Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Yang Tak Disadari dari Sindir-Sindiran NU dan Muhammadiyah di Geger Kauman

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
7 Maret 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Meski ada “Geger Kauman”, saya menyikapi NU dan Muhammadiyah secara oportunis. Seneng kenduri, tapi juga seneng kalau lebarannya lebih dulu.

Orang Islam 14 karat seperti saya, santri Youtube mondok di Google, terkadang deg-degan kalau sudah memikirkan perkataan Kanjeng Nabi Muhammad bahwa sepeninggalnya kelak umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan dan kesemuanya akan masuk neraka. Satu saja yang masuk surga, golongan yang mengikuti nabi dan para sahabat.

Soal golongan ini diakui atau tidak memang satu simpul yang membuat dunia Islam seperti lebih doyan membicarakan surga dan neraka. Padahal ketika masih hidup di dunia, tidak sedang melakukan kebaikan yang menjadi laku nabi dan para sahabat, dan hanya sekadar mengandalkan kuatnya bersuara lantang.

Seringnya sih hanya bermodal sudah menjadi anggota salah satu ormas, yang dalam bayangan anggotanya sudah dapat stempel resmi surga.

Jadi sebenarnya tidak heran kalau kemudian orang lebih mempertahankan keyakinan terhadap ormasnya dibanding yakin terhadap apa yang dipesankan nabi. Itu yang kemudian menuntun orang lebih kerap meributkan hal teknis yang menjadi pedoman kelompoknya.

Ada yang berkeyakinan kalau salat berjamaah kakinya harus rapat dengan kiri kanannya. Sementara yang di sebelahnya risih menghindar kalau sebelahnya sudah mencoba merapatkan kakinya dengan sedikit menginjak.

Itu baru satu printilan yang sebenarnya tidak prinsip sama sekali. Belum membicarakan persoalan hukum yang multidimensi dan cakupannya luas. Tidak bisakah orang berpikir bahwa pada dasarnya ormas itu cuma ranting atau bahkan daun, sementara Islam adalah batang atau bahkan akar?

Kalau nggak selo bacain status di media sosial, mungkin tidak akan ada yang tahu kalau hari-hari ini tengah ada ketegangan antara NU dan Muhammadiyah. Dari mulai akar rumput hingga para elitenya saling sindir secara terbuka.

Ada pertarungan klasik berebut pengaruh di masyarakat atau bahkan pemerintahan, itu sudah jadi rahasia umum. Jadi semisal ada gesekan di lapangan antar keduanya, itu hanya soal waktu dan skala. Dan gayeng-gayeng terbaru itu adalah peristiwa “Geger Kauman”. Buat kamu yang nggak ngikutin beritanya, bisa baca dari sini.

Apa benar “Geger Kauman” hanya dipicu keinginan NU untuk mengadakan peringatan hari lahir di Masjid Gede, Kauman, Yogyakarta yang secara lintasan waktu sudah menjadi “rumah” Muhammadiyah selama satu abad ini? Atau sebab lain yang hanya diketahui elite kedua ormas tersebut?

Penyebutan Geger Kauman menurut saya juga terlalu berlebihan. Sejauh pengetahuan saya kalau dulu ngobrol dengan kakek-nenek, kata gégér itu sekelas dengan clash atau peperangan. Sementara kasus yang terjadi di Kauman tidak segenting itu. Disebut tidak penting pun rasanya sangat pantas.

Lebih tepat kalau disebut “regejegan”. Ribut yang tidak perlu, kontraproduktif. Menyedihkannya, para tetuanya pun terpancing untuk saling sindir yang kalau dibaca, dirasakan, dan ditimbang dengan matang, selain tidak perlu juga memalukan. Serius.

Satu dinilai telah disusupi salafi, lainnya dinilai katrok dan kekanakan. Di akar rumput lebih kasar lagi bahasanya. Bahkan saling membuat perhitungan nilai ekonomi hingga kapling wilayah.

“Rumah sakitmu untung banyak dari warga yang menjadi anggota ormas ini”, “ormasmu mengadakan acara di kantong-kantong kami baik-baik saja,” dan seterusnya. Luar biasa bukan? Dari urusan rejeki dan wilayah aja dikapling-kapling.

Iklan

Saya pribadi menyikapi dua kelompok ini secara oportunis. Pilih NU karena secara kultural seneng kenduri dan ziarah kubur. Di lain waktu pilih Muhammadiyah karena terawehnya tidak tergesa dan melelahkan, juga sering lebaran lebih dulu hingga kita bisa dapat membatalkan puasa sehari lebih dulu.

Nah, di luar itu juga banyak sempalan yang membuat muslim united lah, fpi lah, lah lah lah… hampir semuanya ngaku Suni, orang yang mengikuti nabi dan sahabat. Sengit terhadap Syiah, Wahabi, dan kadang juga bersekutu “ngrecokin” NU dan MU. Di era yang penting punya kuota, pertikaian tanpa memahami akar dan main stigma pun tambah subur.

