Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Sojourn: Alunan Laut Tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo, Beri Rasa Lega usai Menepi dari Rutinitas Melelahkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Februari 2026
A A
Sojourn, alunan laut tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo yang beri ketenangan saat meditasi di perbukitan Menoreh MOJOK.CO

Ilustrasi - Sojourn, alunan laut tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo yang beri ketenangan saat meditasi di perbukitan Menoreh. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di antara derik tonggeret, rinai hujan, dan kabut perbukitan Menoreh, tidak kurang dari 35 orang tampak duduk melingkar di sela pepohonan pinus. Semuanya mengenakan atasan putih dengan bawahan kain. Seharian penuh menepi dari bising kesibukan masing-masing (untuk fokus “membersamai” di sendiri), mereka pun pulang dengan perasaan yang jauh lebih lega dan kepala yang jauh lebih enteng dari sebelumnya. 

***

Apakah kita sudah benar-benar cukup mengerti diri sendiri? Membiarkan tubuh mengambil jeda sejenak dari lelah yang sering kita sangkal. Memberi kesempatan anak kecil dalam diri kita untuk sekadar meluapkan apa yang terpendam dan kerap terhalang standar-standar kedewasaan. 

“Meditation and Sound Healing Session”. Begitu tajuk acara hari itu, Sabtu (7/2/2025), menjadi ruang temu antara seseorang dengan dirinya sendiri. 

Saya mengikuti rombongan yang berangkat dari Royal Ambarrukmo, Jogja, menuju sisi lain perbukitan Menoreh: Borobudur Highland, DeLoano Glamping sejak pukul 08.00 WIB. 

Para peserta sound meditation bareng Ambarrukmo Group di perbukitan Menoreh MOJOK.CO
Para peserta sound meditation bareng Ambarrukmo Group di perbukitan Menoreh. (Aly Reza/Mojok.co)

Sepanjang perjalanan, wajah-wajah peserta dalam rombongan memang tampak semringah. Saling berbagi tawa satu sama lain. Namun, kerut tegang tetap tidak bisa disembunyikan: setampuk beban yang terbawa dari hari kerja hingga akhir pekan dan seperti meronta ingin dilepaskan. 

Ada beragam wellness activity yang para peserta ikuti sepanjang hari itu. Dari suasana teduh pepohonan pinus hingga hujan yang membuat DeLoano Glamping diselimuti kabut. Antara lain: mindfulness eating, journaling, grounding the body, sound meditation (dari album Sojourn by Kelana Swara Ambarrukmo), the silence practice, dan ditutup art therapy. 

 Para peserta sound meditation bareng Ambarrukmo Group di perbukitan Menoreh MOJOK.CO
Para peserta sound meditation bareng Ambarrukmo Group di perbukitan Menoreh. (Aly Reza/Mojok.co)

Emosi yang tertinggal dari orang-orang menyebalkan dan keterburu-buruan

Sekejap menangis, kemudian tertawa, hingga teriakan penuh gairah dan amarah,  adalah rupa-rupa ekspresi emosi manusia yang coba dilepaskan di tengah sunyi perbukitan Menoreh hari itu.

Selepas semua emosi itu tumpah di belantara kabut, Dian Nisa (37), seorang peserta, dengan hati yang lebih tenang berbagi cerita. 

Perempuan asal Prambanan itu adalah seorang pekerja korporat. Sehari-hari ia menempuh 45 menit dari Prambanan ke kantornya di Jogja. Kadang nyetir mobil sendiri, tidak jarang menggunakan transportasi umum seperti TransJogja. 

Rutinitas monoton tersebut pada akhirnya membuat Dian Nisa mengaku merasa agak berjarak dengan dirinya sendiri. Membiarkan dirinya menumpuk banyak emosi. 

“Kita kerja, atau di jalan, itu sering ketemu orang-orang rese. Itu menyulitkan secara emosi,” ucap Dian Nisa. 

Misalnya, beberapa dari kita mungkin punya rekan kerja yang selalu menunda-nunda tenggat dan menyepelekan pekerjaan. Sementara waktu dan atasan terus memburu agar pekerjaan tersebut lekas diselesaikan untuk kemudian mendapat tugas lain. Begitu seterusnya. 

