Datang ke Jogja sebagai mahasiswa yang ingin memulai kehidupan baru. Namun, pandemi kemudian membuat rencana itu berubah. Hingga akhirnya ‘keberanian’ membuka usaha ayam presto yang menyelamatkan
***
Alih-alih pulang ke Lampung setelah lulus kuliah pada masa pandemi, Riri (27) memilih bertahan di Jogja. Saat itu ia sudah mengerjakan pekerjaan lepas sebagai desainer grafis dan copywriter. Pekerjaan tersebut memang belum cukup untuk disebut mapan, tetapi menurut Riri, Jogja membuatnya lebih mudah bertahan.
“Keinginan buat pergi seutuhnya itu sebenarnya tidak ada. Aku cuma ingin memulai kehidupan baru dengan perasaan yang lebih lega,” kata Riri kepada saya.
Orang tua Riri sendiri sudah pindah dari Lampung ke Jakarta sejak ia duduk di bangku SMP. Karena itu, bertahan di Jogja juga membuat akses Riri kepada orang tuanya relatif lebih mudah dibanding jika ia kembali ke Lampung.
Sarjana sastra yang bertahan hidup di Jogja dari usaha kecil
Pandemi membuat aktivitas Riri dan pacarnya lebih banyak berlangsung di rumah. Keduanya sama-sama mengerjakan pekerjaan freelance pada malam hari. Siang hingga tengah malam justru menjadi waktu yang cukup longgar. Dari situ muncul keberanian untuk mencoba usaha kecil-kecilan.
Modalnya berasal dari penghasilan freelance Riri yang ketika itu dibayar dalam dollar. Ia tidak menyewa tempat mahal atau membangun tempat usaha sendiri. Bahkan usaha pertamanya bukan ayam presto, melainkan puding matcha dan coklat dengan sistem pre-order.
“Pokoknya realistis aja,” ujar Riri.
Ayam presto tulang lunak kemudian menjadi usaha yang mereka jalankan. Awalnya penjualan dilakukan dengan sistem pre-order, lalu masuk ke aplikasi pesan-antar sebelum perlahan mengajak konsumen datang langsung ke tempat usaha di Maguwoharjo. Saat itu mereka belum punya karyawan. Produksi, pemasaran, pelayanan, sampai pekerjaan operasional dikerjakan sendiri.
Bisnis ayam presto yang hampir tiap bulan ingin ditinggalkan
Dua tahun pertama menjadi masa yang tidak mudah. Usaha belum konsisten karena Riri masih harus mengerjakan pekerjaan freelance pada malam hari. Pacarnya juga sesekali harus datang ke kampus untuk menyelesaikan tugas akhir. Jam buka warung pun tidak selalu konsisten.
Pemasukan dari usaha belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Uang dari pekerjaan freelance yang menjadi penyangga pun perlahan menipis. Riri mengaku keinginan untuk menyerah datang hampir setiap bulan. Namun, ada satu bulan yang menurutnya paling berat.
“Pokoknya bulan Januari itu tragis banget, jam buka warung sering molor, bahan baku yang harganya naik, dan kadang sehari hanya ada satu-dua pelanggan” katanya.
Ada alasan lain yang membuat keputusan untuk berhenti tidak semudah menutup warung. Menurut Riri, membangun usaha membuatnya kehilangan banyak hal: pekerjaan sebelumnya, waktu bersama orang tua, momen bersama teman, bahkan beberapa mimpi yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
“Buka usaha ini bikin aku kehilangan banyak hal. Tapi nggak ada pilihan lain selain bertanggung jawab sama apa yang sudah aku mulai,” ujarnya.
Kondisi pasangan muda yang berhadapan dengan tekanan finansial memang bukan persoalan sederhana. Kompas.com pada 2025 mengutip pandangan bahwa masalah keuangan dapat memicu konflik dalam hubungan karena berkaitan dengan perbedaan cara mengelola uang, pengeluaran, dan prioritas. Tekanan finansial juga dapat memengaruhi kesiapan psikologis anak muda dalam membangun kehidupan bersama.
Riri dan pacarnya memilih melewati tekanan itu dengan cara yang mereka anggap realistis: usaha tetap berjalan sambil pekerjaan lain tetap dikerjakan.
Bertahan bersama pacar hingga akhirnya bisnis ayam presto mulai dikenal
Sekitar tiga tahun pertama, hampir seluruh pekerjaan usaha dikerjakan Riri dan pacarnya.
“Mulai dari produksi, operasional, marketing, semua cuma berdua,” kata Riri.
Perubahan mulai terasa ketika memasuki tahun ketiga. Jam operasional menjadi lebih konsisten. Penjualan meningkat. Konten-konten lama yang dibuat Riri mulai mendatangkan pelanggan baru.
Beberapa influencer di Jogja bahkan datang membuat konten di tempat usahanya. Dari sana, nama warung mereka semakin dikenal. Bagi Riri, perkembangan itu tidak datang secara tiba-tiba. Ia sudah melewati masa ketika pemasukan usaha belum cukup dan pekerjaan freelance menjadi penyangga kehidupan. Karena itu, ketika penjualan mulai membaik, ia tidak langsung menganggap masalah selesai. Mereka tetap menghitung kebutuhan operasional dengan hati-hati.
Dari menjadi sarjana sastra hingga akhirnya menjadi pemilik usaha ayam presto
Titik perubahan berikutnya datang pada 2026. Setelah pacarnya menyelesaikan kuliah dan bisa lebih fokus menangani operasional, Riri dan pasangannya mulai berani mempekerjakan orang lain. Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri fase ketika hampir semua pekerjaan harus dilakukan berdua.
Namun, memiliki karyawan tidak otomatis membuat hidup Riri menjadi mudah. Sebagian pekerjaan memang bisa didelegasikan, tetapi muncul tanggung jawab baru untuk memastikan operasional tetap berjalan dan penghasilan karyawan tetap terbayar. Meski begitu, Riri merasa lega.
“Usahaku akhirnya nggak cuma bermanfaat buat aku, tapi juga buat keberlangsungan hidup orang lain,” katanya.
Ia bahkan sengaja mencari karyawan yang merupakan orang asli Jogja karena merasa memiliki beban moral terhadap tempat yang selama ini memberinya ruang untuk bertahan. Dari usaha yang bermula dari uang freelance dan dikerjakan berdua, kini ada orang lain yang ikut mendapatkan penghasilan.
Ketika saya bertanya apa yang ingin ia katakan kepada dirinya saat pertama kali memulai usaha, Riri tidak bicara soal omzet atau keberhasilan.
“Riri yang dulu, kamu punya banyak mimpi yang belum selesai sampai hari ini.”
Ia kemudian bicara tentang Jogja.
“Dan Jogja, ternyata kamu nggak cuma sekadar tempat, tapi juga nafas lega yang sudah lama aku doakan.”
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
