ADVERTISEMENT

Cerita Kulkas Pertama Keluarga: 12 Tahun Dipakai meski Jadi Rongsokan, Tak Dibuang karena Memorinya Lebih Mahal

Kulkas pertama di keluarga desa: terus dipakai meski sudah jadi rongsokan MOJOK.CO

Meski kondisinya sudah mirip seperti barang rongsokan, dengan pintu yang sompal, hingga kini keluarga Muhdhor (23) tetap mempertahankan sebuah kulkas merek Polytron di rumah mereka. Sebuah kulkas pertama yang pernah memberikan kebahagiaan besar untuk orang desa berekonomi pas-pasan.  

***

Setiap menerima uang hasil bekerja sebagai tukang, kulkas adalah barang yang jelas tidak akan masuk dalam daftar yang harus dibeli oleh Bapak Muhdhor. Untuk kebutuhan sehar-hari saja, dengan istri dan tiga anak, sudah sangat pas-pasan. 

Masalahnya, ada masa ketika beberapa warga desa Muhdhor mulai membeli kulkas karena terpengaruh iklan maupun sinetron di televisi. Sialnya lagi, kepemilikan kulkas kemudian menjadi standar sosial baru bagi warga desa Muhdhor di Jawa Timur. 

“Adu gengsi. Kalau beli kulkas, artinya mengikuti zaman. Kalau nggak punya, dianggap kuno. Walaupun waktu itu sebenarnya juga belum banyak yang punya kulkas, hanya beberapa. Tapi di situlah letak gengsinya,” begitu Muhdhor membuka cerita, Rabu (9/9/2026). 

Tak sanggup beli kulkas, malah dapat cuma-cuma

Di masa-masa itu, nyaris tidak pernah ada obrolan soal rencana membeli kulkas di keluarga Muhdhor. Meski di hati terdalam Muhdhor sangat ingin punya sebagaimana teman-temannya, tapi ia tahu diri. 

“Aku memang masih kecil. Tapi bukan berarti aku nggak paham kalau Bapakku nggak mungkin sanggup beli kulkas. Buat rencana hitanku saja waktu itu juga yang disiapkan adalah acara sederhana saja,” ungkap Muhdhor. 

Walhasil, Muhdhor hanya bisa memendam iri misalnya melihat ada teman yang bisa minum air dingin dari kulkas. 

Rumah anak desa yang punya kulkas menjadi lebih sering jadi jujukan anak-anak lain. Sebab, setelah lelah bermain, mereka berharap bisa membasuh dahaga dengan menumpang minum di rumah anak yang sudah punya kulkas. Mereka antre ingin menyegarkan tenggorokan dengan air dingin. 

“Sampai suatu hari, pada tahun 2014, ada berkah setelah aku hitan,” ucap Muhdhor. Seorang saudara yang datang menjenguk tanpa disangka memberi hadiah berupa sebuah kulkas. 

Sontak saja hari itu menjadi salah satu hari terindah yang keluarga Muhdhor kenang. Tak terlupakan. Karena dari Muhdhor sendiri, orang tuanya, dan juga dua kakaknya, tampak sangat berseri dan semakin excited menjalani hari. Sakit sehabis hitan pun tidak Muhdhor rasakan, karena salah satu keinginannya terwujud: punya kulkas sendiri, sehingga ia tidak perlu memendam iri lagi ke temannya. 

“Kulkas itu sebenarnya bekas pemakaian saudaraku, dia beli baru. Tapi biarpun bekas, tetap berarti bagi kami, wong dikasih cuma-cuma kok persis saat keluarga kami ingin,” tutur Muhdhor. 

Jadi jalan rezeki Ibu dan sensasi menikmati es krim keluarga

Kebahagiaan Muhdhor sederhana saja: bisa minum air dingin. Sementara bagi ibunya, kebahagiaannya lebih dari itu. Karena keberadaan kulkas pertama keluarga itu kemudian menjadi jalan rezeki bagi sang ibu. 

Ibu Muhdhor sehari-hari jualan jajanan di SD. Ketika akhirnya memiliki kulkas sendiri, Ibu Muhdhor bisa leluasa membuat es sendiri untuk dijual: seperti es lilin, es wawan, bahkan es krim buatan sendiri. 

“Kalau di rumah, Ibuku jualan es batu. Laris juga, kalau siang-siang orang mau bikin es teh misalnya, beli es batunya di Ibuku karena Ibuku jualan,” beber Muhdhor. Jadi fungsi kulkas di keluarga Muhdhor tidak hanya untuk internal atau sebatas gengsi sosial, tetapi benar-benar difungsikan untuk menopang ekonomi keluarga. 

Kreativitas sang Ibu dalam membuat es krim pun menjadi berkah tersendiri bagi Muhdhor dan dua kakaknya. Karena mereka akhirnya bisa makan es krim sepuasnya, balas dendam karena sebelumnya sangat jarang bisa membeli es krim di Indomaret. 

Rasa es krim buatan sang Ibu barangkali jauh dari es krim Indomaret—dengan beragam varian rasa itu. Namun, bagi Muhdhor, itulah es krim terenak yang pernah ia nikmati. Jauh lebih nikmat ketimbang es krim Campina yang dijual keliling di desanya. 

Kulkas pertama keluarga yang menolak jadi rongsokan meski sudah berkali-kali reparasi

Setelah 12 tahun berlalu, kondisi kulkas pertama di keluarga Muhdhor tersebut jelas sudah tidak prima lagi. Ia hanya bisa untuk menyimpan, tapi tidak lagi bisa membekukan. Seiring itu, jualan es sang Ibu pun berhenti. 

Sudah tidak terhitung kulkas tersebut harus direparasi. Adapun yang paling parah: pintunya pernah copot karena keropos. Perawakannya pun sudah sangat buluk.

“Dulu waktu copot, model pintunya jadi lepas-pasang kayak lego. Kalau nutup harus diganjal batu biar nggak lepas, hahaha,” kata Muhdhor menjelaskan kondisi kulkasnya. 

“Sama Bapakku terus dibor, diakal-akalin lah, sampai bisa terpasang lagi,” imbuhnya. Benar-benar seperti rongsokan, sementara di saat yang sama para tetangga sudah berganti kulkas baru—menyerahkan kulkas mereka ke pengepul barang bekas. 

Meski begitu, sampai sekarang kulkas tersebut masih terpakai di rumah Muhdhor. Kini, setelah bisa bekerja dengan gaji yang terbilang layak, Muhdhor tengah menyiapkan uang untuk membelikan kulkas baru orang tuanya. 

Tapi ia memastikan, keberadaan kulkas baru tersebut nantinya tidak lantas membuat kulkas lamanya terbuang ke tumpukan rongsokan. Keluarganya masih akan menyimpannya, karena memorinya terlalu mahal untuk sekadar ditebus tukang rongsok. 

“Ya entah hanya jadi artefak di sudut rumah, atau bisa juga jadi lemari baju, yang jelas nggak akan dirongsokkan,” pungkas Muhdhor. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.