Beberapa dari kita pun barangkali sering menghadapi pengendara ugal-ugalan di jalan, seperti yang Dian Nisa alami. 

Iklan

“Misalnya, aku udah nyetir hati-hati, tapi ada saja pengendara lain yang nyerempet-nyerempet. Sering juga ke lampu hazard. Itu kan bahaya buatku, karena silau terus aku kehilangan pandangan di depan,” tutur Dian Nisa. 

Atas banyak kejadian menyebalkan dalam rutinitas sehari-hari, Dian Nisa pun berpikir untuk sejenak menepi. 

Journaling, salah satu sesi wellness acitivity yang diikuti peserta MOJOK.CO
Journaling, salah satu sesi wellness acitivity yang diikuti peserta. (Aly Reza/Mojok.co)

Ternyata makan itu bukan sekadar habis dan kenyang

Setidaknya ada dua sesi yang melekat dan berdampak betul bagi kondisi batin Dian Nisa. Pertama, pada sesi pembuka: mindfulness eating. 

Di sesi itu, Padma Adhi Sanjaya (Mindfulness Facilitator & Expertise in

Art Therapy) memandu agar para peserta menikmati hidangan makan siang dengan sepenuhnya hadir di meja makan, meresapi setiap gerak dan suapan dalam aktivitas makan. 

“Meja makanan itu untuk merayakan makanan dan memberi kesempatan pada tubuh untuk sepenuhnya menikmatinya,” tutur Padma. Sekadar membuka kulit pisang, harus diresapi proses membuka. Mengunyah makanan, harus dicecap dan dirasakan rasa dan teksturnya. 

Padma Adhi Sanjaya (Mindfulness Facilitator & Expertise inArt Therapy) saat memandu sesi mindfulness eating MOJOK.CO
Padma Adhi Sanjaya (Mindfulness Facilitator & Expertise in
Art Therapy) saat memandu sesi mindfulness eating. (Aly Reza/Mojok.co)

Dian Nisa mengaku disadarkan, betapa selama ini ia kerap makan hanya untuk menambal perut keroncongan. Tapi luput menikmati “anugerah” dari apa yang terhidang gara-gara distraksi dan keterburu-buruan: makan sambil scrolling media sosial, buru-buru rampung karena harus lekas mengerjakan aktivitas lain. 

“Nggak pegang hp. Nggak mikirin yang lain. Fokus ke makanan ternyata bener-bener membuatku bisa merasakan: ternyata rasa sayur itu begini, kenikir itu begini rasanya, asinnya teri lebih terasa,” ungkap Dian Nisa. 

Kalau kata Padma, mindfulness eating itu memberi kesempatan ke diri sendiri untuk merasa dipedulikan. Karena bisa menikmati secara utuh apa yang masuk dalam tubuh. Puncaknya adalah rasa syukur. 

Sesi mindfulness eating MOJOK.CO
Sesi mindfulness eating. (Aly Reza/Mojok.co)

“Karena kalau kita menikmati makanan, makanan itu bisa menjadi pengingat momen-momen indah dalam hidup. Makanan harus dirayakan sebagai bentuk syukur kepada semesta, kepada setiap yang menghadirkannya hingga ke meja makan, dan kepada diri sendiri yang sudah kita ajak berlelah-lelah,” papar Padma. 

Kedua, sesi journaling: menyusun bunga-bunga menjadi mandala (lingkaran geometris) sesuai ekspresi yang ingin diungkapkan setiap peserta. Selepas sesi itu, ada ruang di mana antarpeserta saling berhadapan, untuk kemudian saling berbagi cerita satu sama lain. 

Sesi itu membuat Dian Nisa merasa diterima. Tidak ada penghakiman. Setiap cerita berdasarkan pada pengalaman valid, sehingga tidak sepatutnya dihakimi. 

Mandala hasil sesi journaling MOJOK.CO
Mandala hasil sesi journaling. (Aly Reza/Mojok.co)

Sojourn, alunan tenang laut di perbukitan Menoreh

Momen berikutnya yang berkesan bagi Dian Nisa adalah sesi grounding the body yang dipandu Agustin Sulistyawati (Experienced Registered Yoga Teacher & Yoga Alliance Continuing Education Provider). 

