selalu ndusel-ndusel ke Natul atau ibunya. Bagi Natul itu mengharukan sekali. Karena keberadaan mereka dianggap sangat berarti bagi si anabul.
Penghinaan terhadap anabul: dianggap goblok karena tidak makan tikus
Ada cara pandang yang menyebalkan pula dari orang-orang desa terhadap kucing peliharaan Natul. Banyak orang desa memerlakukan kucing—terutama kucing kampung—sebagai alat pemburu tikus.
Alhasil, ketika ada orang yang memelihara kucing tapi tidak untuk fungsi tersebut, maka penghinaan lah yang akan didapat si anabul.
Misalnya, pernah suatu malam, saat berhadapan dengan tikus di kolong meja rumah, anabul Natul justru agak takut-takut, alih-alih menerkam sebagaimana yang dilakukan umumnya kucing kampung di desanya.
“Kebetulan waktu itu ada saudara kan yang bertamu. Wah langsung dihina-hina kucingku. Dibilang kucing goblok, masa takut sama tikus,” ujar Natul.
“Terus bilang aku dan ibu begini, pecuma kalau memelihara kucing tapi nggak bisa jaga rumah dari ancaman tikus,” imbuhnya sembari menepuk jidat.
Karena memang Natul dan ibunya memelihara kucing bukan untuk berburu tikus. Toh sepanjang Natul masih bisa membeli makanan anabul, maka ia tidak akan membiarkan kucing kesayangannya makan tikus.
Sialnya, hal tersebut sering jadi obrolan di rumah orang lain. Misalnya, ketika Natul dan ibunya berkunjung ke rumah saudara yang memelihara kucing kampung, yang terjadi kemudian adalah membanding-bandingkan.
“Kalau kucing ini pintar dia, kalau ada tikus langsung dikejar. Kalau kucingmu kan, masa kucing takut tikus,” begitu kalimat yang sering Natul dengar. Bikin jengah, tapi ya sudah.
Memelihara kucing dianggap tidak berguna, mending pelihara kambing yang jelas-jelas balik modal
Persoalan makanan dan perawatan kucing memang jadi sorotan tersendiri bagi orang di desa. Misalnya yang diungkapkan oleh Nizar, remaja 16 tahun yang juga berasal dar sebuah desa di Jawa Tengah.
Motifnya memelihara kucing tidak jauh berbeda dengan Natul. Nizar bahkan bisa membuat ibunya yang awalnya tidak suka menjadi amat sayang dengan anabul: diceboki saat poop hingga sering-sering dimandikan. Kalau seharian tidak kelihatan, ibunya pun akan mencari-cari.
Nizar sebenarnya terbilang baru memelihara kucing. Baru pada pertengahan 2025 lalu saat akhirnya sang ibu mengizinkan.
Namun, selama ini Nizar sudah paham dengan cara pandang kebanyakan orang di desanya: memelihara kucing dengan begitu effort adalah hal sia-sia.
“Pikiran orang desa kan beli makanan kucing itu buang-buang duit. Masalahnya nggak balik modal,” kata Nizar.
Bagi orang desa, berbeda misalnya memelihara kambing atau hewan ternak lain. Memang effort, tapi kambing atau hewan ternak lain tersebut bisa bernilai ekonomi: entah dijual atau bahkan jadi konsumsi.
Memelihara kucing dengan sepenuh hati dengan kerelaan mengeluarkan modal ekonomi: seperti pengeluaran untuk makanan, vaksin, atau perawatan lainnya memang tidak menghasilkan keuntungan finansial langsung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan adanya manfaat non-ekonomi yang signifikan.
Penelitian Psikolog Sosial Allen R. McConnell dkk berjudul “Friends With Benefits: On the Positive Consequences of Pet Ownership” yang terbit di Journal of Personality and Social Psychology (2011) menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan cenderung, seperti kucing, memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan.
Pasalnya, hewan peliharaan dapat meningkatkan rasa memiliki, memberikan dukungan sosial, membantu menjaga rutinitas, serta mengurangi perasaan kesepian. Dengan kata lain, meskipun tidak menghasilkan uang, keberadaan hewan peliharaan dapat memberikan manfaat yang bernilai bagi kesehatan mental pemiliknya. Dan itulah yang dirasakan oleh Nizar—atau Natul sebelumnya.
Berhadapan dengan pembenci anabul dan ketiadaan rumah sakit hewan yang berujung memilukan
Barangkali tidak hanya di desa, di manapun, dugaan Nizar, selalu ada pembenci kucing yang bisa melayangkan aksi-aksi nekat atau bahkan sekadar iseng. Dalam kasus Nizar, kucingnya meninggal karena diracun.
“Kematian kucing pertamaku itu kan bener-bener kutangisi. Itu bagi tetangga juga aneh. Kucing mati aja ditangisi. Saking nggak berharganya kucing di mata mereka,” ungkap Nizar menyimpan geram, masih tidak habis pikir ada orang yang tega meracun anabulnya. Padahal anabulnya tidak pernah mengganggu atau berak sembarangan di rumah orang. Sebab, Nizar sudah melatih kucingnya: kalau berak cari pasir.
Barangkali karena orang-orang di desa punya pengalaman buruk dengan kucing kampung yang memang hanya sekadar dipelihara, tapi tidak diajari agar tidak berak atau kencing sembarangan. Sehingga memukul rata: semua kucing sama saja, sehingga dianggap sebagai pengganggu yang halal diracun.
“Ujian lain kalau memelihara kucing di desa kabupaten ya nggak ada rumah sakit hewan. Sehingga kalau anabul sakit, kita bingung. Kalau sakitnya tambah parah, ujung-ujungnya meninggal,” pungkas Nizar.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