Kalau mau menggunakan rasa malunya, sebenarnya ngaku Islam itu malu.

Kenapa? Ya karena konsekuensi berislam itu berat. Islam terlahir progresif di masanya. Tidak seperti saat ini, kerap terjebak dalam urusan tidak produktif. Era borderless komunikasi kok sampai bisa macet.

Kalau ada forum komunikasi resmi antar ormas yang merasa benar semua ini, kasus Kauman sebenarnya tidak perlu terjadi.

Benar satu pihak (NU) telah mengantungi izin, tetapi ada hal-hal lain yang harus disepakati juga dan itu harus disampaikan secara terbuka oleh Muhammadiyah. Misal mengatakan, “Kami tuh aslinya takut, kalau orang NU yang ngaji yang datang bisa 10 ribu orang, dan tempat kami mungkin akan berantakan”.

Bukankah itu jauh lebih baik daripada mengatakan, “NU, hambok kalian tuh peka dikit. Masa ngadain acara harlah di sentra Muhammadiyah?”

Pihak NU juga tidak perlu tersinggung kalau semisal mendapat syarat seperti itu. Kenyataannya bukankah memang seperti itu, tidak bisa menjamin kebersihan dan mengontrol jumlah yang datang?

Apa yang harus kemudian dilakukan? Tentu menjawab dengan santun, “Baik, saudaraku, kami akan menghubungi EO yang pernah mengadakan aksi dengan mendatangkan 7 juta manusia di Monas.” Gitu kan enak.

Secara organisasi, memang keduanya bermanfaat untuk republik ini. Sama-sama berkiprah dari mulai mendistribusikan zakat hingga berjibaku dalam beragam bidang pembangunan, utamanya kesehatan dan pendidikan.

Akan tetapi ya itu, sadari dulu kalau secara periodik sering tidak bisa menahan diri dan memilih bersitegang tidak perlu. Apa memang ada niatan menduplikasi perseteruan cicak dan buaya menjadi kodok dan gajah?

Di situasi yang sebenarnya sangat norak seperti sekarang ini, harusnya ingat dengan yang mereka “muliakan” selama ini; Mbah Dahlan, Mbah Hasyim hingga Gus Dur.

Dua disebut pertama itu ya ampun banget akhlaknya, saling nggak enak hati kalau tengah saling berkunjung. Saling dorong mengimami sholat, mau qunut apa nggak, dan seterusnya. Masuk warung pun saya kira akan saling berebut nraktir.

Gus Dur lebih unik lagi. Saat banyak orang berang soal Syiah, jawabnya enteng saja, “Syiah itu NU plus Imamah. Kalau NU, Syiah minus Imamah.”

Mana pernah Gus Dur menyesatkan keyakinan orang lain?

Padahal kalau ditelusuri, akan banyak perbedaan antara Suni-Syiah. Tapi bukan itu masalahnya, kebanyakan orang gagal menangkap pesan besar di balik kesantaian Gus Dur.

“Untuk apa diributkan?”

Nah, ini ritual sosial aja ribut, nanti pemilu ribut lagi, bagi-bagi posisi ribut lagi. Makanya saya sangat mendukung kalau negeri ini sekulernya jangan nanggung. Misalnya, bicara agama terlalu banyak dibanding praktik, maka dikenai denda dan akun medsosnya langsung dibekukan. Biar nggak biasa klaim organisasinya punya kontribusi paling banyak di negeri ini.

Kalau dibiarkan, jangan-jangan pada ngangguk setuju kalau ditawarkan perubahan UU. Agama yang diakui negara ditambah sekalian jadi Islam NU atau Islam Muhammadiyah? Biar beda sekalian.

Nanti remah-remahan kayak saya dan sebagian pembaca Mojok garis santuy, seumpama dimasukkan ke agama lain-lain dan onlen-onlen juga nggak perlu protes aja. Terima saja, yang penting negara memberi kuota melimpah.

Terakhir, setiap mau bersitegang soal keagamaan, benar-salah, surga-neraka, cukup bayangkan wajah saudara-saudara kita yang beragama lain menjadi prihatin, sedih atau bahkan cekikikan.

Soalnya, rasa malu dalam beragama itu penting, karena itu cara terbaik untuk menghindarkan diri dari kekeliruan tidak perlu. Masalahnya, rasa tersebut memang ada yang terberi (gharizi) dan perlu diupayakan (muktasab).

Kok saya tahu istilah Arabnya? Karena saya santri Youtube dari Pondok Google. Tempat di mana peran NU dan Muhammadiyah bagi masyarakat sebenarnya sudah tergerogoti. Itu kalau mereka mau menyadari.

BACA JUGA Mengapa NU Lucu dan Muhammadiyah Tidak atau tulisan soal NU-Muhammadiyah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2020 oleh

Tags: masjid kaumanMuhammadiyahmuslim unitednu
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO
Sekolahan

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.