Momen itu disertai dengan alunan musik (sound healing/sound mediation) dari album Sojourn karya Kelana Swara Ambarrukmo: Intellectual Property (IP) di bidang audio visual dari Ambarrukmo Group yang dikenalkan sejak Juni 2023 lalu. 

Ciri khas dari Kelana Swara by Ambarrukmo adalah perpaduan antara budaya dan musik instrumental yang ditransformasikan menjadi bebunyian dan berbagai suara yang bergema, sehingga berhasil membentuk sajian musikal kontemporer yang unik.

Sojourn adalah album terbaru dari Kelana Swara Ambarrukmo. Menjadi meditasi sonik yang memaknai samudera sebagai entitas yang hidup dan bernapas. Hadir sebagai ruang luas yang menyimpan cerita manusia: seperti jejak kaki yang hilang di pasir. 

Ada 11 track yang tersaji dalam Sojourn. Kesemuanya mencoba menghadirkan bahasa laut dalam synth berkilau, ritme lembut, dan ambient seperti bisikan, gelombang, dan keheningan. 

“Di tengah dunia yang serba cepat dan jarang memberi waktu untuk berhenti, Sojourn mengajak kita menjauh sejenak dari kebisingan dan kembali ke ruang yang lebih tenang. Mengajak pendengar menyelam lebih dalam untuk seirama dengan pasang surut dalam diri kita,” begitu bunyi pengantar album tersebut. 

Alunan musik Sojourn dari Kelana Swara Ambarrukmo Group jadi salah satu sesi wellness activity yang bikin Dian Nisa (berkerudung) merasa lega MOJOK.CIO
Alunan musik Sojourn dari Kelana Swara Ambarrukmo Group jadi salah satu sesi wellness activity yang bikin Dian Nisa (berkerudung) merasa lega. (Aly Reza/Mojok.co)

“Alunan dari album Sojourn jadi salah satu yang membuatku melepas tangis. Bagiku menangis itu penting buat release semuanya. Menangis itu hal alamiah yang sering ditahan karena stigma cengeng. Padahal, daripada melakukan hal-hal buruk yang merugikan diri sendiri, lebih baik menangis untuk release emosi,” sementara begitu pengakuan Dian Nisa. 

Alunan tenang dari Sojourn mengantar Dian Nisa saat ini bertemu dengan Dian Nisa kecil di masa lalu (dalam beberapa jenak pejaman mata). Dina Nisa melihat, ia anak-anak tampak tersenyum bahagia di masa lalu. 

Seperti memberi pesan: Dian Nisa kecil menjalani hidup dengan bahagia. Maka, Dian Nisa dewasa juga harus merasakan hal yang sama. 

Menepi di perbukitan Menoreh baru permulaan

Di sela hujan tanpa jeda, saya berbincang dengan Brand Manager Ambarrukmo Group, Laili Apriliyani, yang tengah berada di bawah guyuran tetes-tetes air dari langit. 

Ide “Meditation and Sound Healing”, kata Laili, muncul setidaknya dari dua hal. Pertama, ia ingin launching album Sojourn tidak hanya sekadar “bedah karya”. Tapi juga mengkombinasikannya dengan aktivitas lain. 

“Wellness activity kemudian dipilih karena selain menjadi arahan dari Kementerian Pariwisata, juga karena Laili melihat semakin ke sini banyak orang punya kebutuhan untuk menepi dari hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari. Seperti Dian Nisa dan puluhan peserta lainnya,” jelas Laili.

Kemudian pihak Ambarrukmo Group berkolaborasi dengan dua pihak: Badan Otorita Borobudur yang menyediakan lokasinya (Borobudur Highland DeLoano Glamping) dan Remen Jawi selaku eksekutor acaranya.

Para peserta sebelum mengikuti proses meditasi MOJOK.CO
Para peserta sebelum mengikuti proses meditasi. (Aly Reza/Mojok.co)

Sebenarnya, kombinasi antara hotel dengan aktivitas luar ruangan sudah sering dilakukan oleh hotel Ambarrukmo Group Namun, sebelumnya lebih sering pada outbound.

