ADVERTISEMENT

Gen Z Heran Orang-orang Salty sama Aktivitas Baca Buku di Kafe: Dicap Caper, Pick Me, Nggak Asyik, padahal Cuma Diam dan Anteng

Membaca Buku, Kafe Bukuku Lawas.MOJOK.CO

Della (21) tak bisa menyembunyikan kekesalannya saat sedang scroll linimasa medsosnya. Ia baru saja membaca cuitan seorang stand-up comedian yang secara satir mengolok-olok orang yang membaca buku di kafe. 

Awalnya, Della mencoba maklum. Ia sadar bahwa cuitan tersebut memang menjadi persona sang komika yang gemar memancing keributan alias rage-bait demi engagement

Namun, tren nyinyir ini ternyata menjalar cepat ke platform lain seperti Instagram dan TikTok. Bertebaran konten video satir berkedok “POV orang yang baca buku di kafe” dengan nada merendahkan. 

Dalam narasi mereka, siapa pun yang berani membuka lembaran buku di ruang publik seperti kafe, dicap sebagai orang-orang haus atensi, caper, bahkan pick me yang merasa paling intelek di antara pengunjung lainnya.

Diam dan anteng dinyinyiri, orang yang berisik malah dimakhlumi

Bagi Della, rentetan stigma itu sangat konyol dan jelas-jelas salah alamat. Ia menegaskan bahwa bagi Gen Z, membaca buku adalah sebuah kebutuhan, bukan panggung cari atensi. 

Ada yang menjadikannya baca buku sebagai medium rekreasi, edukasi, atau sekadar ruang untuk me time demi melepas penat. 

“Makanya heran, orang-orang yang baca buku di kafe ini caper dari mananya?” ucapnya heran, Minggu (20/9/2026). 

Bagi Della, membaca buku menawarkan kedalaman imajinasi dan fokus yang tidak bisa didapatkan dari sekadar menggulir video TikTok atau mendengarkan obrolan podcast di ponsel.

Terlebih lagi, preferensi setiap orang mencari hiburan itu berbeda. Della melempar satu logika: membaca buku adalah aktivitas yang diam, anteng, dan sama sekali tidak memakan banyak tempat. Tidak ada suara berisik apalagi gerakan heboh yang merugikan pengunjung lain.

“Kalau ada orang yang tiba-tiba merasa salty cuma karena melihat orang lain duduk diam menatap buku, bukankah kondisi psikologis orang yang terganggu itu yang justru patut dipertanyakan?” sindir Della. 

“Kenapa orang tertawa keras-keras sambil mabar game dimaklumi, tapi orang yang diam baca buku malah dihujat?”

FOMO baca buku itu baik kok

Di media sosial, serangan terhadap pembaca buku tidak berhenti di label caper. Ada juga tudingan miring bahwa Gen Z yang membaca buku di kafe hanyalah korban FOMO. 

“Kami dianggap sekadar ikut-ikutan tren gaya hidup yang ala-ala tanpa benar-benar meresapi bacaannya,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Della punya jawaban yang tak kalah santai. Katakanlah itu memang berawal dari FOMO, lalu apa masalahnya? 

Kenyataannya, kata Della, ada banyak jenis FOMO yang berujung positif. Sama halnya dengan fenomena FOMO olahraga di akhir pekan atau FOMO gaya hidup sehat dengan mulai mengonsumsi makanan rebusan.

FOMO membaca buku adalah salah satu tren yang paling produktif. Bermodal ikut-ikutan tren, seseorang pada akhirnya akan dipaksa membaca kalimat-kalimat baru, mengolah informasi, dan menambah pengetahuan. 

“Dan yang mau aku tegesin ya, yang paling penting dari semuanya, tren FOMO baca buku sama sekali nggak merugikan pihak lain, baik secara moral maupun material.”

Orang yang baca buku di kafe juga dianggap tak asyik

Selain cap pick me, pembaca buku di ruang publik juga sering dilabeli sebagai individu yang kaku, tertutup, dan “nggak asyik”. Stigma ini dirasakan langsung oleh Fayyadh (23). 

Sebagai pemuda yang rutin menghabiskan waktu dengan bukunya di kafe, ia pernah mengalami kejadian tak mengenakkan secara langsung. 

Di suatu waktu, sekelompok pengunjung di meja sebelah–yang sama sekali tidak ia kenal–tiba-tiba menyindirnya. Dengan gestur meledek, mereka berbisik-bisik dan tertawa pelan, menilai bahwa orang-orang seperti Fayyadh itu sok asyik dan membosankan.

“Ngerinya itu di situ. Nyinyirnya udah bukan di medsos lagi, di real life nyatanya ada juga kok,” kata Fayyadh.

Fayyadh menilai, cap “nggak asyik” ini lahir dari standard ganda yang, bagi dia, sebenarnya sangat dangkal. Ukuran keasyikan seseorang, menurutnya, sangat bergantung pada tingkat kedekatan dan circle pertemanan masing-masing.

“Orang itu bakal dianggap asyik kalau kita sudah kenal, dekat, atau berada di tongkrongan yang sama. Jokes segaring, se-cringe apa pun, bisa terdengar seru dan terus ditanggapi kalau dilempar di circle sendiri. Tapi kalau dilempar ke lingkaran luar, ya pasti aneh,” Fayyadh menjelaskan.

Mengecap seseorang tidak asyik hanya karena belum mengenalnya–apalagi saat orang tersebut sedang fokus sibuk sendiri–adalah bentuk arogansi.

Tentu butuh usaha untuk membangun ikatan dengan orang baru. Jangan-jangan, mereka yang gemar melabeli orang lain “nggak asyik” itu justru merupakan sosok yang paling tidak asyik di mata orang luar.

Tak melanggar apapun, tapi dinyinyiri sedemikian rupa

Fayyadh juga menyoroti betapa absurdnya kebencian ini jika dikembalikan pada logika ruang komersial. Saat datang ke kafe, para pembaca buku ini berstatus sebagai pengunjung dan pelanggan yang sah.

Mereka datang, membayar, memesan makanan dan minuman, dan tidak melanggar aturan apa pun. Mereka tidak membuat kegaduhan dan tidak mengganggu ketertiban umum.

“Kita ini loh cuma duduk diam saja, kok ya tetap dianggap salah,” keluh Fayyadh.

Di sisi lain, Gen Z juga merasa miris melihat fenomena salty ini. Ada ironi besar yang terjadi di masyarakat kita. 

Selama bertahun-tahun, banyak pihak terus meratapi tingkat literasi yang anjlok dan mengeluhkan minat baca generasi muda yang rendah. Namun, anehnya, begitu ada inisiatif riil dari generasi muda untuk mulai membaca dan menormalkan kehadiran buku di ruang publik, mereka malah diolok-olok. 

“Bagaimana mungkin generasi mendatang mau tergerak untuk sadar literasi, jika langkah pertama mereka membaca saja sudah langsung dihakimi dan dinyinyiri?” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Dinamika 31 Tahun Buka Toko Buku Impor di Sebuah Gang di Kota Jogja dengan Pembeli WNA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.