Nah, melihat antusiasme peserta “Meditation and Sound Healing” di perbukitan Menoreh edisi pertama kali itu, Laili cukup optimis untuk menjadikannya sebagai program berkelanjutan dari Ambarrukmo Group. 

Selain pengenalan program melalui media sosial dan website resmi, nantinya juga akan melalui cara konvensional: setiap orang yang menginap di setiap hotel milik Ambarrukmo Group akan ditawari paket wellness aktivitas tersebut. 

“Borobudur Highland ini trial. Nggak menutup kemungkinan akan eksplor tempat-tempat lain. Kami terbuka untuk pihak manapun kalau mau berkolaborasi dalam menyusun program wellness activity semacam ini (berkonsep “sound healing/sound meditation),” papar Laili. 

Hujan dan jeda yang menyenangkan

Berpayung menyibak hujan, Salim (mahasiswa semester 6 sebuah PTN Jogja) berjalan meniti anak tangga dengan tenang dan wajah cerah. Kendati kabut di waktu petang membuat pandangan nyaris tertutup. 

Itu adalah pengalaman pertama kali Salim mengikuti wellness activity. Ia mantap mengisi akhir pekan di perbukitan Menoreh karena tertarik dengan metode “sound healing/sound meditation” dan art therapy yang ditawarkan Laili dan tim. 

Jangan remehkan kesibukan mahasiswa. Tugas-tugas yang berkejaran di ruang kelas, kesibukan organisasi, dan apalagi kuliah sambil beberapa kali mengambil pekerjaan (freelance) bisa membuat seseorang lupa memberi jeda dan apa yang dibutuhkan oleh tubuh sendiri. 

Sesi art therapy MOJOK.CO
Sesi art therapy. (Aly Reza/Mojok.co)

Maka menepi menjadi pilihan untuk, tidak sekadar jeda, tapi juga melepaskan emosi-emosi negatif agar bisa kembali ke rutinitas dengan pikiran yang lebih jernih dan hati yang lebih tenang nan lapang. 

“Pada bagian art therapy, meluapkan emosi diri dengan coret-coret di kain, dengan warna-warni, itu membuat aku lega. Semua emosi tersalurkan,” kata Salim. 

“Alunan musik saat meditasi (dari album Sojourn), membuat masalah-masalah kayak diletakkan. Damai sekali rasanya, apalagi ditambah dengan hujan,” sambungnya. 

Sesi art therapy MOJOK.CO
Sesi art therapy MOJOK.CO

Saat hujan turun, nyaris tidak ada kepanikan dari penyelenggara dan peserta. Padahal, dalam rutinitas sehari-hari, sering kali kita berdecak kesal setiap hujan turun: entah karena jemuran belum kering, mobilitas terhambat, atau memang sebal saja dengan hujan karena tidak suka kondisi lembab. 

“Biasanya kita nganggep hujan bikin repot. Tapi dengan wellness activity kita memaknai hujan justru sebagai berkah yang harus disyukuri. Hujan bikin suasana jadi tenang, syahdu, puitis, dan menyenangkan,” pungkas Laili. Bisa dilihat dari kecenderungan seluruh peserta, selepas mereka menuntaskan sesi demi sesi, kamera-kamera di ponsel pintar mereka langsung menyala: mengabadikan setiap tetes air yang membasahi ranting pohon, tanah, dan rerumputan.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: Ambarrukmoglamping menorehhotel ambarrukmomeditasimeditasi jogjamenorehroyal ambarrukmospot healing jogjawellnesswellness activity
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

mencari kedamaian hati dengan meditasi di vihara karangdjati
Sosok

Mencari Kedamaian Hati dan Healing dengan Meditasi di Vihara Karangdjati

10 Januari 2023
Totok Tejamano: Mindfulness yang Kaffah Ala Buddha
Video

Totok Tejamano: Mindfulness yang Kaffah Ala Buddha

9 Januari 2023
Seks dan Horor: Teror yang Mengiringi Panasnya Berahi MOJOK.CO
Esai

Seks dan Horor: Teror yang Mengiringi Panasnya Berahi

6 Januari 2023
pendopo royal ambarrukmo mojok.co
Kilas

Pendopo Royal Ambarrukmo Diperindah, Panitia Pernikahan Kaesang-Erina Siapkan Pawang Hujan

8 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.